Dubes AS Bongkar Cara Xi Jinping Kendalikan Militer China
Duta Besar Amerika Serikat untuk China, David Perdue, menilai langkah Presiden China Xi Jinping membersihkan jajaran jenderal senior merupakan upaya pengamanan kendali penuh atas militer, sekaligus melanjutkan agenda pemberantasan korupsi yang telah berlangsung lama.
Dalam wawancaranya dengan Bloomberg Television, di sela konferensi Goldman Sachs di Hong Kong, Selasa, Perdue menyebut penyelidikan terhadap Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC), Zhang Youxia, sebagai perkembangan signifikan. Ia menyoroti posisi strategis Zhang yang memiliki hubungan keluarga dengan Xi, sehingga kasus tersebut dianggap berdampak besar terhadap dinamika internal militer China.
Otoritas China sebelumnya mengumumkan, bahwa Zhang tengah diselidiki atas dugaan pelanggaran disiplin dan hukum yang serius, meski tidak merinci tuduhan yang dimaksud.
Baca Juga : Kapal Asing Tolak Bayar Pajak, INSA Lapor ke Purbaya
Menurut Perdue, Xi secara terbuka memang menyatakan komitmennya untuk memberantas korupsi yang telah mengakar puluhan tahun di tubuh militer.
Perdue mengatakan dirinya percaya bahwa kampanye antikorupsi tersebut benar-benar dijalankan. Namun, di saat yang sama, ia menilai Xi juga sedang memastikan bahwa seluruh struktur militer berada sepenuhnya di bawah kendalinya. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat terus memantau perkembangan tersebut secara cermat.
Saat ditanya mengenai laporan Wall Street Journal yang menyebut Zhang diduga membocorkan rahasia program senjata nuklir China kepada AS, Perdue tidak memberikan jawaban langsung. Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, mengaku tidak mengetahui laporan tersebut ketika dimintai tanggapan dalam konferensi pers rutin pada Senin.
Penyelidikan ini membuat hanya dua dari tujuh anggota Komisi Militer Pusat China yang tersisa, setelah kasus serupa juga menjerat Kepala Departemen Staf Gabungan, Liu Zhenli. Situasi ini menandai salah satu periode paling bergejolak dalam kepemimpinan militer China dalam beberapa tahun terakhir.
Meski Beijing tengah menghadapi gejolak internal, Perdue menilai hubungan AS–China justru menunjukkan perkembangan positif secara multidimensi. Ia menyebut kemajuan tersebut mulai terlihat sejak pertemuan Presiden Xi Jinping dengan Presiden AS Donald Trump di Busan, Korea Selatan, pada Oktober lalu.
Perdue menjelaskan bahwa kedua negara kini tengah mengupayakan sejumlah kesepakatan baru menjelang rencana kunjungan Trump ke China pada April mendatang. Salah satu kesepakatan yang disinggung melibatkan perusahaan kedirgantaraan AS, Boeing.
Menurutnya, strategi utama Washington dalam fase ini adalah menciptakan ruang dan waktu melalui gencatan senjata yang sedang berlangsung. Ia mengatakan para negosiator perdagangan, termasuk Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dan Wakil Perdana Menteri China, He Lifeng, telah mencatatkan kemajuan signifikan dalam perundingan.
Perdue juga menyampaikan optimisme terkait kepatuhan kedua negara terhadap gencatan senjata, terutama dalam isu bahan baku fentanil dan pembelian kedelai oleh China. Ia menyebut sebagian besar kesepakatan yang dicapai di Busan telah berhasil direalisasikan.
Baca Juga : BEI Buka Suara Terkait Klaim Danantara Masuk Bursa
Selain isu perdagangan dan keamanan, Perdue menyinggung kasus mantan taipan media Hong Kong sekaligus aktivis demokrasi, Jimmy Lai, yang saat ini dipenjara. Ia mengonfirmasi bahwa Presiden Trump telah secara langsung meminta pembebasan Lai atas dasar kemanusiaan.
Meski demikian, Perdue mengatakan pembahasan mengenai kasus tersebut masih berlangsung di tingkat kepala negara. Ia mengaku belum melihat adanya perkembangan terbaru, namun menegaskan bahwa isu tersebut tetap menjadi bagian dari dialog berkelanjutan antara Washington dan Beijing.

[…] Dubes AS Bongkar Cara Xi Jinping Kendalikan Militer China […]