Alasan Purbaya Terus Tambah Uang di Perbankan Terungkap
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan alasan pemerintah terus menambah penempatan dana menganggur yang sebelumnya disimpan di Bank Indonesia (BI) ke perbankan.
Langkah tersebut kembali jadi sorotan setelah dana ratusan triliun rupiah digelontorkan dalam waktu berdekatan pada September dan Oktober 2025.
Pada September, pemerintah memindahkan dana sekitar Rp 200 triliun ke bank-bank Himbara. Sebulan kemudian, penempatan dana kembali ditambah Rp 76 triliun, disusul penempatan baru ke Bank Pembangunan Daerah (BPD) seperti Bank Jakarta.
Baca Juga: Kapolri Usut Asal Kayu Gelondongan Penyebab Banjir
Menurut Purbaya, kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga pertumbuhan uang primer (M0) yang anjlok secara tiba-tiba pada Oktober 2025.
“Pas September itu kan M0 tumbuh 13 persen, tapi di Oktober tiba-tiba turun lagi base money-nya, primary money-nya, turun lagi ke 7 persen. Saya juga bingung kenapa tuh,” ujar Purbaya dalam CNBC Indonesia Financial Forum di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/12/2025).
Likuiditas Ketat, Pemerintah Turun Tangan
Purbaya mengaku belum mengetahui pasti penyebab melemahnya pertumbuhan M0, yang semestinya menopang aktivitas ekonomi riil.
Ia menduga adanya kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) serta arus dana perbankan yang kembali masuk ke instrumen SRBI turut menekan likuiditas.
Meski penyebabnya belum jelas, ia menekankan bahwa stabilitas sistem keuangan perlu segera dijaga.
Baca Juga: Saham Gorengan di Pasar Modal Diminta Dibereskan OJK oleh Purbaya
Karena itu, pemerintah memilih kembali menginjeksikan likuiditas melalui penempatan dana pemerintah di perbankan.
“Saya enggak peduli, saya inject lagi Rp 76 triliun. Mudah-mudahan November naik. Tapi saya dengar ya di perbankan ketat lagi, yield SBN naik, bank-bank sudah bilang juga,” ucap Purbaya.
Kebijakan penempatan dana ini diharapkan mampu menambah ruang gerak perbankan untuk menyalurkan kredit, menstabilkan pasar keuangan, serta mendorong pemulihan ekonomi.
