Iran Ancam Balas Jika AS Invasi Pulau Strategis Kharg
Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) akan menghadapi konsekuensi jika melancarkan invasi ke Pulau Kharg, salah satu wilayah strategis negara tersebut.
Peringatan itu disampaikan di tengah laporan bahwa Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan perluasan operasi militer terhadap Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan pasukan Iran siap menghadapi setiap upaya masuknya militer AS ke wilayah negaranya.
Baca Juga: Aktivitas Maritim China di Sekitar Taiwan Melonjak Tajam
“Ya, mereka akan menerima konsekuensinya,” kata Baghaei dalam konferensi pers, Senin (20/7/2026), sebagaimana dikutip Sputnik melalui Antara.
Ia juga menegaskan bahwa banyak pihak di kawasan yang disebut siap menghadapi kehadiran pasukan AS.
“Saya pikir ada banyak orang di daerah itu yang sedang menunggu saat yang tepat untuk menyambut mereka,” lanjut dia.
Pernyataan tersebut muncul setelah The Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan sejumlah opsi untuk memperluas operasi militer terhadap Iran.
Mengutip pejabat AS, laporan itu menyebut salah satu opsi yang sedang dikaji adalah pengerahan pasukan darat untuk menginvasi Pulau Kharg.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan akan segera merespons setiap upaya pasukan AS memasuki wilayah Iran. Pernyataan tersebut disampaikan melalui kantor berita Tasnim.
Baca Juga: Iran Sebut Tak Biarkan Minyak 1 Tetes Pun Keluar dari Hormuz
Ketegangan terbaru terjadi setelah hubungan kedua negara kembali memburuk dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari.
Namun, sejak 8 Juli, militer AS kembali melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran. Washington menyebut operasi tersebut sebagai respons atas tindakan Teheran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Teheran juga menuduh Washington telah melanggar kesepakatan penghentian permusuhan yang sebelumnya telah disepakati kedua negara.
