UEA Putuskan Cabut dari OPEC, Peta Kekuatan Minyak Dunia Berubah?
Uni Emirat Arab secara mengejutkan mengumumkan keputusan untuk menarik diri dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), yang akan mulai berlaku pada 1 Mei 2026.
Pengumuman tersebut disampaikan melalui kantor berita resmi negara, WAM, dan dinilai sebagai langkah besar yang berpotensi mengubah dinamika energi global.
Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari visi ekonomi jangka panjang negara tersebut, sekaligus memberi ruang lebih luas bagi UEA dalam mengembangkan sektor energi domestiknya tanpa terikat kebijakan kolektif organisasi.
Baca Juga : Demi Tutup Beban Perang, Rusia Jual 22 Ton Emas Sepanjang 2026
“Keputusan ini sejalan dengan visi strategis dan ekonomi jangka panjang Uni Emirat Arab serta pengembangan sektor energinya, termasuk mempercepat investasi dalam produksi energi domestik,” bunyi pernyataan resmi pemerintah UEA.
Keputusan tersebut dianggap sebagai pukulan bagi OPEC, khususnya bagi Arab Saudi sebagai anggota paling berpengaruh. Pasalnya, UEA merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia dengan kontribusi sekitar 3% hingga 4% terhadap pasokan global. Selain keluar dari organisasi utama, pemerintah UEA juga mengkonfirmasi akan meninggalkan aliansi OPEC+.
Menteri Energi Tegaskan Fokus pada Ketahanan Energi Global
Menteri Energi UEA, Suhail Al Mazrouei, memberikan penjelasan lanjutan melalui pernyataannya di media sosial X. Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk penyesuaian strategi energi terhadap kondisi pasar global saat ini.
“Keputusan UEA untuk keluar dari OPEC mencerminkan evolusi berbasis kebijakan yang selaras dengan fundamental pasar jangka panjang,” kata Mazrouei.
Meski tidak lagi menjadi bagian dari aliansi tersebut, Mazrouei memastikan negaranya tetap berkomitmen dalam menjaga stabilitas pasokan energi global dengan pendekatan yang lebih bertanggung jawab dan berorientasi pada emisi rendah.
“Kami tetap berkomitmen terhadap ketahanan energi, menyediakan pasokan yang andal, bertanggung jawab, dan rendah karbon sambil mendukung pasar global yang stabil,” tutur Mazrouei.
Selama beberapa tahun terakhir, UEA diketahui mendorong peningkatan kuota produksi minyak di dalam OPEC. Negara tersebut juga tengah memperluas kapasitas produksinya hingga melampaui batas produksi yang sebelumnya ditetapkan organisasi.
Baca Juga : Danantara Bubarkan 167 BUMN, Nasib Karyawan Dipastikan Aman!
UEA sendiri telah menjadi anggota OPEC sejak 1967, atau sekitar tujuh tahun setelah organisasi tersebut didirikan oleh Arab Saudi, Iran, Irak, Venezuela, dan Kuwait.
Keluarnya salah satu produsen minyak terbesar dunia tersebut menjadi perhatian luas karena OPEC secara kolektif menguasai sebagian besar cadangan minyak terbukti di dunia. Langkah ini diperkirakan akan melemahkan kemampuan organisasi dalam mengendalikan pasokan minyak global, terutama di tengah krisis energi yang masih berlangsung.

[…] UEA Putuskan Cabut dari OPEC, Peta Kekuatan Minyak Dunia Berubah? […]