Pengusaha RI Desak Pemerintah terkait Skenario Perang Iran Terburuk
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari dua pekan mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha. Salah satu dampak yang paling disorot adalah potensi gangguan pasokan energi global yang bisa berimbas pada kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Sarman Simanjorang, mengatakan kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri.
“Artinya kondisi ini bisa memicu kenaikan harga BBM. Ketika harga BBM naik, maka biaya produksi berbagai industri juga ikut meningkat,” kata Sarman, Selasa (17/3/2026).
Baca Juga: Patriot Bonds Disebut Petinggi Danantara Diserbu Investor
Konflik Timur Tengah Berpotensi Picu Inflasi di Indonesia
Menurut Sarman, kenaikan biaya produksi hampir pasti akan diikuti dengan penyesuaian harga jual di tingkat konsumen.
“Kalau biaya produksi naik, otomatis harga-harga di pasar juga akan menyesuaikan. Itu yang kemudian bisa menyumbang inflasi dan menekan daya beli masyarakat,” katanya.
Ia menilai pemerintah perlu segera menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, terutama jika konflik berlangsung lebih lama dari perkiraan.
“Ini sesuatu yang sangat urgent. Pemerintah harus menyiapkan langkah dan skenario terburuk kalau konflik ini berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan,” ujar dia.
Selain sektor energi, Sarman juga menyoroti ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan baku impor yang berisiko terganggu jika jalur logistik global terdampak konflik.
“Industri kita masih banyak yang bergantung pada bahan baku impor, misalnya sektor farmasi, kebutuhan gandum, sampai kedelai untuk perajin tahu dan tempe,” ujarnya.
Ia menambahkan, dampak konflik global tidak hanya dirasakan oleh negara tertentu, tetapi juga hampir seluruh negara karena keterkaitan rantai pasok internasional.
“Perang seperti ini pasti memberikan dampak terhadap perekonomian global, dan Indonesia juga tidak bisa sepenuhnya terhindar dari efeknya,” katanya.
Meski demikian, Sarman berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi domestik melalui kebijakan yang tepat, khususnya dalam pengendalian harga dan ketersediaan pasokan.
“Yang paling penting adalah bagaimana pemerintah memastikan stabilitas harga tetap terjaga sehingga daya beli masyarakat tidak terlalu tertekan,” ujar Sarman.
Baca Juga: Ini Prediksi Bos BI soal Ekonomi Dunia Terancam Imbas Perang Iran
