Arab Saudi Siap Lindungi Kapal Dagang usai Ancaman Houthi
Arab Saudi menegaskan akan mengambil langkah tegas untuk melindungi kapal-kapal dagang yang melintasi Laut Merah setelah kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade maritim terhadap kerajaan tersebut.
Riyadh menilai ancaman itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan berjanji merespons setiap upaya yang mengganggu kebebasan pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur perdagangan terpenting di dunia.
“Semua ancaman Houthi terhadap kapal yang melintasi selat itu secara terang-terangan melanggar hukum internasional dan merupakan tindakan pembajakan, sehingga kami akan merespons dengan cepat dan tegas,” ujar Juru Bicara Koalisi Arab pimpinan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, seperti dikutip Chosun.
Baca Juga: Perang Besar Iran Terancam Batal, Stok Rudal AS Menipis
Saudi Bantah Tuduhan Blokade Yaman
Pada Senin (20/7/2026), Kementerian Luar Negeri Arab Saudi membantah tuduhan Houthi yang menyebut Riyadh melakukan pengepungan terhadap rakyat Yaman melalui pembatasan pelabuhan dan bandara.
Al-Maliki menyebut tuduhan tersebut sebagai informasi yang tidak benar dan sengaja disebarkan untuk meningkatkan ketegangan.
Menurut dia, lebih dari 300 kapal dagang telah memasuki pelabuhan Hodeidah, Salif, dan Ras Issa yang berada di bawah kendali Houthi sepanjang paruh pertama 2026.
Kapal-kapal tersebut membawa makanan, bahan bakar, material konstruksi, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Ia juga menuding Houthi sebagai pihak yang menutup Bandara Internasional Sanaa serta menolak berbagai usulan untuk membuka kembali layanan penerbangan.
Data pelayaran menunjukkan aktivitas kapal kargo menuju Pelabuhan Hodeidah masih berlangsung dalam beberapa pekan terakhir untuk mengirimkan pasokan makanan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok lainnya.
Baca Juga: Wali Kota New York Ancam Tangkap Dirinya, Netanyahu Murka!
Houthi Umumkan Blokade Maritim
Sebelumnya, juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengumumkan pemberlakuan blokade maritim terhadap Arab Saudi yang berlaku segera.
Kelompok yang didukung Iran tersebut menyatakan langkah itu diambil sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai pengepungan terhadap Yaman, termasuk serangan ke Bandara Sanaa dan pembatasan terhadap sejumlah pelabuhan.
Meski demikian, Houthi tidak menjelaskan secara rinci bagaimana mekanisme pelaksanaan blokade maritim tersebut.
Sejumlah analis menilai langkah itu kemungkinan ditujukan untuk mengganggu ekspor minyak Arab Saudi dengan menargetkan Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Laut Arab.
Ancaman tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap rantai pasok energi global. Pasalnya, gangguan di Selat Bab el-Mandeb berpotensi menghambat distribusi minyak dan perdagangan internasional, terutama setelah Iran sebelumnya menutup Selat Hormuz.
