Iran Siap Negosiasi Nuklir di Tengah Ultimatum Trump
Negosiasi mengenai kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran dikabarkan tengah dipersiapkan. Sinyal diplomasi ini muncul di tengah meningkatnya tekanan militer AS, disertai peringatan keras dari Presiden Donald Trump yang mengancam konsekuensi serius apabila kesepakatan gagal tercapai.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberi indikasi bahwa dialog dengan Washington dapat segera dimulai. Pernyataan tersebut disampaikan bersamaan dengan laporan bahwa kedua negara sedang mempersiapkan pertemuan tingkat tinggi yang rencananya akan digelar di Istanbul dalam waktu dekat.
Dikutip dari The Guardian pada Selasa (3/2/2026), Araghchi menegaskan bahwa Iran selalu membuka diri terhadap jalur diplomasi, asalkan dilakukan atas dasar saling menghormati dan mempertimbangkan kepentingan masing-masing pihak.
Baca Juga : Danantara Diapresiasi Bank Dunia, Sebut RI Makin Menarik di Mata Asing
Sikap kooperatif dari Tehran ini muncul di tengah peningkatan kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk pengerahan kapal perang dan pesawat tempur. Trump mengakui bahwa komunikasi dengan Iran memang sedang berlangsung, meski ia tetap membuka kemungkinan penggunaan opsi militer.
“Saat ini kami memiliki kapal-kapal besar, yang terbesar dan terbaik, menuju kawasan Iran. Kami sedang berbicara dengan Iran. Jika kita bisa mencapai kesepakatan, itu akan sangat bagus. Jika tidak, mungkin hal-hal buruk akan terjadi,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Senin waktu setempat.
Menurut kantor berita semi-resmi Iran, Fars, Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menginstruksikan agar pembicaraan nuklir dengan AS segera dimulai. Sementara itu, utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dilaporkan akan melakukan serangkaian pertemuan di kawasan, termasuk dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Meski jadwal resmi belum diumumkan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa beberapa pembahasan awal telah dilakukan.
“Beberapa poin sudah dibicarakan dan kami sedang menyelesaikan detail setiap tahap proses diplomatik, yang kami harapkan rampung dalam beberapa hari mendatang,” ujarnya.
Situs berita AS Axios, melaporkan bahwa Witkoff dan Araghchi dijadwalkan bertemu di Istanbul pada Jumat mendatang, bersama perwakilan dari sejumlah negara Arab dan Muslim. Reuters menyebut delegasi dari Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir juga akan turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Apabila terlaksana, pertemuan itu akan menjadi kontak langsung pertama antara pejabat tinggi AS dan Iran sejak terjadinya konflik bersenjata pada Juni lalu, ketika Israel dan AS menyerang fasilitas nuklir serta rudal balistik Iran. Dalam peristiwa tersebut, Iran membalas dengan meluncurkan ratusan rudal balistik ke wilayah Israel.
Trump mendorong tercapainya kesepakatan baru yang bertujuan menghentikan produksi uranium dengan tingkat pengayaan tinggi serta membatasi program rudal balistik Iran. Namun, pernyataannya yang juga menyinggung kemungkinan perubahan rezim di Tehran memicu kekhawatiran akan potensi memanasnya konflik di kawasan.
Reuters melaporkan bahwa pemerintah Iran kini semakin cemas, bahwa serangan terbatas dari AS dapat memicu kembali gelombang protes domestik, di tengah tekanan ekonomi yang berat akibat inflasi tinggi, dan melemahnya nilai mata uang. Kondisi tersebut membuat upaya diplomasi menjadi semakin penting bagi kedua negara.
Baca Juga : OJK Pertimbangkan Revisi Target IPO, Usai Aturan Free Float 15%

[…] Baca Juga: Di Tengah Ultimatum Trump, Iran Siap Negosiasi Nuklir […]