Arab Saudi Kembali Andalkan Selat Hormuz untuk Ekspor Minyak
Rencana Arab Saudi mengalihkan ekspor minyak agar tidak melewati Selat Hormuz kini menghadapi kendala setelah sejumlah jalur alternatif lumpuh akibat serangan.
Riyadh sebelumnya berupaya mengalirkan minyak melalui Laut Merah dan jaringan pipa darat untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur perairan strategis tersebut.
Namun, kondisi tersebut membuat Arab Saudi kembali mengirim minyak mentah dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz yang masih menghadapi ancaman serangan.
Berdasarkan data pelacak kapal Kpler, sekitar 2,4 juta barel minyak mentah dan kondensat Arab Saudi per hari kembali melewati Selat Hormuz dalam dua pekan terakhir.
Baca Juga: CNN, MS Now, serta Politico Gugat Trump Usai Dilarang Liput Gedung Putih
Jalur Alternatif Arab Saudi Lumpuh
Volume tersebut menjadi yang tertinggi sejak awal Juli, sebelum kelompok Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi di Laut Merah.
Data Vortexa menunjukkan rata-rata pengiriman minyak mentah dari dalam Teluk Persia bahkan mencapai lebih dari 2 juta barel per hari pada pekan lalu.
Padahal, volume tersebut sempat mendekati nol sepanjang Juni dan berada di bawah 1 juta barel per hari pada Juli.
Sebaliknya, pengiriman minyak dari terminal Laut Merah turun menjadi nol sejak awal September, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Selasa (22/9/2026).
Untuk mengurangi risiko serangan rudal dan drone Iran serta kelompok yang menjadi sekutunya, Saudi Aramco menerapkan pola pengiriman khusus.
Minyak dari terminal Ras Tanura di Teluk Persia dikirim melewati Selat Hormuz, kemudian dipindahkan ke kapal lain di lepas pantai Sohar, Oman, sebelum diteruskan kepada pelanggan utama di Asia seperti China, Korea Selatan, dan Jepang.
“Kami benar-benar melihat Arab Saudi memuat lebih banyak minyak mentah dari Ras Tanura dan mengangkutnya lewat sana,” ujar Richard Matthews, Direktur Konsultasi dan Riset di perusahaan pialang kapal EA Gibson.
Menurut Matthews, Arab Saudi sebelumnya tidak menggunakan metode tersebut karena masih memiliki pilihan rute lain.
“Tetapi opsi-opsi tersebut kini sudah tidak ada lagi,” ucapnya.
Tingginya kebutuhan terhadap rute tersebut bahkan membuat kapal supertanker berusia sekitar 20 tahun kembali digunakan untuk mengangkut minyak.
Sebelumnya, Arab Saudi mengalihkan jutaan barel minyak melalui East-West Pipeline menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Ketika Houthi meningkatkan serangan terhadap pelayaran yang berkaitan dengan Arab Saudi di sekitar Bab el-Mandeb pada Juli, sebagian kargo dialihkan ke utara melalui Mesir menggunakan Terusan Suez dan sistem pipa Sumed.
Namun, jalur tersebut ikut terganggu setelah serangan drone dari Irak melumpuhkan East-West Pipeline pada awal September.
Selat Hormuz Tetap Berisiko
Di tengah lumpuhnya jalur alternatif, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz tetap menghadapi risiko serangan.
Pada Senin (21/9/2026), sebuah kapal tanker yang memasuki selat tersebut terkena proyektil tidak dikenal dan menyebabkan dua awak kapal terluka, menurut lembaga Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO).
Kapal tanker lainnya juga dilaporkan terkena puing-puing akibat insiden tersebut.
Sebelumnya pada September, dua supertanker yang membawa minyak mentah Arab Saudi terkena proyektil tidak dikenal dalam waktu berdekatan ketika berlayar keluar dari Selat Hormuz.
Peneliti senior tidak tetap di Center for a New American Security, Rachel Ziemba, mengatakan kondisi tersebut menjadi peringatan bagi pasar energi global.
“Ini adalah pengingat bahwa jalur alternatif tidak sepenuhnya aman. Semua opsi memiliki masalah dan biayanya masing-masing, seiring meningkatnya tarif kapal tanker dan asuransi yang beriringan dengan risiko fisik,” kata Ziemba.
Kembalinya ketergantungan terhadap Selat Hormuz juga membuat biaya pengiriman minyak melonjak.
Michael Haigh, Kepala Riset Komoditas di bank asal Perancis Societe Generale, mencatat biaya pengangkutan minyak mentah dari Pelabuhan Ras Tanura menuju Pelabuhan Ningbo di China meningkat dari sekitar 4,5 juta dollar AS menjadi hampir 63 juta dollar AS untuk setiap perjalanan.
Untuk mengimbangi tingginya biaya pengiriman dan risiko yang ditanggung pembeli di Asia, Saudi Aramco diperkirakan dapat memberikan potongan harga minyak.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian global.
Militer AS sejauh ini berupaya menekan serangan Iran agar jutaan barel minyak tetap dapat melewati Selat Hormuz setiap hari.
Namun, serangkaian serangan kelompok yang didukung Iran di Irak dan Houthi terus mengganggu upaya tersebut.
Baca Juga: Inggris dan AS Uji Torpedo dari Drone Bawah Laut Excalibur
Rute Darat Dinilai Tak Bisa Gantikan Hormuz
Sejumlah analis dan pejabat mulai mempertanyakan kemampuan jalur darat untuk menggantikan peran Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan energi.
“Membangun jalur alternatif tidak serta-merta menyelesaikan masalah, melainkan hanya menciptakan sasaran baru,” ujar Danny Citrinowicz, mantan pejabat intelijen militer Israel dan peneliti senior di Institute for National Security Studies, Tel Aviv.
“Tidak ada solusi ajaib, dan Anda tidak bisa melawan kondisi geografi,” lanjutnya.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan pembangunan jalur pipa baru dapat membuat Selat Hormuz tidak lagi menjadi jalur penting dalam dua tahun mendatang.
Namun, pernyataan tersebut dibantah Menteri Energi Qatar Saad Sherida Al-Kaabi.
Qatar merupakan salah satu negara yang mengandalkan Selat Hormuz untuk mengekspor gas alam cair (LNG).
“Ini sepenuhnya salah. Jalur perairan ini membawa perdagangan untuk semua produk, bukan hanya minyak dan gas, dari dan ke seluruh negara di sekitarnya,” ujar Al-Kaabi dalam ajang Qatar Economic Forum di New York.
