Inflasi China Meledak, Perang AS-Iran Jadi Pemicu
Inflasi di China mengalami kenaikan pada April 2026 seiring melonjaknya harga energi global akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kenaikan biaya minyak mentah dunia ikut mendorong harga konsumen di negeri tersebut.
Berdasarkan data resmi Biro Statistik Nasional China (NBS) yang dirilis Senin (11/5/2026), indeks harga konsumen (CPI/IHK) meningkat 1,2% secara tahunan atau year-on-year (yoy).
“Ini disebabkan oleh perubahan harga minyak mentah internasional dan peningkatan permintaan perjalanan liburan”, kata Kepala Ahli Satistik NBS, Dong Lijuan, dimuat AFP.
Baca Juga : PBB Terkesan Lihat Pembangunan IKN, Nusantara Jadi Sorotan
“Harga gas domestik naik 19,3% secara tahunan,” tambah Dong dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas internasional.
Kenaikan inflasi juga dipengaruhi periode libur panjang Golden Week pada awal Mei yang biasanya meningkatkan aktivitas perjalanan dan konsumsi masyarakat. Meski demikian, angka inflasi tersebut masih berada di bawah target pemerintah China sebesar 2% untuk tahun ini.
Sementara itu, indeks harga produsen (PPI/IHP) pada April melonjak 2,8% yoy, naik signifikan dibandingkan Maret yang hanya 0,5%. Angka ini bahkan melampaui proyeksi Bloomberg sebesar 1,8% dan menjadi laju tercepat sejak Juli 2022.
Indikator PPI sebelumnya sempat berada di zona negatif sejak Oktober dan baru mulai pulih pada Maret lalu.
“Kenaikan harga minyak mentah internasional mendorong kenaikan harga di sektor-sektor terkait minyak bumi domestik,” kata Dong lagi dari dalam sebuah pernyataan, sambil menyebutkan pengolahan bahan bakar dan manufaktur bahan baku.
Meski inflasi meningkat, sejumlah analis menilai dampak perang Iran terhadap harga hanya bersifat sementara dan belum cukup kuat mendorong reflasi ekonomi China secara berkelanjutan.
“Dampak dari Perang Iran kembali mendorong inflasi pada bulan April, tetapi tekanan harga tetap terbatas dan kemungkinan tidak akan berkembang menjadi dorongan reflasi yang lebih luas,” kata Capital Economics dalam sebuah catatan.
“(Dengan) kelebihan kapasitas di sebagian besar sektor yang belum terselesaikan dan pertumbuhan permintaan domestik yang masih lambat, unsur-unsur untuk dorongan reflasi yang berkelanjutan tampaknya masih belum ada,” tambahnya.
Data Rinci
Mengutip Trading Economics, inflasi non-makanan tercatat meningkat menjadi 1,8% dari sebelumnya 1,2% pada Maret. Biaya transportasi melonjak menjadi 4,6% dari sebelumnya 0,9% akibat tingginya harga energi dan terganggunya rantai pasok karena konflik Timur Tengah.
Harga pakaian, layanan kesehatan, dan pendidikan juga terus mengalami kenaikan. Sementara itu, biaya perumahan masih mengalami penurunan tipis sebesar 0,2%.
Baca Juga : Hantavirus Masuk Indonesia, Kemenkes Catat 23 Kasus
Di sektor makanan, harga justru turun 1,6% setelah sebelumnya naik 0,3% pada Maret. Penurunan itu dipicu melemahnya harga daging babi serta turunnya harga sayur dan buah segar.
Inflasi inti China yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik 1,2% yoy, sedikit lebih tinggi dibandingkan Maret sebesar 1,1%.
Secara bulanan, CPI China meningkat 0,3% setelah sebelumnya turun 0,7%. Angka tersebut berlawanan dengan prediksi pasar yang memperkirakan penurunan 0,1%.

[…] Baca Juga: Perang AS-Iran Jadi Pemicu Inflasi China Meledak […]