Survei: Jepang Kini Anggap AS Lebih Mengancam daripada Rusia
Masyarakat Jepang semakin memandang Amerika Serikat (AS) sebagai ancaman bagi perdamaian dunia dibandingkan Rusia.
Berdasarkan survei tahunan yang dirilis Japan Press Research Institute pada Sabtu (10/10/2026), sebanyak 26,8 persen responden menilai AS sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian dunia.
Angka tersebut meningkat 9,3 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya dan jauh lebih tinggi daripada 6,6 persen pada 2024.
Sementara itu, Rusia yang menempati posisi pertama pada 2025 turun ke peringkat ketiga dengan 18,3 persen suara.
China masih berada di posisi teratas dengan 32,5 persen suara, naik 8,2 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Korea Utara dan Iran melengkapi lima besar negara yang dinilai mengancam perdamaian dunia.
Survei tersebut melibatkan 5.000 responden yang diwawancarai pada Juli dan Agustus 2026.
Peneliti juga mengumpulkan pandangan responden mengenai Israel, Ukraina, dan Jepang sendiri.
Baca Juga: Iran Siapkan Perang Baru, AS Kerahkan Kapal Induk
Sikap Trump Dinilai Merusak Reputasi AS di Mata Jepang
Stephen Nagy, profesor hubungan internasional di International Christian University, Tokyo, mengatakan perubahan pandangan masyarakat Jepang terhadap AS berkaitan erat dengan Presiden Donald Trump.
“Ini semua tentang Trump, Trump, Trump,” kata Nagy, seperti dikutip South China Morning Post.
Menurut Nagy, selama dua tahun terakhir, masyarakat Jepang semakin khawatir terhadap perilaku Trump yang dinilainya tidak menentu, kurang memiliki pengetahuan, dan tidak menunjukkan ketertarikan terhadap banyak persoalan.
Ia menilai hasil survei tersebut lebih mencerminkan penilaian masyarakat Jepang terhadap presiden AS daripada sikap mereka terhadap militer AS atau warga Amerika secara umum.
Nagy mencontohkan perang di Iran yang menurutnya tidak diperlukan dan tidak berjalan dengan baik.
Masyarakat Jepang juga disebut khawatir terhadap sikap Trump yang memuji pemimpin Korea Utara Kim Jong Un serta minimnya hasil positif dari pertemuan terbarunya dengan Presiden China Xi Jinping.
“Semua ini telah memberikan pukulan besar terhadap reputasi AS,” ujar Nagy.
Penilaian negatif terhadap Trump juga terlihat dalam hasil survei tersebut.
Sebanyak delapan dari 10 responden menilai Trump memberikan dampak negatif terhadap dunia, sedangkan hanya 13,2 persen yang menganggapnya sebagai kekuatan positif.
Perempuan dan Generasi Muda Jepang Lebih Khawatir terhadap AS
Survei tersebut juga menunjukkan perbedaan pandangan berdasarkan usia dan jenis kelamin responden.
Sebanyak 32,1 persen perempuan Jepang menilai AS sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian dunia, lebih tinggi dibandingkan 26,7 persen yang memilih China.
Responden berusia 20 hingga 49 tahun, baik laki-laki maupun perempuan, juga menempatkan AS di atas China dalam daftar negara yang dianggap mengancam perdamaian dunia.
Sebaliknya, responden berusia 50 tahun ke atas menempatkan China di atas AS.
Nagy menduga perbedaan tersebut berkaitan dengan pengalaman masing-masing generasi.
Generasi yang lebih tua mungkin masih mengingat kemenangan AS atas Uni Soviet dalam Perang Dingin secara positif.
Sementara itu, generasi muda tumbuh dengan ingatan tentang serangan 11 September 2001, perang Irak, penarikan pasukan AS dari Afghanistan, serta hubungan Trump yang berubah-ubah dengan Ukraina.
Sumie Kawakami, dosen di Yamanashi Gakuin University, Jepang, sekaligus penulis buku tentang isu gender, mengatakan masyarakat Jepang secara umum telah kehilangan kepercayaan terhadap Trump.
Menurut Kawakami, Trump memulai perang dagang dan perang militer selama masa jabatan keduanya, serta menjatuhkan sanksi terhadap Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan presidennya, hakim asal Jepang Tomoko Akane.
Baca Juga: China dan Korea Utara Buka Jembatan Baru Setelah Tertunda 12 Tahun
Trump juga menjamu Xi dalam pertemuan tingkat tinggi di AS dan menggambarkan China sebagai sekutu Jepang dalam Perang Dunia II.
“Tidak ada yang tahu kapan dia tiba-tiba akan mengubah sikap,” kata Kawakami.
Menurutnya, ketidakpastian sikap Trump menempatkan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam posisi sulit.
Takaichi telah menyatakan dukungannya terhadap ICC karena lembaga tersebut merupakan bagian penting dari posisi Jepang dalam mendukung supremasi hukum internasional.
Masyarakat Jepang juga disebut mendukung sikap tersebut.
Namun, Kawakami mengatakan Takaichi tidak dapat mengambil langkah terlalu jauh hingga merusak hubungan dengan Trump, mengingat Jepang masih membutuhkan dukungan keamanan AS di kawasan.
Perdana menteri Jepang sebelumnya juga harus bersikap pragmatis dalam menjalin hubungan dengan Washington.
Meski demikian, menurut Kawakami, Takaichi menghadapi tantangan lebih besar dibandingkan para pendahulunya dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan AS.
