Arab Saudi Temukan 110 Juta Ton Mineral di Madinah
Arab Saudi mengumumkan temuan besar di sektor pertambangan. Kerajaan mengungkap adanya sekitar 110 juta ton bijih yang mengandung mineral tanah jarang dan uranium di kawasan Jabal Sayid, Madinah.
Temuan tersebut diumumkan dalam Sidang Reguler ke-70 Konferensi Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Senin.
Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan eksplorasi dan kajian geologi di Jabal Sayid menunjukkan adanya sumber daya dengan konsentrasi mineral tanah jarang yang tinggi.
Baca Juga : MBS Temui Panglima CENTCOM di Tengah Konflik Houthi
“Eksplorasi dan studi geologi pada proyek Jabal Sayid di Madinah telah mengungkapkan perkiraan sumber daya sekitar 110 juta ton bijih dengan konsentrasi mineral tanah jarang yang tinggi, terutama unsur-unsur berat, di samping konsentrasi uranium yang menjanjikan,” kata kata Menteri Energi Pangeran Abdulaziz bin Salman, dikutip dari Arab News, Selasa (15/9/2026).
Jabal Sayid berada sekitar 350 kilometer timur laut Jeddah. Kawasan tersebut disebut memiliki salah satu deposit mineral tanah jarang yang bernilai penting di dunia.
Analisis Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), yang mengutip estimasi Kementerian Perindustrian dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi serta data perusahaan tambang negara Maaden, menyebut Jabal Sayid sebagai salah satu lokasi tanah jarang terbesar di dunia.
Kawasan tersebut diperkirakan menyimpan sekitar 552.000 ton logam tanah jarang berat, termasuk disprosium dan terbium. Selain itu, terdapat sekitar 355.000 ton tanah jarang ringan, seperti neodymium dan praseodymium.
Di lokasi yang sama juga diperkirakan terdapat sekitar 31.000 ton sumber daya uranium.
Potensi tersebut sejalan dengan ambisi Arab Saudi untuk membangun kemampuan pengolahan bahan bakar nuklir sendiri. Kerajaan juga membuka peluang untuk mengembangkan bahan bakar nuklir yang nantinya dapat diekspor ke Amerika Serikat (AS).
Pengumuman temuan ini muncul beberapa bulan setelah Arab Saudi dan AS meresmikan kerja sama nuklir sipil melalui kesepakatan yang ditandatangani pada 22 Juli.
Hubungan kedua negara di sektor mineral juga telah diperkuat sejak November 2025. Washington dan Riyadh mengembangkan kerja sama terkait mineral penting dan rantai pasok, termasuk melalui kemitraan antara perusahaan tambang milik negara Arab Saudi, Maaden, dengan perusahaan AS, MP Materials.
Kerja sama tersebut kemudian menghasilkan Kerangka Kerja Strategis untuk bidang mineral, logam, dan uranium penting.
Baca Juga : Arab Saudi Temukan Jutaan Ton Bijih Uranium Mengandung Uranium
Dalam kesepakatan tersebut, Departemen Pertahanan AS disebut menyetujui pembiayaan 49% pembangunan fasilitas pengolahan logam tanah jarang baru di Arab Saudi. Maaden akan memegang 51% saham pengendali bersama MP Materials.
MP Materials sendiri saat ini mengoperasikan satu-satunya tambang dan fasilitas pemrosesan logam tanah jarang di AS.
Saudi Press Agency melaporkan nilai temuan unsur tanah jarang di Arab Saudi mencapai sekitar US$100 miliar atau Rp1.760 triliun.
Selain Jabal Sayid, Survei Geologi Saudi juga telah mengidentifikasi dua kawasan eksplorasi tahap lanjut dengan estimasi sumber daya mencapai 644 juta ton.
Temuan tersebut memperkuat posisi sektor pertambangan sebagai salah satu bagian dari upaya Arab Saudi mengembangkan sumber daya strategis di luar sektor minyak dan gas.
