Dampak Selat Hormuz Ditutup, Tarif Terusan Panama Melonjak Hingga Rp68 M
Ketegangan di Selat Hormuz dilaporkan berdampak langsung pada meningkatnya permintaan pelayaran dan biaya operasional di Terusan Panama. Kondisi ini membuat sejumlah kapal memilih jalur alternatif untuk menghindari hambatan di kawasan Teluk.
Dalam laporan terbaru, sebuah kapal pengangkut Liquefied Natural Gas (LNG) bahkan membayar hingga 4 juta dollar AS (sekitar Rp 68 miliar) dalam proses lelang demi mendapatkan akses transit lebih cepat. Langkah tersebut diambil agar kapal dapat menghindari waktu tunggu normal yang kini mencapai sekitar lima hari, sebagaimana dilaporkan AFP, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga : Prabowo Buka Peluang Konser K-Pop Lebih Banyak di Indonesia!
Sistem operasional di Terusan Panama mengharuskan kapal melakukan reservasi jadwal pelayaran jauh sebelum waktu keberangkatan. Kapal yang tidak memiliki jadwal tetap harus menunggu giliran rata-rata selama lima hari, kecuali jika mereka memenangkan slot transit dalam lelang mendadak.
Lonjakan biaya lelang juga tercatat sangat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Pada periode Oktober hingga Februari, rata-rata harga lelang masih berkisar di angka 130.000 dollar AS (sekitar Rp 2,2 miliar). Namun, pada Maret hingga April, nilai tersebut meningkat drastis hingga mencapai rata-rata 385.000 dollar AS (sekitar Rp 6,6 miliar).
Pihak otoritas Terusan Panama menyebut bahwa kenaikan biaya tersebut terjadi setelah dimulainya serangan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Konflik tersebut memicu blokade di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur penting bagi sekitar seperlima ekspor minyak dan gas alam dunia dari negara-negara kawasan Teluk.
Pergeseran Rute Perdagangan Global
Situasi geopolitik yang berkembang turut mendorong perubahan strategi distribusi energi global. Kilang-kilang di kawasan Asia kini mulai mengalihkan sumber pasokan bahan bakar mereka dengan membeli minyak dan gas dari Amerika Serikat, yang kemudian dikirim melalui Terusan Panama.
Data resmi menunjukkan bahwa jumlah kapal yang melintas di jalur tersebut tetap berada pada tingkat yang tinggi. Pada Januari 2026, rata-rata tercatat sekitar 34 kapal melintas setiap hari. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 37 kapal per hari pada Maret, bahkan pada beberapa hari tertentu jumlah transit melampaui 40 kapal.
Baca Juga : Menlu Sebut Kapal AS di Selat Malaka hanya Patroli Rutin
Sebagai salah satu jalur pelayaran strategis dunia, Terusan Panama memiliki peran penting dalam mendukung sekitar lima persen perdagangan maritim global. Negara seperti Amerika Serikat dan China tercatat sebagai pengguna utama jalur tersebut.
Hal ini tidak terlepas dari fungsi Terusan Panama yang menghubungkan wilayah Pantai Timur Amerika Serikat dengan berbagai negara di Asia, seperti China, Korea Selatan, dan Jepang.
Pada paruh pertama tahun fiskal 2026, yaitu periode Oktober hingga September, tercatat sebanyak 6.288 kapal telah melintasi jalur air ini. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan sekitar 3,7 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
