Perang Houthi-Saudi Berawal dari Salah Perhitungan, Riyadh Tak Siap
Arab Saudi kembali terseret dalam konflik dengan kelompok Houthi di Yaman setelah serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) menghantam sejumlah wilayah kerajaan tersebut.
Konflik yang kembali memanas pada 2026 ini menjadi tantangan bagi Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman yang tengah berupaya menjadikan negaranya sebagai pusat investasi, pariwisata, dan penyelenggaraan ajang olahraga internasional.
Diketahui, sejumlah pakar menilai Arab Saudi tidak siap menghadapi peningkatan serangan Houthi akibat kesalahan perhitungan politik dan militer.
Kesalahan tersebut mencakup memburuknya hubungan dengan Uni Emirat Arab (UEA), lemahnya koordinasi dengan kelompok bersenjata sekutu di Yaman, serta ketergantungan pada dukungan Amerika Serikat (AS).
Perang saudara Yaman kembali berkecamuk pada musim panas 2026 setelah relatif mereda selama beberapa tahun, sebelum meningkat tajam pada September.
Arab Saudi kini mendukung operasi militer melawan Houthi yang dinamakan Fajar Yaman atau Yemen’s Dawn.
Serangan kelompok tersebut turut mengganggu infrastruktur minyak, ekspor, dan penyelenggaraan kegiatan internasional di Arab Saudi.
Menurut otoritas Saudi, sedikitnya tiga orang, termasuk seorang pilot, tewas akibat serangan terhadap sejumlah bandara.
Sejumlah festival film, konser, dan acara penghargaan juga terpaksa ditunda akibat situasi keamanan yang memburuk.
“Mereka hanya ingin konflik itu tetap sejauh mungkin dari mereka tanpa mengganggu rencana transformasi akibat ulah Houthi,” kata mantan Duta Besar AS untuk Arab Saudi, Michael Ratney.
Baca Juga: Arab Saudi Tingkatkan Kapasitas Ekspor Minyak
Perpecahan Arab Saudi dan UEA Melemahkan Koordinasi Militer
Salah satu faktor yang dinilai melemahkan posisi Arab Saudi adalah memburuknya hubungan dengan UEA setelah pesawat tempur Saudi menyerang pengiriman kendaraan militer milik UEA ke Yaman pada akhir 2025.
Insiden tersebut mengakhiri kerja sama militer kedua negara yang telah berlangsung sekitar satu dekade.
UEA kemudian menarik pasukannya dari Yaman, sehingga ribuan pejuang sekutunya kehilangan sistem komando yang sebelumnya dijalankan oleh Abu Dhabi.
Seorang pejabat Yaman selatan mengatakan, penarikan pasukan tersebut tidak disertai proses transisi yang memadai.
“Sistem komando dan kendali pihak Emirat sangat efisien, dan pihak Saudi tidak mampu menggantikan efisiensi tersebut,” ujarnya kepada CNN.
Perpecahan itu juga memicu ketegangan diplomatik antara kedua negara.
Arab Saudi menuduh UEA memperburuk ketidakstabilan di Yaman dan Sudan.
Hilangnya koordinasi dengan UEA membuat Arab Saudi menghadapi tantangan dalam mengelola kelompok bersenjata yang sebelumnya menjadi bagian dari upaya melawan Houthi.
Kondisi tersebut turut memengaruhi kesiapan Riyadh ketika konflik kembali meluas dan serangan mulai menyasar wilayah kerajaan.
Baca Juga: Arab Saudi Disorot setelah Peringatan Dini Serangan Riyadh
Serangan Houthi Meluas ke Arab Saudi
Situasi semakin memburuk setelah AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Pada Juli 2026, Iran mengirim pesawat untuk membawa delegasi Houthi menghadiri pemakaman Khamenei di Teheran.
Arab Saudi kemudian menyerang Bandara Sana’a untuk mencegah pesawat tersebut mendarat karena penerbangan itu dinilai melanggar blokade udara terhadap Yaman.
Houthi membalas dengan mengakhiri gencatan senjata dan mengumumkan blokade laut terhadap kapal-kapal Saudi.
Kelompok tersebut juga merebut wilayah strategis di sekitar Selat Bab El Mandeb serta menyerang fasilitas minyak dan jaringan pipa Arab Saudi.
Serangan terhadap infrastruktur energi itu mengganggu pasokan minyak mentah dan mendorong kenaikan harga.
Arab Saudi merespons dengan melancarkan ratusan serangan udara terhadap kelompok Houthi.
Namun, analis International Crisis Group, Ahmed Nagi, menilai Riyadh tidak mempersiapkan diri secara memadai untuk menghadapi serangan tersebut.
Menurut Nagi, hilangnya wilayah yang sebelumnya dikuasai sekutu Arab Saudi di Yaman juga melemahkan moral pasukan yang didukung Riyadh.
Konflik tersebut menjadi tantangan bagi Mohammed bin Salman yang berupaya mempertahankan agenda transformasi ekonomi dan menarik investasi asing ke Arab Saudi di tengah meningkatnya ancaman keamanan.
Serangan Houthi terhadap bandara dan infrastruktur penting juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi serta agenda internasional yang menjadi bagian dari rencana pembangunan kerajaan.
