Bos Danantara: Restrukturisasi Utang Whoosh Hampir Rampung, Tinggal Diumumkan
CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan bahwa skema penyelesaian restrukturisasi utang proyek kereta cepat Whoosh telah rampung dan tinggal menunggu pengumuman resmi kepada publik.
“Kita sudah meeting dengan Pak Menko Bidang Infrastruktur, Pak Menteri Keuangan dan juga kami solusinya sudah ada dan itu kan akan ditindaklanjuti oleh tim untuk bicara dengan pihak Chinanya,” ungkap Rosan di kantornya, Jakarta, Kamis (23/4/2026).
“Jadi solusinya sudah ada dan kemarin kita juga sudah sounding, insya Allah ini bisa segera bisa selesai,” tegas dia.
Baca Juga: Stok Beras RI 5 Juta Ton Diumumkan Amran, Tertinggi Sepanjang Masa
Menunggu Pengumuman Resmi Pemerintah
Rosan menjelaskan, detail skema restrukturisasi utang tersebut akan disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
“Skemanya sedang di-tuningnya tapi akan disampaikan langsung Pak Menko Infra lah, lebih enaknya, karena beliau yang fokus ini ya. Nanti disampaikan langsung ya,” papar Rosan.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga memastikan bahwa proses restrukturisasi telah selesai dan hanya menunggu waktu untuk diumumkan.
”Sudah, sudah kelar tinggal diumumkan,” kata Purbaya kepada awak media.
Ia bahkan telah menyampaikan kepastian tersebut kepada pihak China agar tidak khawatir terhadap kelanjutan proyek tersebut.
”Saya bilang ke Menteri Keuangan China sudah diputuskan tinggal diumumkan jadi pihak China nggak usah khawatir,” lanjut dia.
Namun, Purbaya enggan membeberkan detail hasil restrukturisasi, termasuk terkait posisi PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
”Nanti setelah diumumkan, setelah diumumkan Pak AHY. Saya pikir saya enggak berhak mengumumkan sekarang ya,” tutur dia.
Baca Juga: Tentang Pajak Mobil Listrik, Menkeu Tegaskan Tak Ada Kenaikan dan Hanya Ubah Skema
Sorotan Pembengkakan Biaya dan Kredibilitas RI
Purbaya juga menyinggung persoalan pembengkakan biaya (cost overrun) yang sempat terjadi pada masa awal pembangunan proyek Whoosh.
Menurut dia, pihak China sempat mengeluhkan lambatnya progres proyek, khususnya dalam pembebasan lahan.
”China itu bilang, waktu itu ya sekarang sudah diselesaikan, dulu enggak ada kemajuan katanya. Sudah dua tahun lahan yang dibebaskan baru 4 kilometer pada waktu itu. Ini kita ngomong zaman dulu ya,” jelas Purbaya.
Ia juga menyoroti persoalan koordinasi yang dinilai tidak optimal pada masa lalu.
”Terus saya tanya, kamu siapa yang handle program project-nya? Nggak ada, katanya kalau kami ngadu ke BUMN dipingpong ke PU, pingpong lagi ke sana. Ya sudah ditarik kemari itu waktu itu diberesin sedikitlah pada waktu itu,” tambah dia.
Ke depan, pemerintah memastikan pengawasan proyek strategis akan diperketat agar kejadian serupa tidak terulang.
Purbaya menegaskan, proyek kereta cepat bukan sekadar investasi, tetapi juga menyangkut reputasi Indonesia di mata dunia.
”Indonesia tidak pernah menyimpang atau tidak pernah melanggar janji. Itu kan kredibilitas kita yang kita jaga di dunia internasional,” pungkas dia.

[…] Bos Danantara: Restrukturisasi Utang Whoosh Hampir Rampung, Tinggal Diumumkan […]