Bahlil Bicara Terbuka soal Impor BBM RI dari Malaysia-Singapura
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia tetap aman, meskipun terjadi gejolak di pasar energi global akibat konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran di kawasan Timur Tengah.
Menurut Bahlil, impor BBM jadi yang dilakukan Indonesia tidak berasal dari kawasan Timur Tengah. Pasokan tersebut justru didatangkan dari negara-negara di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura.
“Impor kita untuk BBM jadi itu tidak diambil dari Middle East. Kita ambil dari mana? Asia Tenggara. Di mana Asia Tenggara itu? Malaysia dan sebagian dari Singapura. Itu tidak ada urusannya sama Selat Hormuz,” ungkapnya dalam Podcast Bukan Abuleke Kementerian ESDM, dikutip Kamis (12/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa angka yang disampaikan sebelumnya merujuk pada kapasitas daya tampung cadangan minyak nasional. Kapasitas penyimpanan tersebut hanya mampu menampung pasokan sekitar 25 hari, sementara kondisi saat ini berada pada kisaran 23 hari.
Baca Juga : Update Terbaru Jumlah Korban dalam Konflik Timur Tengah yang Meluas!
Namun, angka itu tidak berarti cadangan akan habis dalam 23 hari, melainkan hanya menunjukkan batas kapasitas penyimpanan. Bahlil menambahkan bahwa pasokan minyak terus bergerak secara dinamis, di mana setiap hari ada volume yang keluar sekaligus masuk kembali karena proses produksi tetap berjalan.
Bahlil kemudian menggambarkan sistem penyimpanan BBM seperti toren air yang terus terisi kembali setelah digunakan.
“Dia itu semacam bak. Tahu nggak ada bak? Kalau saya di kampung dulu nggak ada air PAM, ada air bak. Bak itu menampung hujan. Kapasitas mungkin cuma 3 ton. Begitu hujannya tidak ada, airnya ditampung di situ,” tambahnya.
“Jadi jangan dipikir bodoh 21 hari itu minyak kita habis, bukan itu maksudnya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar informasi tersebut tidak disalah artikan atau disebarkan secara keliru di media sosial, karena dapat menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Menurutnya, publik perlu mendapatkan edukasi yang benar agar tidak terjadi gagal paham mengenai kondisi cadangan energi nasional.
Selain itu, ia menegaskan bahwa dengan kapasitas penyimpanan yang saat ini sekitar 25 hari, pemerintah mendapat arahan dari Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kapasitas storage hingga setidaknya mampu menampung cadangan selama tiga bulan sebagai standar nasional.
Kebutuhan Impor BBM RI
Bahlil menjelaskan bahwa produksi minyak nasional saat ini berada di kisaran 605 ribu barel per hari. Sementara kebutuhan konsumsi domestik mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari guna memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
Meski begitu, pemerintah terus melakukan berbagai langkah untuk menekan ketergantungan terhadap impor, khususnya untuk BBM jenis solar. Saat ini kebutuhan solar nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun.
Namun dengan beroperasinya proyek pengembangan kilang Refinery Development Master Plan Balikpapan sejak Januari 2026, serta penerapan kebijakan biodiesel B40, Bahlil menyebut Indonesia kini tidak lagi perlu mengimpor solar.
“Nah sekarang, dengan kapasitas industri dalam negeri dan kita sudah dorong biodiesel menjadi B40 yang ke depan bisa kita dorong menjadi B50, kita tidak lagi mengimpor Solar. Ini dulu,” kata Bahlil.
Untuk BBM jenis bensin, ia mengakui Indonesia masih harus mengandalkan impor dalam jumlah besar.
Kebutuhan bensin nasional tercatat sekitar 40 juta kiloliter per tahun. Sebelum proyek RDMP Balikpapan berjalan, produksi bensin dalam negeri baru mencapai sekitar 14,5 juta kiloliter.
“Dengan RDMP kita di Balikpapan mulai jalan, itu bisa menambah produksi 5,5 juta kilo liter. Berarti 20 juta kilo liter ada di dalam negeri. Yang kita impor product-nya, BBM untuk bensin, 20 juta kiloliter. Biar clear dulu ini ceritanya,” papar Bahlil.
Selain impor produk BBM, Indonesia juga masih mengimpor minyak mentah dari berbagai negara.
Menurut Bahlil, pasokan crude oil Indonesia berasal dari sejumlah kawasan seperti Afrika, Angola, Timur Tengah, Amerika Serikat, Brasil, Australia, serta beberapa negara lainnya.
“Berapa total yang kita impor dari Middle East untuk crude (minyak mentah)? Itu totalnya 20 sampai 25%. Dari total kebutuhan nasional kita, kita impor crude dari Middle East itu 20 sampai 25%,” kata Bahlil.
“Jadi, ingat, kita tidak mengimpor BBM jadi lho. Bensin itu tidak kita impor dari Middle East. Yang kita impor dari Middle East itu crude-nya,” ujarnya.
“Saya ulangi ya, kita tidak mengimpor minyak jadi dari Middle East. Kita tidak impor product. Yang kita impor dari Middle East itu adalah minyak mentah. Nanti diolah di Indonesia baru kemudian itu yang kita distribusi ke rakyat. Nah, sekarang pertanyaannya, Selat Hormuz kan lagi ditutup. Berarti 20% minyak mentah sampai 25 itu ambilnya dari mana?” tuturnya.
Ia mengatakan pemerintah telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan jauh sebelum konflik di Timur Tengah memanas.
Baca Juga : Iran Pasang Ranjau Laut, Hadang AS-Israel Melintas di Selat Hormuz?
Bahlil juga mengungkapkan bahwa pasokan energi sempat berkurang, terutama setelah adanya kasus penahanan kapal yang sempat dipertanyakan oleh sejumlah pihak. Namun, ia menegaskan pemerintah telah mengantisipasi situasi tersebut jauh sebelum konflik terjadi, atas arahan Presiden Prabowo Subianto, dengan mulai menjajaki peluang pemesanan pasokan dari negara lain.
Menurutnya, langkah pengalihan sumber pasokan itu dilakukan ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Angola, serta beberapa negara di kawasan Afrika dan Amerika Latin yang sebagian diantaranya memiliki keterlibatan Pertamina. Dengan pengalihan tersebut, sekitar 20–25% pasokan yang sebelumnya bergantung pada jalur Selat Hormuz telah dialihkan ke sumber lain sebagai langkah antisipasi apabila jalur tersebut ditutup.
