Situasi Memanas! AS Dikabarkan Siap Serang Iran Akhir Pekan Ini
Pengerahan besar-besaran militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah dinilai membuka jalan bagi kemungkinan serangan berkelanjutan terhadap Iran.
Langkah tersebut mencakup pengiriman kapal perang, jet tempur, hingga pesawat pengisi bahan bakar, yang disebut-sebut dapat digunakan jika Presiden AS Donald Trump memberikan perintah.
Trump, yang tahun lalu memerintahkan serangan terhadap Iran, berulang kali melontarkan ancaman aksi militer terhadap Teheran apabila perundingan yang sedang berlangsung gagal menghasilkan kesepakatan baru pengganti perjanjian nuklir yang dibatalkannya pada 2018.
Laporan sejumlah media terkemuka AS seperti CNN dan CBS, sebagaimana dikutip AFP, Kamis (19/2/2026), menyebut militer AS berpotensi siap melancarkan serangan terhadap Iran paling cepat akhir pekan ini. Meski demikian, Trump dilaporkan belum mengambil keputusan final.
Menurut sumber yang dikutip CNN, Gedung Putih telah menerima pengarahan bahwa militer bisa siap bergerak setelah peningkatan signifikan aset angkatan udara dan angkatan laut AS dalam beberapa hari terakhir.
Namun, salah satu sumber menegaskan bahwa Trump masih menimbang berbagai opsi.
“Dia menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan hal ini,” kata salah satu sumber yang dikutip CNN.
Baca Juga: Perjanjian Dagang Resmi Diteken Prabowo-Trump, Ini RInciannya
Pertemuan di Gedung Putih dan Perundingan di Swiss
Sejumlah pejabat keamanan nasional AS menggelar rapat di Situation Room, Gedung Putih, pada Rabu (18/2/2026) waktu setempat guna membahas perkembangan situasi Iran.
Trump juga mendapat pengarahan dari utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, serta menantunya, Jared Kushner, terkait pembicaraan tidak langsung dengan Iran di Swiss pada Selasa (17/2/2026).
Dalam perundingan yang dimediasi Oman tersebut, negosiator AS dan Iran bertukar catatan selama 3,5 jam. Meski dialog berlangsung cukup lama, pembicaraan berakhir tanpa resolusi yang jelas.
Negosiator utama Teheran menyebut kedua pihak menyepakati “serangkaian prinsip panduan”. Namun seorang pejabat AS mengatakan bahwa “masih banyak detail yang perlu dibahas”.
Diplomasi atau Serangan Militer?
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan pada Rabu (18/2/2026) bahwa Iran diperkirakan akan menyampaikan rincian lanjutan mengenai posisi negosiasinya “dalam beberapa pekan ke depan”.
Meski begitu, ia tidak memastikan apakah Trump akan menunda opsi militer hingga periode tersebut.
Dalam keterangannya kepada wartawan, Leavitt menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi prioritas pemerintahan Trump.
“Presiden selalu sangat jelas, terkait dengan Iran atau negara mana pun di dunia, diplomasi selalu menjadi pilihan pertamanya, dan Iran akan sangat bijak jika membuat kesepakatan dengan Presiden Trump dan pemerintahan ini,” ucapnya.
Baca Juga: Bebas Pajak, Ini Daftar Barang Lokal yang Masuk AS Tanpa Tarif
Ia menambahkan bahwa Trump terus berkonsultasi dengan timnya. Trump “berbicara dengan banyak orang, terutama tim keamanan nasionalnnya”, namun dia juga mengatakan: “Ada banyak alasan dan argumen yang dapat diajukan untuk serangan terhadap Iran”.
Di tengah ketidakpastian tersebut, kekhawatiran akan konflik militer terbuka antara AS dan Iran pun meningkat, meskipun pejabat dari kedua negara masih menyatakan harapan terhadap solusi diplomatik.
Selain pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal-kapal perang lainnya, kapal induk USS Gerald R Ford, yang disebut sebagai kapal induk tercanggih milik AS, dilaporkan dapat tiba di kawasan Timur Tengah paling cepat akhir pekan ini, memperkuat sinyal kesiapan militer Washington.
