Trump Mendadak Hentikan Serangan ke Iran, Perang Usai?
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menjalankan komunikasi yang dinilainya berjalan sangat baik dalam upaya meredakan konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung selama sekitar tiga pekan.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di media sosial pada Senin waktu AS. Ia menyebut bahwa Washington dan Teheran telah mengadakan diskusi yang produktif selama dua hari terakhir untuk mencapai penyelesaian penuh terhadap konflik di kawasan.
Baca Juga : Prabowo Tolak Iuran BoP, Sikapnya Disoroti Media Asing!
Trump juga mengungkapkan bahwa dirinya telah meminta Pentagon untuk sementara menghentikan rencana serangan terhadap fasilitas energi Iran.
Ia menyebut keputusan tersebut bersifat sementara, dengan masa penundaan selama lima hari, sambil menunggu perkembangan dari proses diplomasi yang sedang berlangsung.
“Pihak AS dan Iran akan terus berbicara sepanjang minggu,” tulis AFP mengutip Trump lagi, Selasa (24/3/2026).
Pernyataan tersebut memicu kejutan di berbagai pihak. Sebelumnya, Trump diketahui mengeluarkan ancaman untuk menyerang fasilitas pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, dari pihak Iran muncul respons berbeda, melalui keterangan dari kementerian luar negeri yang dikutip media Iran, membantah adanya pembicaraan langsung seperti yang diklaim Washington.
Iran bahkan menilai pernyataan Trump kemungkinan berkaitan dengan upaya menurunkan harga energi global yang melonjak akibat konflik berkepanjangan.
Serangan Masih Berlanjut, Risiko Energi Global Menguat
Di tengah klaim diplomasi tersebut, ketegangan militer di kawasan masih berlangsung. Serangan dari koalisi Amerika Serikat dan Israel terus mendapat balasan dari Iran.
Teheran dilaporkan membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia. Selain itu, Iran juga menargetkan fasilitas energi dan kedutaan AS di kawasan Teluk, serta sejumlah sasaran di Israel.
Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan berpotensi menciptakan krisis energi global yang sangat serius.
Ia menyebut bahwa jika gangguan pasokan minyak terus terjadi, dampaknya bisa lebih parah dibandingkan gabungan krisis minyak pada era 1970-an dan invasi Rusia ke Ukraina.
Harga Minyak Turun Setelah Pernyataan Trump
Lonjakan harga energi menjadi salah satu dampak paling nyata dari konflik yang berlangsung. Harga minyak dunia sempat menembus angka di atas US$100 per barel dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga : Mengapa Selat Hormuz Jadi Jalur Perdagangan Strategis Dunia?
Namun, setelah pernyataan Trump mengenai kemungkinan negosiasi damai, pasar energi menunjukkan respons cepat dengan terjadinya penurunan harga minyak secara signifikan.
Minyak mentah jenis Brent Crude tercatat turun lebih dari 14% hingga berada di kisaran US$96,00 per barel.
Sementara itu, minyak acuan AS West Texas Intermediate juga mengalami penurunan lebih dari 14% menjadi sekitar US$84,37 per barel.
Pergerakan harga tersebut menunjukkan bahwa sentimen pasar energi sangat sensitif terhadap perkembangan diplomasi dan konflik di kawasan Timur Tengah.

[…] Trump Mendadak Hentikan Serangan ke Iran, Perang Usai? […]