Trump Ogah Terbang 18 Jam ke Pakistan, AS-Iran Negosiasi Lewat Telepon
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa pembicaraan dengan Iran kini dilakukan melalui sambungan telepon, bukan lagi pertemuan langsung seperti sebelumnya.
Ia menyebut cara ini lebih efisien dibanding harus melakukan perjalanan panjang hanya untuk berdiskusi.
“Kami sedang berdiskusi dengan mereka sekarang, dan kami tidak lagi melakukan penerbangan 18 jam setiap kali ingin melihat selembar kertas. Kami melakukannya melalui telepon,” kata Trump di Gedung Putih, dikutip dari Anadolu, Kamis (30/4/2026).
Meski demikian, Trump tetap mengakui bahwa pertemuan tatap muka dinilainya lebih efektif dalam proses negosiasi.
Baca Juga: Usai Jerman Sebut Iran Permalukan AS, Trump Emosi!
“Saya selalu lebih suka bertatap muka, Anda tahu, saya menganggapnya lebih baik,” ujarnya.
“Tetapi ketika Anda harus terbang selama 18 jam setiap kali ingin mengadakan pertemuan, dan Anda tahu apa isi pertemuan itu… itu konyol,” lanjutnya.
Trump juga menegaskan bahwa setiap kesepakatan dengan Iran tetap bergantung pada komitmen negara tersebut untuk sepenuhnya meninggalkan ambisi senjata nuklirnya.
Negosiasi Buntu, AS Tolak Tawaran Iran
Sebelumnya, perundingan antara Iran dan AS di Islamabad, Pakistan, pada 11 April gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang dimulai sejak 28 Februari 2026.
Negosiasi tersebut berlangsung setelah adanya gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi Pakistan pada 8 April dan kemudian diperpanjang secara sepihak oleh Trump.
Namun, kedua pihak juga dilaporkan membatalkan rencana pertemuan lanjutan di Islamabad yang semula dijadwalkan pada akhir pekan lalu.
Di tengah kebuntuan tersebut, pemerintah AS menolak proposal Iran yang mengusulkan pembukaan Selat Hormuz dan pencabutan blokade lebih dulu sebelum pembahasan nuklir dilanjutkan.
Trump menegaskan bahwa blokade laut terhadap Iran akan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan nuklir yang memenuhi tuntutan Washington.
Baca Juga: IRGC ini Lebih Dominan dari Ulama, Iran Masuki Era Baru
Opsi Tekanan Militer Disiapkan
Selain jalur diplomasi, AS juga dikabarkan menyiapkan opsi tekanan militer untuk memecah kebuntuan negosiasi.
Komando Pusat AS (CENTCOM) disebut telah menyiapkan rencana serangan berskala terbatas namun intensif terhadap Iran.
Rencana tersebut mencakup kemungkinan serangan terhadap infrastruktur strategis, dengan tujuan mendorong Iran kembali ke meja perundingan dan menunjukkan sikap yang lebih fleksibel dalam negosiasi.
