6 Hasil Pertemuan Trump-Xi, dari Boeing hingga Hormuz
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menggelar pertemuan tingkat tinggi di Beijing, Kamis (15/5/2026).
Pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam itu menghasilkan sejumlah pembahasan strategis mulai dari kerja sama ekonomi hingga isu geopolitik global.
Trump memuji Xi sebagai “pemimpin besar” dan “teman” di tengah upaya memperkuat hubungan kedua negara yang selama ini dibayangi ketegangan dagang dan keamanan.
Meski berlangsung hangat, isu sensitif terkait Taiwan tetap menjadi salah satu fokus utama dalam pembicaraan kedua pemimpin dunia tersebut.
Berikut sejumlah poin penting hasil pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing.
China Borong 200 Pesawat Boeing
Trump mengungkapkan China sepakat membeli 200 unit pesawat Boeing untuk mempererat hubungan dagang kedua negara.
“Itu semacam pernyataan tapi saya pikir itu adalah sebuah komitmen,” kata Trump saat menggambarkan percakapannya dengan Xi dalam wawancara bersama Fox News.
Trump menilai pesanan “200 pesawat besar” itu akan berdampak signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja di Amerika Serikat.
Komitmen tersebut juga menjadi kabar positif bagi Boeing setelah pesanan besar terakhir dari China terjadi pada 2017 saat kunjungan pertama Trump ke Beijing.
Baca Juga: Taiwan Jadi Sorotan saat Trump-Xi Bertemu di Beijing
China Disebut Siap Bantu Soal Selat Hormuz
Dalam isu Timur Tengah, Trump mengklaim Xi menawarkan bantuan China untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Selain itu, Xi disebut menjanjikan Beijing tidak akan mengirim peralatan militer untuk membantu Iran dalam konflik melawan AS dan Israel.
“Dia (Xi) mengatakan tidak akan memberikan peralatan militer… dia mengatakannya dengan tegas,” ujar Trump kepada acara “Hannity” di Fox News.
Trump menambahkan Xi ingin Selat Hormuz tetap terbuka demi jalur perdagangan internasional.
Xi Beri Peringatan soal Taiwan
Meski hubungan kedua pemimpin tampak cair, Xi Jinping tetap memberikan peringatan keras terkait isu Taiwan.
Xi menyebut kesalahan langkah terkait Taiwan dapat menyeret China dan AS ke dalam konflik besar.
“Jika salah dikelola, kedua negara bisa bertabrakan atau bahkan terlibat konflik, mendorong seluruh hubungan China-AS ke dalam situasi yang sangat berbahaya,” tegas Xi menurut laporan media pemerintah China.
Menanggapi hal itu, pemerintah Taiwan menyatakan Beijing menjadi “satu-satunya risiko” bagi stabilitas kawasan karena aktivitas militernya.
China Tertarik Beli Minyak dan Kedelai AS
Trump juga mengatakan China tertarik membeli minyak dan kedelai dari Amerika Serikat.
“Mereka telah setuju bahwa mereka ingin membeli minyak dari Amerika Serikat,” kata Trump kepada pembawa acara Fox News Sean Hannity.
China sebelumnya menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran dan sempat mengurangi impor minyak serta kedelai dari AS setelah kebijakan tarif Trump diberlakukan.
AS-China Bahas Protokol AI
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkapkan Washington dan Beijing tengah membahas pembentukan “guardrails” atau pagar pembatas penggunaan kecerdasan buatan (AI).
Menurut Bessent, kedua negara ingin memastikan teknologi AI canggih tidak jatuh ke tangan aktor non-negara.
Diskusi tersebut dinilai penting karena AS dan China saat ini menjadi dua kekuatan besar dalam pengembangan AI dunia.
Kehadiran tokoh teknologi seperti Elon Musk dan Jensen Huang dalam delegasi Trump juga menunjukkan pentingnya kerja sama tersebut.
Trump Undang Xi ke Gedung Putih
Sebagai kelanjutan diplomasi kedua negara, Trump secara resmi mengundang Xi Jinping berkunjung ke Gedung Putih pada 24 September mendatang.
Undangan itu disampaikan langsung dalam jamuan makan malam kenegaraan yang turut dihadiri Ibu Negara China Peng Liyuan.
Selain hubungan bilateral, kedua pemimpin juga membahas berbagai isu internasional lain seperti perang di Timur Tengah, krisis Ukraina, dan situasi keamanan di Semenanjung Korea.
Baca Juga: Arab Saudi-Kuwait Diam-Diam Serang Irak, Kepercayaan ke AS Retak
