Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di RI, Ini Gejala yang Perlu Diwaspadai
Wabah Hantavirus Pulmonary Syndrome menjadi perhatian dunia setelah tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi virus tersebut.
Virus yang ditemukan pada kasus itu merupakan Andes Virus, jenis hantavirus yang umum ditemukan di Amerika Selatan dan dikenal sebagai penyebab utama Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), penyakit yang menyerang paru-paru dengan tingkat kematian tinggi.
World Health Organization (WHO) pun memperingatkan potensi munculnya lebih banyak kasus hantavirus tipe HPS di berbagai wilayah.
Meski demikian, WHO menilai wabah tersebut masih dapat dikendalikan melalui langkah kesehatan masyarakat yang ketat dan tepat.
Baca Juga: Anak Orang Kaya Dipersilakan Prabowo Tak Ikut MBG: Tak Dipaksa
23 Kasus Hantavirus di Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat terdapat 23 kasus hantavirus di Indonesia sepanjang 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026.
Dari total tersebut, sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh dan tiga lainnya meninggal dunia.
Secara keseluruhan, tercatat ada 251 kasus suspek hantavirus pada periode yang sama, dengan rincian 225 hasil negatif dan tiga kasus tidak dapat diperiksa.
Kasus hantavirus paling banyak ditemukan pada 2025 dengan 17 kasus.
Sementara pada 2026 hingga minggu ke-16 tercatat lima kasus dan satu kasus ditemukan pada 2024.
Penyebaran kasus tercatat di sejumlah wilayah, yakni Jakarta sebanyak enam kasus, Yogyakarta enam kasus, Jawa Barat lima kasus, serta masing-masing satu kasus di Jawa Timur, Banten, Sumatra Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Barat.
Baca Juga: ASEAN Tetap Solid di Tengah Gejolak Geopolitik Dunia, Seru Prabowo
Gejala Hantavirus di Indonesia
Dalam laporan terbarunya, Kemenkes menjelaskan hantavirus disebabkan kelompok orthohantavirus yang memiliki sekitar 50 varian.
Sebanyak 24 di antaranya diketahui dapat menginfeksi manusia, termasuk Seoul Virus, Hantaan Virus, Andes Virus, dan Sin Nombre Virus.
Infeksi hantavirus pada manusia terbagi menjadi dua bentuk klinis utama.
Pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang ditandai gejala demam, nyeri badan, lemas, batuk, dan sesak napas.
Masa inkubasi penyakit ini sekitar 14 hingga 17 hari dengan tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) mencapai 60 persen.
Bentuk kedua adalah Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Gejalanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri badan, tubuh lemas, hingga kondisi tubuh menguning.
Masa inkubasi HFRS berkisar satu hingga dua minggu dengan tingkat kematian sekitar 5 hingga 15 persen, lebih rendah dibanding HPS.
Kemenkes menyebut seluruh kasus hantavirus yang ditemukan di Indonesia merupakan tipe HFRS yang berasal dari varian Seoul Virus.
Faktor risiko utama penularannya adalah kontak dengan tikus atau celurut, termasuk paparan terhadap ekskresi dan sekresi hewan tersebut.

[…] Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di RI, Ini Gejala yang Perlu Diwaspadai […]
[…] Baca Juga: 23 Kasus Hantavirus Tercata di RI, Ini Gejalanya yang Perlu Diwaspadai […]
[…] Baca Juga: 23 Kasus Hantavirus Tercatat Kemenkes, Apa Saja Gejalanya? […]