Bukan AS atau China, Ini Negara Pemberi Utang Terbesar ke RI
Pada Januari 2026, Utang luar negeri (ULN) Indonesia tercatat mengalami kenaikan. Berdasarkan data terbaru, total ULN mencapai US$434,71 miliar, lebih tinggi dibandingkan posisi pada Desember 2025 yang berada di angka US$432,96 miliar.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, porsi terbesar utang luar negeri Indonesia masih berasal dari Singapura. Namun nilai pinjaman dari negara tersebut sedikit menurun menjadi US$54,73 miliar pada Januari 2026, dari sebelumnya US$55,26 miliar pada akhir 2025.
Sementara itu, Amerika Serikat menjadi penyumbang utang terbesar kedua dengan nilai US$27,45 miliar. Angka ini meningkat dibandingkan posisi Desember 2025 yang tercatat sebesar US$27,30 miliar.
Baca Juga : Situasi Memanas, AS Perintahkan Warganya untuk Segera Keluar Irak!
Di posisi berikutnya terdapat China dengan nilai utang US$24,95 miliar, sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$24,97 miliar.
Negara Kreditur Terbesar Indonesia
Selain tiga negara tersebut, sejumlah negara lain juga menjadi kreditur utama bagi Indonesia.
Jepang tercatat memberikan pinjaman sebesar US$20,36 miliar, meningkat tipis dari sebelumnya US$20,34 miliar.
Kemudian diikuti oleh Hong Kong dengan total pinjaman US$18,97 miliar, naik dari posisi sebelumnya sebesar US$18,51 miliar.
Sementara itu, kategori negara Asia lainnya menyumbang utang sebesar US$11,39 miliar, meningkat dari US$11,22 miliar pada periode sebelumnya.
Utang dari Organisasi Internasional
Selain berasal dari negara-negara kreditur, sebagian utang luar negeri Indonesia juga diperoleh dari berbagai organisasi internasional.
Secara keseluruhan, pinjaman dari lembaga internasional mencapai US$48,29 miliar pada Januari 2026, naik tipis dari sebelumnya US$48,19 miliar.
Beberapa lembaga yang memberikan pinjaman tersebut antara lain:
- Asian Development Bank (ADB) sebesar US$12,75 miliar
- International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) sebesar US$21,99 miliar
- International Development Association (IDA) sebesar US$1 juta
- Islamic Development Bank (IDB) sebesar US$1,36 miliar
- International Fund for Agricultural Development (IFAD) sebesar US$319 juta
- International Monetary Fund (IMF) sebesar US$8,89 miliar
- Nordic Investment Bank (NIB) sebesar US$5 juta
- Lembaga internasional lainnya dengan total US$2,96 miliar
Bank Indonesia memastikan bahwa struktur utang luar negeri Indonesia masih berada dalam kondisi yang sehat. Hal ini didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang negara.
Salah satu indikatornya adalah rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang justru menurun menjadi 29,6% pada Januari 2026, dibandingkan 29,9% pada Desember 2025.
Selain itu, komposisi utang jangka panjang masih mendominasi dengan porsi sekitar 85,6% dari total ULN.
Baca Juga : Kabar Terbaru di Timur Tengah, Militer Iran Targetkan Netanyahu
Untuk menjaga stabilitas tersebut, Bank Indonesia bersama pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang luar negeri. ULN juga tetap dimanfaatkan sebagai sumber pembiayaan pembangunan sekaligus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Dalam siaran persnya, BI menegaskan upaya tersebut dilakukan untuk meminimalkan risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas perekonomian.

[…] Baca Juga : Ini Negara yang Memberikan Utang Terbesar ke RI, Bukan AS atau China! […]