BI Optimis Rupiah Menguat, Syaratnya Ekonomi Sustain
Nilai tukar rupiah yang sempat melemah dalam beberapa pekan terakhir mulai menunjukkan penguatan. Bank Indonesia (BI) pun optimis tren apresiasi rupiah akan berlanjut ke depan, seiring dengan fundamental ekonomi nasional yang dinilai tetap solid.
Pada Senin (9/2/2026), rupiah di pasar spot menguat 0,42 persen secara harian ke level Rp 16.805 per dolar AS. Berdasarkan kurs Jisdor BI, rupiah juga terapresiasi 0,29 persen ke posisi Rp 16.838 per dolar AS.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, arah penguatan rupiah sangat bergantung pada kondisi perekonomian Indonesia dan dukungan seluruh pemangku kepentingan.
“Ayo bersama-sama kita support nilai tukar kita ini, karena inilah, bukan hanya ini kedaulatan kita suatu negara, tapi inilah yang akan memberikan jaminan ekonomi kita ini akan bisa lebih tumbuh dan lebih sustain. Tumbuhnya berkelanjutan, ini yang tentu kita harapkan,” tutur Destry dalam acara Economic Outlook 2026, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: Penyebab Bank Pilih Parkir Dana di Investasi Diungkap Bos OJK
BI Ajak Industri dan Perbankan Jaga Rupiah
Destry menegaskan, menjaga stabilitas nilai tukar tidak bisa dilakukan BI sendiri. Ia meminta dukungan pelaku industri, perbankan, hingga korporasi agar rupiah tetap bergerak stabil.
Sebagai regulator, BI akan terus berada di pasar keuangan untuk memastikan pergerakan rupiah sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi dan inflasi tetap terkendali.
Menurutnya, stabilitas nilai tukar bukan sekadar soal angka, tetapi juga menyangkut kedaulatan dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.
Faktor Global dan Keyakinan Konsumen Dorong Penguatan
Di sisi lain, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah turut dipengaruhi sentimen global, khususnya perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Washington dan Teheran menyatakan bahwa pembicaraan nuklir tidak langsung akan berlanjut setelah diskusi yang dinilai positif di Oman. Hal tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik militer di kawasan tersebut.
Baca Juga: Demo Tolak Kunjungan Presiden Israel, Tetangga RI Chaos!
“Namun, kemungkinan perang habis-habisan di Timur Tengah sekarang tampak lebih kecil, meskipun Teheran memberi sinyal bahwa mereka akan tetap melanjutkan program pengayaan nuklirnya,” terang Ibrahim, Senin (9/2/2026).
Meredanya tensi geopolitik membuat premi risiko terhadap minyak menurun, sehingga tekanan terhadap pasar keuangan, termasuk rupiah, ikut berkurang.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga berperan dalam menopang pergerakan rupiah. Diketahui, kenaikan IKK 3,5 poin dari 123,5 pada Desember 2025 menjadi 127 pada Januari 2026, dinilai sebagai yang tertinggi selama setahun terakhir.
IKK merupakan indikator untuk memprediksi perkembangan konsumsi dan tabungan rumah tangga dengan nilai acuan 100.
“Artinya indeks kepercayaan konsumen pada Januari 2026 berada di zona optimistis atau di atas nilai acuan,” tutur dia.
Ia menilai, meningkatnya optimisme konsumen menjadi sinyal positif bagi aktivitas ekonomi, yang pada akhirnya dapat memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca Juga: KSSK Akui Ada Miskomunikasi Kebijakan kala Outlook Utang RI Disorot

[…] BI Optimis Rupiah Menguat, Syaratnya Ekonomi Sustain […]