Menhan AS Disidang Kongres, Perang Iran Jadi Sorotan
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, dijadwalkan untuk memberikan kesaksian di hadapan Kongres pada Rabu (29/4/2026). Ini menjadi penampilan pertamanya sejak konflik antara AS dan Iran memanas.
Menurut laporan AFP, agenda utama sidang akan membahas perkembangan perang di Timur Tengah, terutama karena upaya penghentian konflik belum menunjukkan kemajuan signifikan. Pemerintah AS juga dilaporkan masih meragukan tawaran terbaru Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, yang telah diblokade sejak dua bulan terakhir.
Blokade tersebut berdampak besar terhadap stabilitas ekonomi global, mengingat jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi energi dunia.
Baca Juga : Prabowo Bangga Sebut Negara Lain Mulai Belajar MBG dari RI
Tekanan dari Partai Demokrat
Dalam sidang tersebut, Hegseth diperkirakan akan menghadapi tekanan dari Partai Demokrat yang sejak awal menolak keterlibatan AS dalam konflik dengan Iran. Mereka menilai perang ini mahal dan tidak mendapatkan persetujuan dari Kongres.
Sejumlah isu yang kemungkinan disorot meliputi lonjakan biaya perang, penggunaan besar-besaran amunisi strategis, hingga serangan yang menimbulkan korban sipil. Selain itu, kesiapan militer AS dalam menghadapi serangan drone Iran juga menjadi perhatian, terutama setelah beberapa serangan dilaporkan berhasil menembus sistem pertahanan.
Rencana Anggaran Militer AS 2027
Di tengah situasi tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya telah mengusulkan peningkatan anggaran pertahanan hingga mendekati 1,5 triliun dolar AS dalam proposal tahun fiskal 2027.
Ringkasan anggaran dari Pentagon yang dirilis pada 21 April 2026 mengungkapkan rencana pendanaan untuk berbagai program militer, termasuk pengembangan “Armada Emas”.
Salah satu proyek yang disorot adalah pengembangan kapal perang generasi baru, termasuk BBG-1 atau USS Defiant, yang dirancang sebagai kapal tempur permukaan dengan kemampuan lebih lincah dan efisien.
“Anggaran Tahun Fiskal (FY) 2027 berinvestasi dalam dua kelas kapal baru: Fregat FF(X) dan Kapal Perang BBG(X),” demikian isi ringkasan anggaran tersebut, dikutip dari Newsweek, Selasa (21/4/2026).
Rencana peningkatan anggaran ini menegaskan fokus AS dalam memperkuat kekuatan militernya, meski di sisi lain memicu perdebatan politik terkait biaya dan dampak konflik yang masih berlangsung.
Baca Juga : 13 Proyek Hilirisasi Rp 116T Dimulai, Siapa Pemiliknya?
