AS Siaga Tinggi, Iran Diduga Siapkan Serangan Mematikan
Badan intelijen Amerika Serikat (AS) memperingatkan adanya dugaan rencana serangan Iran terhadap personel Amerika di luar negeri.
Rencana serangan tersebut dinilai telah memasuki tahap lanjut, sehingga Washington meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman.
Pemerintah AS juga mulai mengurangi jumlah staf diplomatik di sejumlah negara Timur Tengah. Peringatan ini muncul ketika AS dan Israel dilaporkan mempertimbangkan operasi militer baru terhadap Iran.
Baca Juga: Kerusuhan Demo di Prancis, Polisi Tangkap Hampir 1.000 Orang
Intelijen AS Ungkap Dugaan Rencana Serangan Iran
Peringatan mengenai dugaan rencana serangan Iran tercantum dalam memo Direktur Intelijen Nasional AS Jay Clayton kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera pada Sabtu (24/10/2026).
Dalam dokumen tersebut, Clayton menyebut Iran telah meningkatkan upaya secara signifikan untuk menargetkan personel AS di luar negeri.
Badan intelijen AS menilai rencana serangan mematikan Iran telah memasuki tahap lanjut, baik di Timur Tengah maupun di wilayah lainnya.
Menurut sejumlah pejabat AS yang dikutip The New York Times (NYT), ancaman terhadap diplomat, termasuk duta besar, telah dievaluasi selama beberapa pekan terakhir.
Iran juga diduga telah menentukan sejumlah target potensial di Eropa, sementara informasi intelijen lainnya mengindikasikan keberadaan agen Iran di wilayah AS.
Meski demikian, Washington belum memberikan pernyataan resmi mengenai memo tersebut.
Seorang pejabat AS mengonfirmasi keaslian dokumen itu kepada NYT, tetapi pejabat lainnya meragukan kemampuan Iran untuk menjalankan seluruh rencana serangannya.
Menurut NYT, ancaman Iran terhadap warga Amerika di Timur Tengah kini berada pada tingkat tertinggi sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada Februari 2026.
Situasi semakin memanas setelah muncul laporan mengenai kemungkinan operasi militer baru AS dan Israel setelah pemilihan paruh waktu Amerika pada November mendatang.
Pada Jumat (23/10/2026), Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan bahwa negaranya mungkin akan melakukan satu lagi “amukan epik” kecil (epic fury).
Pernyataan tersebut merujuk pada nama sandi operasi militer AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026.
AS Kurangi Staf Diplomatik, Iran Ancam Ubah Strategi Militer
Meningkatnya ancaman membuat Washington mengurangi kehadiran diplomatiknya di sejumlah negara Timur Tengah.
Pada Rabu (21/10/2026), Departemen Luar Negeri AS mengumumkan penarikan staf non-esensial dari Kedutaan Besar AS di Arab Saudi.
Keputusan tersebut berkaitan dengan meningkatnya serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap infrastruktur Arab Saudi.
Menurut CNN, pengurangan staf juga dilakukan di kedutaan AS di Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Yordania, dan Lebanon.
Seorang pejabat AS menyebut ancaman Houthi serta dugaan rencana serangan Iran terhadap pejabat Amerika menjadi pertimbangan Washington.
Iran belum memberikan tanggapan langsung terhadap laporan mengenai memo intelijen AS.
Namun, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa Teheran akan menerapkan strategi “ofensif” apabila AS kembali menyerang.
Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, mengatakan Iran tidak akan lagi membatasi operasi militernya pada serangan balasan.
Ia juga menyebut kemampuan rudal Iran telah meningkat dari segi kualitas, jangkauan, dan daya rusak.
Reuters melaporkan, dua pejabat tinggi keamanan Iran mengungkapkan adanya rencana untuk menyerang kabel komunikasi bawah laut di kawasan Teluk jika perang kembali terjadi.
Kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, sebelumnya turut memperingatkan bahwa pusat data dan fasilitas kecerdasan buatan dapat menjadi sasaran.
Baca Juga: Warga AS Tolak Rp154 Juta demi Hentikan Proyek AI
Sementara itu, Pentagon mengonfirmasi bahwa 21 personel militer AS tewas di Timur Tengah sejak perang melawan Iran dimulai.
Tuduhan mengenai rencana serangan Iran terhadap warga Amerika bukan pertama kalinya muncul.
Pada Maret 2026, pengadilan AS menyatakan seorang warga Pakistan bersalah karena merencanakan pembunuhan Trump dan sejumlah politisi Amerika atas perintah IRGC.
Sebelumnya, pada 2022, seorang anggota IRGC didakwa atas dugaan upaya pembunuhan mantan Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton.
Departemen Kehakiman AS menyebut tersangka berupaya menawarkan 300.000 dollar AS untuk melaksanakan pembunuhan tersebut.
Kekhawatiran terbaru juga mendorong AS menarik pesawat pengebom dari sebuah pangkalan di Inggris pada Oktober 2026.
Langkah itu menyusul insiden keamanan dan penangkapan sejumlah pria oleh otoritas Inggris atas dugaan bekerja sama dengan intelijen Iran,
