Arab Saudi-Kuwait Diam-Diam Serang Irak, Kepercayaan ke AS Retak
Arab Saudi dan Kuwait dilaporkan melancarkan serangan udara rahasia ke wilayah Irak yang menargetkan kelompok paramiliter pro-Iran. Operasi militer yang dilakukan secara tertutup itu disebut menjadi tanda meningkatnya ketidakpercayaan negara-negara Teluk terhadap efektivitas perlindungan keamanan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, Jumat (15/5/2026), serangan tersebut terjadi pada Rabu lalu. Operasi itu disebut sebagai bentuk respons mandiri atas ancaman yang masuk ke wilayah kedaulatan negara-negara Teluk di tengah merosotnya keyakinan mereka terhadap jaminan keamanan dari Washington.
Baca Juga : OJK Janji Emiten Baru dan Berkualitas Bakal Banjiri BEI
Walaupun Arab Saudi dan Kuwait selama ini menjadi lokasi pangkalan militer utama AS, kedua negara tetap menjadi sasaran serangan drone dan rudal yang dikaitkan dengan balasan Iran atas operasi militer AS-Israel sejak Februari lalu.
Hasil investigasi menunjukkan ratusan drone yang menyerang fasilitas penting di wilayah Teluk diduga berasal dari Irak, terutama dari kelompok Kataib Hezbollah yang berbasis di wilayah selatan negara tersebut.
Targetkan Milisi Pro-Iran di Irak
Jet tempur Arab Saudi disebut menyerang posisi milisi pro-Iran di Irak sesaat sebelum gencatan senjata antara AS dan Iran diberlakukan pada awal April.
Sementara itu, otoritas Irak mengungkapkan sedikitnya dua serangan rudal diluncurkan dari wilayah Kuwait guna menghancurkan titik-titik strategis milik Kataib Hezbollah.
Ketegangan antara negara-negara Teluk dan Irak sebenarnya sudah meningkat sejak Maret. Saat itu, Arab Saudi dan Kuwait memperingatkan pemerintah Baghdad agar segera menertibkan kelompok milisi yang didukung Iran.
Kuwait bahkan tercatat tiga kali memanggil perwakilan diplomatik Irak, sedangkan Arab Saudi juga sempat memanggil duta besar Irak pada bulan lalu terkait eskalasi keamanan kawasan.
Negara Teluk Mulai Ragukan Perlindungan AS
Sejumlah pengamat menilai langkah militer yang diambil Arab Saudi dan Kuwait dipicu kekecewaan terhadap Amerika Serikat yang dianggap memicu konflik tanpa koordinasi strategis dengan sekutu regionalnya.
Profesor madya politik dari Universitas Zayed di Abu Dhabi, Khaled Almezaini, mengatakan negara-negara Teluk mulai mempertanyakan bentuk kemitraan keamanan dengan Washington.
Baca Juga : Trump Kunjungan ke China, Bahas Iran hingga Taiwan dengan Xi
“Pertanyaan yang paling mendasar adalah mengenai konsultasi. Apakah negara-negara Teluk benar-benar mendapatkan jenis kemitraan dan dukungan keamanan yang mereka rasa perlu jika Amerika Serikat akan terlibat secara militer di kawasan ini,” kata Almezaini kepada The Guardian.
Meningkatnya eskalasi konflik membuat banyak analis mulai meragukan masa depan ketergantungan militer negara-negara Teluk terhadap AS.
Kini muncul kekhawatiran di kalangan monarki Teluk bahwa keberadaan pangkalan militer AS bukan lagi menjadi jaminan perlindungan, melainkan justru dapat memicu ancaman baru terhadap stabilitas nasional mereka.

[…] Arab Saudi-Kuwait Diam-Diam Serang Irak, Kepercayaan ke AS Retak […]