Hilirisasi Sumbang 30% Investasi Indonesia, Ini Rinciannya
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat sektor hilirisasi kini memberikan kontribusi sekitar 30% terhadap total realisasi investasi di Indonesia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan hilirisasi menjadi salah satu penggerak utama investasi nasional. Arus modal yang masuk berasal dari investor dalam negeri maupun investor internasional.
Menurut Rosan, pengembangan hilirisasi juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem industri nasional yang terintegrasi. Cakupannya meliputi pertambangan, pengolahan, manufaktur, energi bersih, hingga teknologi yang diarahkan untuk menciptakan nilai tambah sekaligus membuka lapangan kerja.
Baca Juga : Anggaran Maung untuk Menteri? Airlangga Sebut Sudah Bayar Semua
“Industri hilir sekarang menyumbang sekitar 30% dari total investasi kami dan terus tumbuh kuat didorong oleh investor domestik dan internasional. Modal mengalir masuk,” ujar Rosan dalam acara Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Pertumbuhan sektor hilirisasi tersebut sejalan dengan peningkatan realisasi investasi nasional. Pada 2025, investasi Indonesia tercatat menembus lebih dari US$120 miliar, tumbuh 12,7% secara tahunan dan menyerap sekitar 2,7 juta tenaga kerja.
Tren tersebut berlanjut pada semester I-2026. Realisasi investasi mencapai US$61 miliar, tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus menciptakan sekitar 1,45 juta lapangan kerja.
“Industri hilir sekarang menyumbang sekitar 30% dari total investasi kami dan terus tumbuh kuat didorong oleh investor domestik dan internasional,” katanya.
Rosan menjelaskan hilirisasi mencakup sejumlah sektor, salah satunya pengembangan ekosistem elektrifikasi yang terhubung dari rantai pasok pertambangan hingga produksi kendaraan listrik.
Indonesia saat ini telah mengoperasikan dua fasilitas produksi sel baterai yang melibatkan Hyundai, CATL, dan IBC. Perkembangan kendaraan listrik berbasis baterai juga terus meningkat, dengan sekitar satu dari enam mobil baru yang terjual di Indonesia merupakan kendaraan listrik berbasis baterai.
“Pertama, elektrifikasi. Dari tambang ke sel baterai ke mobil listrik. Indonesia sekarang membuat sel baterai di dua pabrik besar dengan Hyundai dan juga dengan CATL dan IBC, perusahaan milik negara kami, yang mulai beroperasi secara bertahap pada bulan Agustus. Sekarang, 1 dari 6 mobil baru yang dijual di Indonesia sepenuhnya listrik, dan lebih dari 2/3 di antaranya dirakit di sini di Indonesia,” tandasnya.
Realisasi Investasi Semester I-2026
Sebelumnya, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Todotua Pasaribu menyampaikan realisasi investasi nasional pada semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka tersebut setara dengan 49,5% dari target investasi sepanjang 2026 yang ditetapkan sebesar Rp2.041,3 triliun.
Dari total realisasi tersebut, investasi yang berasal dari proyek hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7%. Nilai itu tumbuh 6,9% dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga : Iran Ancam Serang Kapal Perang dan Pangkalan AS
Sektor mineral menjadi penyumbang terbesar investasi hilirisasi selama semester I-2026 dengan nilai Rp206,5 triliun.
Hilirisasi nikel menjadi kontributor utama di sektor tersebut dengan investasi Rp71,0 triliun. Berikutnya terdapat bauksit sebesar Rp53,8 triliun, tembaga Rp37,4 triliun, besi baja Rp30,2 triliun, serta pasir silika Rp5,9 triliun.
Sektor perkebunan dan kehutanan berada di urutan berikutnya dengan realisasi investasi Rp54,4 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari komoditas kelapa sawit sebesar Rp29,5 triliun dan karet Rp5,0 triliun.
Sementara itu, sektor minyak dan gas bumi menyumbang investasi melalui pengolahan minyak bumi senilai Rp26,4 triliun dan gas bumi sebesar Rp9,0 triliun.
Adapun sektor perikanan dan kelautan mencatat investasi hilirisasi sebesar Rp3,8 triliun. Investasi tersebut mencakup pengolahan sejumlah komoditas, seperti garam, ikan tuna, cakalang, tongkol, udang, hingga rumput laut.
