AS Ambil Kendali Minyak Venezuela, Warga Khawatir Kedaulatan Terancam
Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengambil kendali mayoritas atas sebagian besar cadangan minyak Venezuela menuai reaksi beragam dari masyarakat setempat.
Langkah tersebut diumumkan pada Jumat (28/8/2026), beberapa bulan setelah AS menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu. Bagi sebagian warga Venezuela, keputusan itu menjadi konsekuensi dari perubahan politik yang terjadi di negara tersebut.
Minyak selama ini menjadi salah satu aset paling penting bagi Venezuela. Sumber daya alam tersebut bahkan telah lama dianggap sebagai bagian dari identitas nasional setelah pemerintah Venezuela menasionalisasi industri minyak pada 1970-an.
Baca Juga: Blokade AS Hambat Impor Bahan Bakar, Iran Krisis BBM
Namun, di tengah krisis ekonomi yang berlangsung selama bertahun-tahun, sebagian warga berharap keterlibatan AS dapat membawa investasi dan memperbaiki kondisi kehidupan mereka.
Di Valencia, sekitar dua jam dari Caracas, seorang pensiunan pendidik bernama Jose Leal (68) menilai investasi yang dijanjikan sebesar 100 miliar dollar AS masih kecil dibandingkan dengan cadangan minyak Venezuela yang mencapai sekitar 65 miliar barel.
Meski demikian, ia menganggap kesepakatan tersebut sebagai langkah yang diperlukan untuk mengakhiri krisis politik dan ekonomi yang telah berlangsung lama.
“Jelas, AS unggul, sangat unggul. Tetapi Amerika memegang kekuasaan. Tanpa mereka kita tidak akan berhasil melepaskan diri dari sosialisme Chavez dan Maduro. Tanpa mereka, kita akan tetap terjebak seperti Kuba, China, atau Korea Utara,” ujar Leal.
“Bukannya saya menyukainya atau bahkan senang dengan kesepakatan itu, saya menganggapnya sebagai kejahatan yang diperlukan. Jika kita berhasil lolos dari seluruh bencana ini jika kita berhasil keluar dari kekacauan ini, maka meskipun saya tidak menyukainya, itu akan sepadan,” lanjutnya.
Warga Venezuela Khawatir Minyak Diserahkan, Perubahan Politik Belum Jelas
Meski menjanjikan investasi besar, kesepakatan tersebut tidak secara langsung menjamin perubahan politik di Venezuela.
Banyak warga menilai pengambilalihan sektor minyak oleh AS belum tentu menyelesaikan persoalan utama negara itu, seperti kemiskinan, krisis listrik, dan ketidakpastian mengenai pemilu.
Sejumlah warga juga mempertanyakan apakah perubahan ekonomi harus dibayar dengan berkurangnya kendali Venezuela atas sumber daya alamnya.
Di Maracaibo, kota yang menjadi pusat industri minyak Venezuela, mantan manajer perusahaan minyak nasional PDVSA Dario Nava (67) menolak kesepakatan tersebut.
“Amerika Serikat akan mengelola industri minyak kita dan kedaulatan akan hilang di situ,” tuturnya.
Kekhawatiran tersebut muncul karena minyak Venezuela selama puluhan tahun menjadi simbol kedaulatan nasional. Pemerintahan sosialis yang didirikan mantan Presiden Hugo Chavez menjadikan kontrol negara atas sektor minyak sebagai salah satu fondasi utama kebijakan mereka.
Ironisnya, pemerintahan sementara Venezuela yang dipimpin Delcy Rodriguez kini mendukung kerja sama dengan AS tersebut. Padahal, kelompok politik yang dipimpinnya sebelumnya dikenal keras menentang Washington.
Baca Juga: Kapal Induk Dikerahkan AS ke Timur Tengah, Iran Siaga
Partai Sosialis Venezuela menyatakan dukungan terhadap keputusan Rodriguez.
“Sesuai dengan komitmen historis terhadap kedaulatan nasional, partai tersebut memberikan dukungan penuhnya untuk kesepakatan dan keputusan yang dibuat oleh Delcy Rodriguez,” bunyi pernyataan partai tersebut.
Sementara itu, sebagian warga tetap melihat peluang ekonomi dari kesepakatan tersebut.
Carlos Arenas (24), seorang mahasiswa di Caracas, mengatakan dirinya bersedia menerima keterlibatan AS jika keputusan itu benar-benar meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Jika ada manfaat ekonomi bagi negara yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas hidup warga Venezuela, maka ya, saya bersedia,” katanya.
“Tetapi tampaknya bukan itu masalahnya di sini. Sepertinya tidak akan ada perubahan politik di Venezuela dalam waktu dekat. Trump tampaknya sangat nyaman dengan Delcy,” tambahnya.
Perdebatan mengenai masa depan industri minyak Venezuela pun terus berlanjut. Bagi sebagian warga, investasi asing menjadi harapan untuk keluar dari krisis. Namun bagi pihak lain, pengambilalihan kendali oleh AS dianggap sebagai ancaman terhadap kedaulatan negara atas sumber daya alamnya sendiri.
