Pemerintah dan BI Kompak Jaga Rupiah, Antisipasi Dana Asing Keluar
Pemerintah bersama Bank Indonesia menyepakati langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan ketersediaan dolar AS di dalam negeri.
Kesepakatan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, yang turut dihadiri sejumlah otoritas keuangan seperti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur BI Perry Warjiyo.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa Presiden memberi perhatian khusus terhadap aliran modal keluar atau capital outflow yang terjadi belakangan ini.
“Dan tadi disepakati, dilaporkan ke Bapak Presiden, kesepakatan kerja sama antara BI dan Menteri Keuangan sehingga ke depan ini bisa dijaga terkait dengan capital outflow,” ujar Airlangga.
Baca Juga: Otoritas Ekonomi Dikumpulkan Airlangga, Bahas Pusat Keuangan RI
Strategi BI Tekan Capital Outflow
Gubernur BI Perry Warjiyo memaparkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas rupiah, termasuk intervensi di pasar valas baik domestik maupun global.
“Kami akan terus melakukan intervensi secara tunai dan domestic delivery di dalam negeri dan juga non-delivery forward di pasar luar negeri,” tegas Perry.
Selain itu, BI juga akan mendorong aliran dana asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta melanjutkan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Kami juga dengan Pak Menteri Keuangan menjaga likuiditas di perbankan dan pasaran lebih dari cukup, yaitu terindikasi dari pertumbuhan uang primer yang selalu double digit. Di terakhir itu pertumbuhan uang primernya adalah 14,1%,” ujarnya.
BI juga akan membatasi pembelian dolar AS tanpa underlying dari sebelumnya 100.000 dolar AS menjadi 50.000 dolar AS per orang per bulan.
“Sehingga pembelian dolar sampai dengan atau di atas 25.000 itu harus pakai underlying ya. Itu yang kami akan perkuat, ini akan kami perkuat dalam negeri,” kata Perry.
Penguatan juga dilakukan melalui intervensi pasar offshore dan peningkatan pengawasan bersama OJK terhadap aktivitas pembelian dolar oleh perbankan dan korporasi.
Baca Juga: Purbaya Ingatkan Perang iran Bisa Panjang usai Bertemu Menkeu AS
Pemerintah Diversifikasi dan Jaga Pertumbuhan
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS melalui penerbitan surat utang berbasis yuan atau Panda Bond.
“Sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi. Jadi diversifikasi kita akan lebih baik lagi ke depan. Jadi prospek kita bagus, nggak usah takut,” tegas Purbaya.
Ia juga menyampaikan pesan optimistis dari Presiden terkait kondisi keuangan negara.
“Tadi Pak Presiden juga bilang sama saya, suruh sampaikan pesan bahwa uang saya cukup, duitnya banyak. Jadi Anda nggak usah takut,” ujarnya.
Purbaya menilai perekonomian Indonesia saat ini tengah mengalami percepatan pertumbuhan, meski belum sepenuhnya disadari oleh pelaku pasar.
“Kan saya kemarin-kemarin bilang serok, serok, serok saja. Kalau mereka ikut mestinya nanti ke depan akan untung banyak,” ujarnya.
Pemerintah, lanjutnya, akan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 melalui berbagai kebijakan dan koordinasi dengan bank sentral.
“Yang jelas ekonomi sedang sedang menuju pertumbuhan angka yang lebih cepat dan akan kita jaga untuk triwulan kedua dengan berbagai kebijakan, koordinasi dengan Bank Sentral juga menjaga sistem apa kondisi kondisi likuiditas,” ujar Purbaya.
