Houthi Blokade Laut Saudi, Konflik Timur Tengah Memanas
Kelompok Houthi di Yaman mengumumkan pemberlakuan blokade laut terhadap Arab Saudi, setelah kembali melancarkan serangan rudal ke wilayah kerajaan tersebut. Aksi ini menjadi serangan pertama Houthi ke Arab Saudi dalam empat tahun terakhir sekaligus menandai meningkatnya kembali ketegangan kedua pihak.
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan melalui televisi, kelompok yang mendapat dukungan dari Iran itu menyebut langkah tersebut sebagai bentuk pembalasan terhadap Riyadh.
“Embargo maritim terhadap musuh kriminal Saudi, berdasarkan persamaan ‘mata dibayar mata’ berlaku efektif segera setelah pengeluaran pernyataan ini,” tegas kelompok Houthi.
Baca Juga : Begini Tanggapan Netanyahu Terkait Ancaman Penangkapan Dirinya
Houthi menyatakan keputusan melakukan blokade laut merupakan respons atas kebijakan pembatasan yang selama bertahun-tahun diberlakukan Arab Saudi terhadap Yaman. Kelompok tersebut menuding Riyadh masih melakukan tekanan terhadap negaranya meski konflik bersenjata telah berlangsung lama.
“Pengepungan yang tidak adil dan represif terhadap rakyat kami yang tercinta selama hampir 12 tahun, merampas sumber daya kami dan memaksakan blokade komprehensif pada pelabuhan dan bandara kami melalui darat, laut, dan udara,” lanjut pernyataan tersebut, seperti dilansir India Today, Senin (20/7/2026).
Pemicu Eskalasi
Pengumuman blokade laut oleh Houthi muncul kurang dari satu pekan setelah kelompok tersebut meluncurkan serangan rudal ke wilayah Arab Saudi.
Serangan itu dilakukan setelah Houthi menuduh Riyadh melancarkan serangan udara terhadap Bandara Internasional Sanaa yang berada di bawah kendali mereka.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyebut Bandara Internasional Abha di Kota Abha, Arab Saudi bagian selatan, sebagai target serangan rudal tersebut.
Namun, pemerintah Arab Saudi menyatakan berhasil menggagalkan serangan dengan mencegat rudal yang diarahkan ke wilayah selatan negaranya.
Selain serangan rudal, Houthi juga mengeluarkan peringatan kepada maskapai penerbangan internasional agar tidak menggunakan wilayah udara Arab Saudi hingga “pengepungan” terhadap Bandara Sanaa dihentikan.
Sementara itu, Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan mendapat dukungan Arab Saudi memberikan versi berbeda terkait serangan terhadap Bandara Sanaa.
Pemerintah Yaman menyatakan pasukan mereka, bukan Arab Saudi, yang melakukan serangan terhadap landasan pacu bandara tersebut. Operasi itu dilakukan untuk mencegah pesawat asal Iran memasuki wilayah Yaman.
Pemerintah Yaman menuding Iran telah melanggar kedaulatan negaranya dan memperingatkan akan mengambil tindakan terhadap pesawat asing yang memasuki wilayah udara mereka.
Pejabat terkait kemudian menyampaikan bahwa pesawat Iran tersebut akhirnya mengubah rute dan mendarat di Bandara Hodeidah yang berada di pesisir Laut Merah.
Rekam Jejak Konflik
Peningkatan ketegangan terbaru ini mengakhiri periode relatif tenang di sepanjang perbatasan Arab Saudi dan Yaman setelah kedua pihak mempertahankan gencatan senjata tidak resmi sejak Maret 2022.
Baca Juga : Iran Ancam Tutup Total Lalu Lintas Kapal di Hormuz
Situasi tersebut kembali menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Sejak kesepakatan gencatan senjata pada 2022, Arab Saudi cenderung menghindari konfrontasi langsung dengan Houthi. Namun, eskalasi terbaru berpotensi mengganggu jalur pelayaran internasional serta mengancam infrastruktur energi di kawasan.
Konflik Yaman telah berlangsung lebih dari satu dekade sejak kelompok Houthi mengambil alih ibu kota Sanaa pada 2014. Kondisi tersebut kemudian memicu intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi pada 2015 untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional.
Perang panjang tersebut menjadikan Yaman sebagai salah satu negara dengan krisis kemanusiaan paling serius di dunia.
