Trump Tanggapi Serangan Sekolah di Iran yang Tewaskan 175 Orang
Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya menanggapi pertanyaan terkait serangan udara AS yang menghantam sebuah sekolah di Kota Minab, Iran, pada hari pertama perang antara kedua negara.
Serangan tersebut menewaskan 175 orang, dengan sebagian besar korban merupakan anak-anak. Saat ditanya mengenai pihak yang bertanggung jawab atas insiden itu, Trump tidak memberikan jawaban langsung, namun mengakui bahwa kesalahan dapat terjadi dalam situasi perang.
“Kesalahan bisa terjadi. Perang itu mengerikan,” ujar Trump kepada wartawan saat menghadiri KTT G7 di Prancis, Rabu (17/6/2026), seperti dikutip dari The New York Times.
Baca Juga : AS Taken Kesepakatan Damai, Sanksi Minyak Iran Dicabut
“Tidak ada yang melakukan itu dengan sengaja,” tambahnya.
Pernyataan tersebut dinilai sebagai pengakuan paling dekat yang pernah disampaikan Trump terkait tanggung jawab Amerika Serikat atas serangan mematikan tersebut.
Pentagon Masih Menyelidiki
Lebih dari 100 hari setelah dua serangan udara menghancurkan Sekolah Dasar Shajarah Tayyebeh di Minab, penyelidikan resmi masih berlangsung di Pentagon.
Ketika ditanya apakah hasil investigasi akan dipublikasikan kepada masyarakat, Trump mengarahkan pertanyaan tersebut kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Di balik layar, sejumlah pejabat militer Amerika Serikat disebut telah mengakui bahwa pasukan AS memang melakukan serangan tersebut dan menganggapnya sebagai kegagalan intelijen.
Sekolah yang menjadi sasaran berada di dekat pangkalan militer yang digunakan oleh Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran. Lokasi sekolah tersebut diketahui sebelumnya merupakan bagian dari kompleks pangkalan militer.
Diduga Gunakan Citra Satelit Lama
Menurut hasil investigasi internal yang dikutip sejumlah pejabat AS, personel militer yang menentukan target serangan menggunakan citra satelit yang tidak diperbarui selama tujuh tahun.
Karena data yang digunakan sudah usang, citra tersebut tidak menunjukkan keberadaan sekolah yang telah beroperasi di dekat pangkalan militer.
Meski demikian, sedikitnya dua orang yang terlibat dalam proses penilaian lokasi sebenarnya mengetahui adanya perubahan fungsi bangunan yang digunakan sebagai sekolah.
Informasi tersebut disebut tidak sampai kepada pejabat yang memiliki kewenangan dalam proses penargetan serangan.
Akibatnya, para pejabat intelijen dan militer tetap mengklasifikasikan lokasi tersebut sebagai target yang sah untuk diserang.
Serangan Ganda Perbesar Korban
Laporan menyebut puluhan siswa meninggal dunia dalam gelombang serangan pertama.
Korban kemudian bertambah setelah serangan kedua menghantam area yang sama dalam taktik yang dikenal sebagai “double tap strike” atau serangan ganda.
Metode tersebut membuat jumlah korban sipil meningkat secara signifikan karena banyak orang masih berada di lokasi untuk melakukan evakuasi dan penyelamatan setelah serangan awal.
Salah Satu Insiden Korban Sipil Terburuk Sejak 1991
Analisis citra satelit yang dilakukan The New York Times menunjukkan beberapa serangan presisi menghantam sedikitnya enam bangunan milik Garda Revolusi Iran bersama dengan kompleks sekolah tersebut.
Baca Juga : Hubungan Netanyahu dan Trump Memanas dalam Upaya Perdamaian Iran
Insiden di Minab kini disebut sebagai peristiwa dengan korban sipil terbesar yang disebabkan oleh operasi militer Amerika Serikat sejak 1991.
Sebagai perbandingan, pada tahun 1991 sebuah pesawat tempur siluman AS membombardir tempat perlindungan serangan udara sipil di Baghdad, Irak, yang menewaskan lebih dari 400 orang, sebagian besar perempuan, anak-anak, dan lansia.
Peristiwa di Minab kembali memicu perdebatan mengenai akurasi intelijen militer, perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata, serta transparansi pemerintah Amerika Serikat dalam mengungkap hasil investigasi atas insiden yang menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar.
