AS Sepakati Penjualan 500 Rudal Patriot ke Ukraina
Amerika Serikat (AS) menyetujui rencana penjualan 500 rudal pencegat Patriot kepada Ukraina dengan nilai mencapai 2,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp35 triliun. Meski demikian, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan bahwa proses pengiriman persenjataan tersebut berpotensi memakan waktu hingga beberapa tahun.
Persetujuan penjualan rudal diumumkan Departemen Luar Negeri AS pada Jumat (30/10/2026). Tambahan persenjataan ini dibutuhkan Kyiv untuk menghadapi serangan rudal balistik Rusia yang semakin intensif, terutama menjelang musim dingin.
Dikutip dari BBC, Sabtu (31/10/2026), Zelensky menyambut keputusan Washington tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa Ukraina membutuhkan pasokan rudal pertahanan udara dalam waktu dekat.
Menurutnya, menunggu pengiriman hingga bertahun-tahun akan menyulitkan Ukraina ketika Rusia terus melancarkan serangan terhadap berbagai infrastruktur penting.
AS Setujui Penjualan 500 Rudal Patriot Senilai Rp35 Triliun
Departemen Luar Negeri AS menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut mencakup pengadaan 500 rudal pencegat Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3). Persenjataan ini merupakan bagian dari sistem pertahanan udara Patriot yang dirancang untuk menghadapi berbagai ancaman dari udara, termasuk rudal balistik.
Baca Juga : Korut Ancam Sebarkan Propaganda ke Korea Selatan
Pemerintah AS menyebut penjualan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan Ukraina dalam melindungi wilayahnya dari serangan Rusia.
“Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan negara mitra yang menjadi kekuatan bagi stabilitas politik dan ekonomi di Eropa,” demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS.
Tambahan rudal tersebut juga diharapkan dapat memperkuat sistem pertahanan udara yang selama ini digunakan Ukraina.
Perusahaan pertahanan AS, Lockheed Martin, ditunjuk sebagai kontraktor utama dalam pengadaan tersebut. Kendati telah mendapatkan persetujuan Departemen Luar Negeri, transaksi masih harus melewati proses peninjauan oleh Kongres AS.
Kanada hingga Jerman Biayai Pembelian Rudal
Meskipun rudal Patriot diproduksi di Amerika Serikat, pemerintah Washington tidak akan menggunakan anggaran negaranya untuk membiayai transaksi tersebut.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan seluruh biaya pengadaan akan ditanggung melalui kontribusi negara-negara sekutu Ukraina. Kanada, Jerman, dan Norwegia termasuk negara yang akan memberikan dukungan pendanaan.
Dana dari ketiga negara tersebut akan disalurkan melalui program JUMPSTART untuk memenuhi kebutuhan pertahanan Ukraina. Pembelian juga memanfaatkan dana nasional Ukraina yang didukung program pinjaman Uni Eropa, yakni Ukraine Support Loan.
“Ukraina akan membayar pembelian ini menggunakan donasi dari Kanada, Jerman, dan Norwegia melalui program JUMPSTART serta dana nasional yang dibiayai melalui Ukraine Support Loan dari Uni Eropa,” kata Departemen Luar Negeri AS.
Washington menegaskan bahwa tidak ada anggaran pemerintah AS yang digunakan untuk membiayai transaksi tersebut. Skema ini memungkinkan Ukraina mendapatkan tambahan persenjataan buatan Amerika dengan dukungan finansial dari negara-negara mitranya.
Zelensky Khawatir Pengiriman Rudal Memakan Waktu Bertahun-tahun
Di balik persetujuan penjualan tersebut, Zelensky masih mengkhawatirkan lamanya proses pengiriman rudal Patriot ke Ukraina.
Ia menegaskan bahwa negaranya membutuhkan persenjataan tersebut secepat mungkin untuk menghadapi serangan Rusia yang terus berlangsung.
Sebelumnya, Zelensky mengungkapkan bahwa Ukraina telah menunggu hampir satu bulan untuk mendapatkan persetujuan Washington terkait pasokan rudal. Ia juga berulang kali meminta pemerintah AS mempercepat pengiriman karena persediaan rudal pencegat negaranya semakin menipis.
Hingga kini, belum ada jadwal pasti mengenai pengiriman 500 rudal tersebut. BBC melaporkan bahwa pesanan kemungkinan akan dipenuhi menggunakan rudal hasil produksi baru, bukan dengan mengambil langsung dari persediaan yang sudah tersedia.
Kondisi tersebut membuat pengiriman dalam waktu singkat sulit dilakukan. Terlebih, proses pembuatan rudal Patriot membutuhkan waktu dan fasilitas produksi khusus.
Berdasarkan data Departemen Pertahanan AS yang dikutip BBC, kapasitas produksi rudal Patriot mencapai sekitar 600 unit setiap tahun. Sementara itu, permintaan dari berbagai negara terus meningkat.
Ukraina Butuh Patriot untuk Menghadapi Serangan Rudal Rusia
Sistem pertahanan udara Patriot menjadi salah satu persenjataan penting bagi Ukraina dalam menghadapi serangan Rusia. Rudal pencegat tersebut digunakan untuk menghancurkan ancaman balistik yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar pada kawasan permukiman maupun infrastruktur strategis.
Zelensky menyebut Rusia semakin meningkatkan serangan terhadap jaringan energi Ukraina menjelang musim dingin. Dalam dua pekan terakhir, lebih dari 30 serangan dilaporkan menyasar bagian penting dari sistem kelistrikan negara tersebut.
Serangan berulang itu menimbulkan kekhawatiran terhadap ketersediaan listrik dan pemanas bagi masyarakat ketika suhu mulai turun.
Pada Jumat malam, Zelensky kembali menekankan pentingnya tambahan rudal Patriot untuk memperkuat perlindungan wilayah Ukraina. Ia menyambut keputusan pemerintah AS, tetapi meminta agar proses pengiriman tidak berlarut-larut.
Kebutuhan terhadap rudal pencegat semakin mendesak karena sistem pertahanan udara Ukraina harus menghadapi serangan Rusia yang terus berulang.
Pasokan Rudal Patriot Terbatas akibat Perang Iran
Keterbatasan persediaan global menjadi salah satu hambatan dalam mempercepat pengiriman rudal Patriot ke Ukraina.
Permintaan terhadap persenjataan tersebut meningkat setelah Amerika Serikat menggunakannya dalam perang melawan Iran. Akibatnya, ketersediaan rudal pencegat di pasar internasional semakin terbatas.
Selain tingginya permintaan, produksi rudal berteknologi tinggi itu membutuhkan fasilitas khusus dan waktu pengerjaan yang tidak singkat.
BBC melaporkan bahwa hingga kini belum ada kepastian mengenai jadwal produksi maupun pengiriman untuk memenuhi pesanan terbaru Ukraina. Karena pengadaan diperkirakan mengandalkan rudal baru, Kyiv kemungkinan tidak bisa menerima seluruh persenjataan tersebut dalam waktu dekat.
Pada Juli 2026, Trump juga menyatakan bahwa pemerintahannya belum memberikan lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi rudal Patriot secara mandiri.
Pernyataan itu muncul sekitar tiga pekan setelah Trump sebelumnya membuka kemungkinan produksi rudal tersebut di Ukraina.
Belum adanya kepastian mengenai produksi dalam negeri membuat Kyiv masih bergantung pada pasokan dari Amerika Serikat dan dukungan negara-negara sekutunya.
Hubungan Trump dan Zelensky Sempat Memanas
Persetujuan penjualan rudal Patriot diumumkan setelah hubungan Trump dan Zelensky sempat mengalami ketegangan pada awal Oktober 2026.
Perselisihan tersebut meningkat ketika Washington melonggarkan sejumlah sanksi terhadap Rusia sebagai bagian dari kesepakatan untuk memperoleh pasokan solar dari negara tersebut.
Trump juga sempat menyampaikan bahwa Ukraina membutuhkan pemimpin baru agar dapat mencapai kesepakatan damai dengan Rusia. Pernyataan itu menambah ketegangan hubungan Washington dan Kyiv di tengah perang yang belum berakhir.
Namun, hubungan kedua negara dilaporkan mulai membaik setelah Zelensky mengadakan pertemuan dengan utusan AS di Oslo, Norwegia, pada 20 Oktober.
Persetujuan terbaru mengenai penjualan rudal Patriot menjadi salah satu perkembangan dalam kerja sama pertahanan kedua negara. Meski demikian, Ukraina masih harus menghadapi tantangan untuk memastikan persenjataan tersebut dapat diterima sesuai kebutuhan di medan perang.
Perang Rusia-Ukraina Masih Berlangsung
Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022. Sebelum invasi tersebut, Moskwa telah merebut Semenanjung Krimea dan menguasai sebagian wilayah Donbas di Ukraina timur.
Sejak saat itu, kedua negara terus terlibat dalam konflik bersenjata yang menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa dalam jumlah besar.
Baca Juga : Korut Siapkan Senjata Baru, Ketegangan dengan Korsel Naik
Di tengah berbagai upaya diplomatik untuk mengakhiri perang, serangan udara Rusia terhadap wilayah Ukraina masih berlanjut. Sejumlah negara Eropa juga terus memberikan bantuan militer dan dukungan keuangan kepada Kyiv.
Dalam pertemuan para menteri luar negeri G20 di Atlanta, Amerika Serikat, sejumlah diplomat Eropa bahkan menyampaikan protes terhadap kehadiran Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. Mereka menolak mengikuti sesi foto bersama sebagai bentuk penolakan terhadap perang Rusia di Ukraina.
Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband turut menyampaikan kritik secara langsung kepada Rusia dalam pertemuan tersebut.
“Izinkan saya menyampaikan ini secara langsung kepada Menteri Luar Negeri Rusia: Kita semua tahu siapa agresor dalam perang ini,” katanya.
Sementara itu, pemerintah Ukraina berharap tambahan 500 rudal Patriot dapat memperkuat kemampuan pertahanan udaranya. Namun, persetujuan penjualan belum menjamin persenjataan tersebut akan segera tiba di Kyiv.
Di tengah meningkatnya serangan Rusia menjelang musim dingin, kepastian dan kecepatan pengiriman rudal menjadi tantangan penting bagi Ukraina.
