UEA Diam-Diam Hantam Iran? Teluk Terancam Meledak
Uni Emirat Arab (UEA) disebut melakukan operasi militer secara rahasia terhadap Iran di tengah eskalasi konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Informasi ini muncul dari sejumlah sumber yang dikutip Wall Street Journal (WSJ) pada Senin (11/5/2026), yang menyebut salah satu target serangan adalah kilang minyak di Pulau Lavan, wilayah Teluk Persia, pada awal April.
Serangan tersebut terjadi bersamaan dengan pengumuman gencatan senjata oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah kampanye udara selama lima pekan. Iran kemudian mengklaim fasilitasnya menjadi sasaran serangan musuh, dan sebagai balasan meluncurkan rudal serta drone ke wilayah UEA dan Kuwait.
Kilang Minyak Iran Terbakar
Serangan ke Pulau Lavan memicu kebakaran besar yang melumpuhkan sebagian kapasitas produksi kilang selama berbulan-bulan. Namun hingga kini, pemerintah UEA tidak memberikan konfirmasi langsung terkait keterlibatan mereka.
Baca Juga : Terlemah Sepanjang Sejarah, Rupiah Tembus 17.500 per Dollar
Kementerian Luar Negeri UEA hanya merujuk pada pernyataan sebelumnya yang menegaskan hak untuk merespons tindakan bermusuhan, termasuk opsi militer. Pentagon juga menolak berkomentar, sementara Gedung Putih tidak memberikan jawaban eksplisit terkait dugaan keterlibatan UEA, hanya menegaskan bahwa Donald Trump memiliki berbagai opsi dengan “pengaruh maksimum” terhadap Iran.
Analis Timur Tengah Dina Esfandiary menilai jika keterlibatan ini benar, maka hal tersebut menjadi titik balik penting karena untuk pertama kalinya negara Teluk secara langsung masuk dalam konflik terbuka melawan Iran.
Iran Hujani UEA Ribuan Rudal dan Drone
Sebelum perang, negara-negara Teluk menyatakan tidak akan menggunakan wilayah mereka untuk menyerang Iran. Namun situasi berubah setelah konflik pecah, ketika Iran justru meluncurkan serangan rudal dan drone ke infrastruktur energi serta bandara di kawasan tersebut.
UEA disebut menjadi negara paling sering menjadi target, dengan lebih dari 2.800 rudal dan drone diarahkan ke wilayahnya lebih banyak dibanding Israel. Serangan tersebut berdampak pada sektor penerbangan, pariwisata, hingga properti, serta memicu pemutusan hubungan kerja dan cuti tanpa bayaran di berbagai sektor ekonomi.
Pejabat Teluk menilai perubahan situasi ini menggeser pandangan strategis UEA terhadap Iran, yang kini dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan kawasan.
UEA Semakin Dekat dengan AS
Sejak eskalasi konflik, UEA disebut semakin mempererat kerja sama militer dengan Amerika Serikat. Peneliti HA Hellyer menyebut bahwa meski UEA tidak menginginkan perang, situasi berubah drastis setelah serangan Iran ke wilayah mereka.
Sementara itu, indikasi keterlibatan UEA mulai mencuat sejak pertengahan Maret ketika jet tempur tak dikenal terekam melintas di langit Iran. Data terbuka juga menunjukkan kemungkinan penggunaan jet Mirage Prancis dan drone Wing Loong China yang dioperasikan UEA.
Baca Juga : Iran Tegaskan Hak Negara Tidak Bisa Diganggu Gugat, Minta Perang Diakhiri
UEA sendiri memiliki kekuatan udara modern dengan jet F-16, Mirage, serta kemampuan pengawasan dan logistik yang dinilai sangat canggih di kawasan. Menurut analis militer AS Dave Deptula, kekuatan udara UEA termasuk yang paling siap untuk operasi presisi.
Selain aspek militer, UEA juga memperketat langkah diplomatik terhadap Iran, termasuk dukungan terhadap resolusi PBB yang membuka opsi penggunaan kekuatan di Selat Hormuz serta pembatasan visa dan akses ekonomi bagi warga Iran.
Iran sendiri menuding UEA telah bergabung dalam kampanye militer yang didukung AS dan Israel, menambah panasnya konflik yang kini semakin kompleks di kawasan Teluk.
