Trump Dekati Rusia, tetapi Siapkan Ancaman Baru untuk Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah mengambil sejumlah langkah kebijakan luar negeri yang berbeda terhadap Rusia dan Iran.
Dalam sepekan terakhir, Trump mengisyaratkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS 2026, sekaligus menyatakan rencana pembelian bahan bakar diesel dari Rusia.
Di tengah ketegangan dengan sekutu-sekutu Eropa, Trump juga mengumumkan “gencatan senjata energi” yang tampaknya mengejutkan Ukraina, membuka kemungkinan konfrontasi baru dengan kelompok Houthi, serta mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk mundur.
Berbagai langkah tersebut memperlihatkan pendekatan Trump dalam menyeimbangkan kepentingan energi, keamanan, dan politik domestik AS.
Dilansir dari The Wall Street Journal, Senin (12/10/2026), perbedaan sikap Trump terhadap Rusia dan Iran juga berkaitan dengan pandangannya mengenai kepentingan strategis Amerika Serikat serta persaingan geopolitik global.
Baca Juga: Bandara Riyadh Kembali Diserang, 1 Orang Tewas dan 11 Terluka
Mengapa Trump Berbeda Sikap terhadap Rusia dan Iran?
Trump sejak lama memandang Iran sebagai ancaman terhadap kepentingan Amerika Serikat, terutama terkait potensi pengembangan senjata nuklir dan penguasaan sumber daya energi di Teluk Persia.
Di sisi lain, Trump meyakini bahwa bahan bakar fosil tetap menjadi faktor penting dalam kekuatan ekonomi dan geopolitik dunia.
Pandangan tersebut turut menjelaskan rencananya membeli bahan bakar diesel dari Rusia, meskipun hubungan Washington dengan sejumlah sekutu Eropa sedang menghadapi ketegangan.
Trump melihat peluang kerja sama strategis dengan Moskwa, termasuk untuk mencegah Rusia semakin bergantung kepada China serta menjaga kepentingan kedua negara sebagai produsen energi utama dunia.
Selain itu, Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin memiliki pandangan kritis terhadap kelompok liberal Eropa.
Pendekatan tersebut berbeda dengan sikap Trump terhadap Iran yang cenderung mengedepankan tekanan dan ancaman militer.
Perbedaan ini juga berkaitan dengan dinamika di dalam koalisi politik pendukung Trump, Make America Great Again (MAGA), yang terdiri atas kelompok dengan pandangan berbeda mengenai keterlibatan AS dalam konflik internasional.
Kelompok garis keras menginginkan tekanan lebih besar terhadap Rusia dan Iran. Sementara itu, kelompok yang mendukung kebijakan menahan diri menginginkan hubungan lebih baik dengan Moskwa dan berkurangnya keterlibatan AS di Timur Tengah.
Trump berupaya mengakomodasi kedua kelompok tersebut dengan mengambil sikap lebih keras terhadap Iran, tetapi tetap membuka peluang kerja sama dengan Rusia.
Rencana pembelian diesel Rusia juga berpotensi memberikan keuntungan politik apabila membantu menurunkan harga bahan bakar menjelang pemilihan paruh waktu.
Dengan demikian, kebijakan luar negeri Trump tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarnegara, tetapi juga kepentingan ekonomi dan upayanya mempertahankan dukungan politik di dalam negeri.
Baca Juga: Iran Prihatin atas Serangan Houthi ke Arab Saudi
Perang Iran dan Ukraina Jadi Tantangan Politik Trump
Meski berupaya menyeimbangkan kepentingan para pendukungnya, kebijakan Trump menghadapi tantangan berupa penolakan publik terhadap sejumlah keputusan pemerintahannya.
Perang dengan Iran dinilai membebani masyarakat melalui kenaikan harga energi. Sementara itu, pendekatan yang lebih lunak terhadap Rusia juga tidak memperoleh dukungan luas.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi koalisi MAGA yang selama ini lebih banyak disatukan oleh kepercayaan terhadap kepemimpinan Trump dibandingkan kesamaan ideologi.
Para pendukung Trump berharap ia mampu memperketat keamanan perbatasan, memberantas kartel narkoba, mengembalikan industri manufaktur, dan meningkatkan kesejahteraan pekerja Amerika.
Namun, konflik internasional yang berkepanjangan berpotensi memperlebar kesenjangan antara janji politik dan hasil pemerintahannya.
Perang Rusia-Ukraina belum mereda, sedangkan konflik Iran terus memicu kekhawatiran mengenai harga bahan bakar dan keamanan pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Tekanan tersebut semakin besar menjelang pemilihan paruh waktu 2026, ketika Partai Republik menghadapi prospek politik yang sulit berdasarkan sejumlah jajak pendapat.
Selain konflik internasional, inflasi, suku bunga, dan potensi melemahnya pengaruh politik presiden turut menjadi tantangan bagi Trump.
Dalam situasi tersebut, Trump diperkirakan akan terus mengandalkan kebijakan luar negeri yang mengejutkan untuk mencari terobosan politik sekaligus mempertahankan dukungan terhadap pemerintahannya.
Perbedaan pendekatan terhadap Rusia dan Iran pun menjadi bagian dari upaya Trump menyeimbangkan kepentingan geopolitik, harga energi, dan tuntutan politik domestik menjelang pemilu paruh waktu AS.
