Netanyahu Mendadak ke AS, Desak Trump Batasi Rudal Iran
Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Gedung Putih pada Rabu (11/2/2026), di tengah meningkatnya kekhawatiran Israel atas kemungkinan tercapainya kesepakatan diplomatik baru antara Washington dan Teheran.
Kunjungan mendadak Perdana Menteri Israel itu disebut bertujuan mendesak Trump agar tidak hanya menerima kesepakatan nuklir yang terbatas, melainkan juga menekan aktivitas militer Iran di Timur Tengah serta program rudal balistiknya.
Di sisi lain, Trump tengah menimbang opsi diplomasi maupun tekanan militer terhadap Iran.
Baca Juga: Bukan Iran, Trump Bocorkan Target Serangan Darat AS
Israel Desak AS Jangan Terima Kesepakatan “Sempit”
Ketegangan meningkat setelah Trump mengerahkan kapal perang dan jet tempur AS di dekat Iran sebagai respons atas tindakan keras Teheran terhadap protes massal pada akhir Desember dan Januari.
Ia bahkan mengatakan kepada Axios tengah mempertimbangkan pengiriman kelompok kapal induk kedua ke Timur Tengah jika negosiasi dengan Iran gagal.
Namun, pernyataan Trump soal ruang lingkup kesepakatan memicu kekhawatiran di Israel. Setelah pembicaraan awal dengan Iran di Oman, Trump menyebut kesepakatan yang hanya mencakup isu nuklir “akan diterima”.
Bagi Netanyahu, pendekatan itu dinilai terlalu sempit. Ia melihat momentum saat ini sebagai peluang untuk sekaligus melumpuhkan program rudal balistik Iran dan menghentikan dukungan Teheran terhadap kelompok milisi seperti Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, dan Houthi di Yaman.
“Saya pikir pesan utama yang akan disampaikan perdana menteri kepada Trump bahwa tidak ada nilai besar dalam bernegosiasi dengan Iran,” ujar Menteri Energi Israel Eli Cohen kepada radio Kan.
“Iran belum pernah memenuhi komitmen apa pun yang telah dibuatnya,” lanjut dia.
Netanyahu sendiri menegaskan setiap negosiasi dengan Iran “harus mencakup pembatasan terhadap rudal balistik dan penghentian dukungan terhadap poros Iran.”
Menteri Kabinet Keamanan Israel, Miri Regev, bahkan memperingatkan, “Semoga Tuhan membantu kita jika kita melewatkan kesempatan ini, ketika warga di sana melakukan segala yang mereka bisa dan orang-orang yang menentang rezim dibunuh.”
“Mari kita selesaikan pekerjaan ini,” tambah dia.
Baca Juga: Iran Sebut Dialog Negosiasi Nuklir Jadi Ujian Keseriusan AS
Gedung Putih Redam Isu Perpecahan
Menjelang pertemuan, Gedung Putih berupaya meredam spekulasi adanya perbedaan tajam antara kedua sekutu.
“Presiden Trump dan Perdana Menteri Netanyahu memiliki hubungan yang sangat baik, dan Israel tidak pernah memiliki teman yang lebih baik dalam sejarahnya daripada Presiden Trump,” kata juru bicara Gedung Putih Anna Kelly.
Jonathan Panikoff dari Atlantic Council menilai Netanyahu kemungkinan akan mendorong Trump agar tidak menerima kesepakatan yang dianggap lemah.
“Israel khawatir bahwa keinginan presiden untuk mengklaim kemenangan melalui kesepakatan yang dinegosiasikan akan mengesampingkan implikasi dan nuansa di lapangan,” tutur dia.
Daniel Shapiro, mantan duta besar AS untuk Israel, menilai Trump sendiri belum sepenuhnya menentukan pilihan.
“Dia menginginkan kesepakatan, tetapi dia tidak bisa mendapatkan kesepakatan yang baik,” kata Shapiro.
“Dia mengancam akan menghukum rezim atas pembunuhan para demonstran, tetapi dia tidak bisa menjatuhkan rezim tersebut. Dan dia membawa kekuatan militer yang kuat ke Timur Tengah, tetapi dia lebih menyukai serangan singkat, cepat, dan kuat, dan tidak ingin terlibat dalam perang panjang untuk mengganti rezim,” lanjut dia.
Baca Juga: Kapal Dekat Selat Hormuz Diingatkan AS, Sinyal Serang Iran?
Risiko Militer dan Agenda Gaza
Setiap langkah militer terhadap Iran dinilai berisiko tinggi. Teheran telah memperingatkan bahwa serangan AS dapat memicu perang regional, termasuk serangan balasan terhadap Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Ketegangan ini turut mendorong harga minyak Brent naik hampir 14 persen tahun ini hingga di atas 69 dollar AS per barel.
Analis RBC Capital Markets menilai kekhawatiran lonjakan harga minyak bisa mendorong Gedung Putih lebih memilih jalur diplomatik.
Sementara itu, pembicaraan AS-Iran yang dimediasi di Oman disebut berjalan positif, meski Iran bersikeras pembahasan hanya fokus pada isu nuklir.
Selain isu Iran, Netanyahu dan Trump juga dijadwalkan membahas situasi Gaza. AS tengah berupaya mengubah gencatan senjata empat bulan yang rapuh menjadi rencana perdamaian dan rekonstruksi jangka panjang.
Pekan depan, Trump dijadwalkan menggelar konferensi internasional untuk menghimpun dana bagi wilayah Palestina yang terdampak perang.
Di sisi lain, Trump juga diperkirakan akan kembali menyampaikan kekhawatiran AS terhadap dorongan aneksasi Tepi Barat oleh kelompok sayap kanan dalam pemerintahan koalisi Israel.
Isu tersebut menjadi salah satu syarat penting bagi normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab dan Muslim di kawasan.
Baca Juga: Trump Bocorkan Target Serangan Darat AS, Bukan Iran!
