Kapal Berbendera Singapura Tenggelam Usai Tabrak Ranjau di Hormuz
Sebuah kapal kontainer berbendera Singapura, GFS Pride, dilaporkan terbakar dan tenggelam setelah menabrak ranjau di Selat Hormuz. Insiden tersebut disampaikan oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Rabu, di tengah meningkatnya ketegangan dan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Gambar yang dirilis memperlihatkan asap hitam tebal membumbung dari sebuah kapal. Sejumlah kontainer juga terlihat jatuh ke laut dan mengapung di permukaan air.
“Sebuah kapal kontainer yang mencoba melintasi Selat Hormuz melalui jalur pelayaran yang tidak sah dan berbahaya, menabrak ranjau yang kemudian meledak,” ungkap angkatan laut Garda Revolusi, dikutip dari AFP, Kamis (15/10/2026).
Baca Juga : Empat Kapal Diserang, Satu Tenggelam di Selat Hormuz
Perusahaan keamanan maritim Inggris, Vanguard, turut melaporkan tenggelamnya kapal tersebut. Selain GFS Pride, Vanguard menyebut tiga kapal lainnya menjadi sasaran serangan pada Selasa (13/10/2026). Dua kapal dilaporkan tetap melanjutkan perjalanan, sedangkan kondisi kapal lainnya belum diketahui.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) juga melaporkan dua kapal kontainer terkena proyektil pada hari yang sama. Meski mengalami kerusakan ringan, kedua kapal tersebut masih dapat melanjutkan pelayaran.
Sebelumnya, UKMTO menerima laporan mengenai dua serangan lain yang menyasar sebuah kapal tanker dan sebuah kapal kontainer. Namun, lembaga tersebut tidak merinci tingkat kerusakan maupun kemungkinan adanya korban jiwa dalam kedua insiden itu.
Seluruh Awak GFS Pride Berhasil Dievakuasi
Reuters melaporkan bahwa kapal kontainer GFS Pride memiliki kapasitas 2.824 unit setara dua puluh kaki (TEU). Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura (MPA) mengonfirmasi kapal tersebut mengalami kerusakan dan kebakaran sebelum akhirnya tenggelam.
“GFS Pride mengalami kerusakan dan kebakaran di atas kapal, yang kemudian menyebabkan kapal tersebut tenggelam,” bunyi pernyataan Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura (MPA).
“Seluruh 21 awak kapal berhasil dievakuasi dengan selamat. Tidak ada laporan mengenai korban luka,” tambahnya.
MPA menyampaikan keprihatinan mendalam atas serangan yang terus terjadi terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut. Otoritas Singapura itu juga mengecam tindakan yang dinilai membahayakan keselamatan pelayaran internasional.
Baca Juga : Ukraina Sebut AS Bantu Rusia Usai Starlink Melambat
MPA menyebut serangan itu “tidak diprovokasi, tidak dapat dibenarkan, dan merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional”.
Kapal Cape Dao Juga Tenggelam di Dekat Selat Hormuz
Selain GFS Pride, Reuters melaporkan kapal berbendera Antigua dan Barbuda, Cape Dao, juga tenggelam di dekat Selat Hormuz. Peristiwa tersebut terjadi beberapa minggu setelah kapal itu terkena proyektil pada 23 September 2026.
Menurut sumber maritim, satu awak Cape Dao tewas dalam insiden tersebut. Sementara itu, awak lainnya berhasil dievakuasi tidak lama setelah serangan terjadi.
Berdasarkan analisis data kecelakaan dari Organisasi Maritim Internasional (IMO), GFS Pride dan Cape Dao menjadi kapal kedua dan ketiga yang tenggelam sejak perang antara Amerika Serikat dan Iran dimulai pada 28 Februari 2026.
Konflik tersebut dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Sejak saat itu, Selat Hormuz menjadi salah satu titik rawan yang menghadapi ancaman terhadap keselamatan kapal dan kelancaran pelayaran internasional.
