Usai Aturan Free Float 15%, OJK Pertimbangkan Revisi Target IPO
Kebijakan kenaikan batas free float sebesar 15 persen dan volatilitas pasar dinilai akan mempengaruhi minat perusahaan untuk melakukan Initial Public Offering (IPO). Bahkan, target IPO disebut dapat dipangkas pada tahun ini.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, kebijakan itu bisa mempengaruhi pencapaian target IPO. Walaupun begitu, ia menegaskan bahwa OJK saat ini lebih mengutamakan prinsip kualitas dibandingkan kuantitas emiten baru.
Dia mengatakan, dalam kerangka reformasi dan penguatan integritas pasar modal, OJK akan lebih berfokus menghadirkan perusahaan tercatat yang berkualitas. Dengan begitu, dimungkinkan jumlah IPO menjadi terbatas dalam jangka pendek.
“Kalau itu (perbaikan target IPO) menjadi konsekuensi, akan kami lakukan. Karena nanti kewajiban pemenuhan besaran free float kalau dilihat nanti di Peraturan bursanya kemungkinan akan kita berlakukan sejak awal untuk yang IPO baru,” terang Hasan di Press Room BEI, Jakarta, Selasa, (3/2/2026).
“Tentu nanti perusahaan yang berminat untuk lebih memberikan kesempatan porsi publik memiliki lebih besar tentu akan tetap menjalankan rencana IPO-nya,” lanjut dia.
Baca Juga: Purbaya Sebut Sebentar Lagi Juga Naik. Terkait Rebound IHSG
Kenaikan Free Float Diharapkan Disambut Baik oleh Publik
Hasan meyakini dampak pembatasan kuantitas IPO hanya bersifat sementara sekaligus tidak mengubah prospek jangka panjang pasar modal Indonesia. Dalam jangka panjang, ia berharap pasar akan lebih menarik dibandingkan sebelumnya.
Meski begitu, OJK berharap kebijakan kenaikan free float disambut positif oleh calon emiten. Sebab, ketentuan itu merupakan standar internasional yang juga diterapkan oleh bursa-bursa utama dunia.
“Tapi kami harapkan justru mereka (calon emiten) menyambut ini dengan baik juga. Kita lihat apakah kalau terlanjur diberlakukan peraturannya tentu mereka harus mengikuti apa yang menjadi bagian dari yang diatur lebih lanjut di peraturan bursanya,” tutur Hasan.
Ia menilai, peningkatan porsi saham yang dimiliki publik bertujuan menguatkan daya tarik pasar modal. BEI diharapkan semakin kompetitif sekaligus menarik bagi investor dengan ketersediaan saham publik yang memadai.
Baca Juga: Prabowo Tekankan Non-Blok dan Berdikari, Soal Ancaman PD III
Target 50 IPO Baru di 2026
Sebelumnya, BEI menetapkan target IPO sejumlah 50 saham baru di tahun 2026. Dari target tersebut, 6 diantaranya adalah emiten berkapitalisasi jumbo atau lighthouse.
Eks Direktur BEI Iman Rachman ketika masih menjabat menuturkan, BEI telah menetapkan beberapa target berdasarkan asumsi makro ekonomi dan global. Salah satunya yaitu Rata-rata Transaksi Harian (RNTH) mencapai Rp15 triliun. Selain itu, dari sisi pencatatan, efek diproyeksikan sebesar 505 efek.
“Pencatatan efek di 2026 diantaranya 50 saham baru. BEI mengupayakan berbagai hal dan kanal distribusi informasi, dan target investor tambah 2 juta investor baru di 2026,” ujar Iman dalam pembukaan perdagangan saham tahun 2026, di Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Lebih jauh, dia menjelaskan kisi-kisi emiten yang akan melantai di bursa. Meski demikian, ia mengaku belum ada pembahasan tentang kemungkinan IPO BUMN.
“Lighthouse enam (emiten). Iya (dari konglomerat),” pungkas dia.
Baca Juga: Keracunan Hanya 0,0007 Persen, Prabowo Sebut MBG Sukses

[…] Usai Aturan Free Float 15%, OJK Pertimbangkan Revisi Target IPO […]