Arab Saudi Tolak Tawaran Israel untuk Perangi Houthi
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) menolak tawaran Israel untuk bergabung dalam operasi militer melawan kelompok Houthi di Yaman.
Penolakan tersebut tetap dilakukan meski Israel berupaya mendapatkan persetujuan Riyadh melalui mediasi Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari surat kabar Israel, Haaretz, pada Senin (12/10/2026), MBS disebut tidak tertarik menerima bantuan militer Israel karena khawatir kerja sama tersebut memicu reaksi negatif dari masyarakat Arab Saudi.
Baca Juga: Trump Yakin China dan Rusia Tak Bantu Iran, Apa Alasannya?
Laporan itu mengutip sumber diplomatik yang tidak disebutkan namanya.
Sumber lain yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan Israel berharap kolaborasi militer dengan Arab Saudi dapat mempererat hubungan bilateral kedua negara sekaligus membuka jalan menuju kesepakatan normalisasi hubungan pada masa mendatang.
Arab Saudi selama ini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Riyadh juga berulang kali menegaskan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel bergantung pada penyelesaian persoalan Palestina, termasuk pembentukan negara Palestina.
Serangan Houthi Meningkat, Bandara Arab Saudi Jadi Sasaran
Laporan mengenai penolakan bantuan militer Israel muncul di tengah meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.
Serangan berulang yang menyasar bandara dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan mengganggu operasional penerbangan.
Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu menewaskan 13 orang dan menyebabkan lebih dari 300 orang lainnya terluka.
Sehari kemudian, bandara yang sama kembali menjadi sasaran serangan.
Menurut Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi, serangan pada Minggu tersebut menewaskan seorang warga Pakistan yang tinggal di Arab Saudi dan melukai 11 orang lainnya.
Peningkatan serangan itu terjadi setelah situasi relatif tenang selama beberapa waktu, menyusul berlakunya gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada April 2022.
Baca Juga: IMF Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,1 Persen pada 2026
Yaman sendiri telah dilanda perang sejak September 2014, ketika kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi lainnya.
Pada Maret 2015, koalisi militer pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.
Di tengah kembali meningkatnya konflik, tawaran bantuan militer Israel menempatkan Riyadh pada situasi diplomatik yang sensitif, mengingat belum adanya hubungan diplomatik kedua negara dan posisi Arab Saudi yang mengaitkan normalisasi hubungan dengan penyelesaian persoalan Palestina.
