AS Hentikan Serangan ke Iran, Buka Ruang Dialog
Amerika Serikat (AS) menghentikan serangan terhadap Iran selama dua hari berturut-turut hingga Minggu (26/7/2026).
Di sisi lain, Iran juga tidak melancarkan serangan terhadap sekutu-sekutu AS di Timur Tengah.
Penghentian serangan ini mengakhiri sementara rangkaian aksi saling serang yang berlangsung selama 13 hari dan sempat membawa kawasan ke ambang konflik berskala besar.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump memutuskan menunda rencana peningkatan operasi militer terhadap Iran, setidaknya untuk sementara waktu.
Baca Juga: Makna Prabowonomics Dijelaskan Prabowo di Hadapan PKB
Menurut laporan The New York Times yang mengutip sejumlah pejabat anonim, keputusan tersebut sebagian dipengaruhi oleh menipisnya persediaan rudal pencegat yang digunakan untuk menghadapi serangan rudal Iran.
Konflik yang telah berlangsung selama lima bulan juga disebut semakin membebani perekonomian global dan menambah jumlah korban jiwa.
Sementara itu, gencatan senjata yang ditandatangani bulan lalu dilaporkan runtuh setelah Iran tetap memblokade Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak dan gas dunia.
Serangan udara AS selama hampir dua pekan di wilayah selatan Iran juga belum berhasil mengakhiri kebuntuan terkait jalur strategis tersebut.
Di tengah situasi itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pejabat Oman telah berkunjung ke Teheran untuk membahas situasi di Selat Hormuz.
Oman selama ini dikenal kerap menjadi mediator dalam hubungan antara Iran dan Amerika Serikat.
“Pembicaraan ini bermanfaat, dan kemajuan telah dicapai,” kata Baghaei dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah.
AS Bantah Penghentian Serangan karena Kekurangan Amunisi
Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, mengatakan keputusan menghentikan sementara serangan merupakan upaya Presiden Trump untuk memberi ruang bagi proses negosiasi dengan Iran.
Ia juga membantah laporan yang menyebut militer AS mulai membatasi penggunaan amunisi karena kekhawatiran terhadap stok persenjataan.
“Trump memberi ruang pada pembicaraan, dia memberi sedikit kelonggaran,” ujar Waltz, dikutip dari AFP.
Menurut Waltz, Amerika Serikat tetap berada dalam kondisi siaga dan telah mengerahkan tambahan aset militer ke kawasan sebagai langkah antisipasi apabila konflik kembali meningkat.
Baca Juga: Purbaya Sebut Rating AAA Bukti Fiskal Prabowo di Jalur Benar
Saat ditanya mengenai laporan penjatahan persenjataan, Waltz justru menyinggung pemerintahan Presiden Joe Biden yang disebut mewariskan persediaan amunisi dalam kondisi menipis.
Meski demikian, ia berulang kali menegaskan militer AS masih memiliki kemampuan yang memadai untuk melanjutkan operasi apabila diperlukan.
“Saya ingin menegaskan dengan sangat jelas. Militer AS memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjalankan kampanye ini seefektif mungkin,” tegas dia.
Waltz juga mengecam pihak yang membocorkan informasi mengenai kondisi persediaan amunisi militer AS.
“Orang-orang yang membocorkan omong kosong ini pantas dipenjara,” pungkas dia.
