China Punya Peta Baru, Benarkah Mengincar Wilayah Rusia?
Langkah terbaru China memicu spekulasi baru mengenai arah hubungan Beijing dan Moskow. Pembaruan peta resmi serta meningkatnya aktivitas ekonomi di kawasan perbatasan menimbulkan pertanyaan di kalangan pengamat tentang sejauh mana China tengah memperluas pengaruhnya, termasuk potensi ambisi terhadap wilayah Rusia di Timur Jauh.
Melansir informasi dari Newsweek pada Selasa (16/12/2025), otoritas China pada 2023 telah menetapkan pembaruan peta nasional yang menampilkan sejumlah kota di wilayah Timur Jauh Rusia termasuk Vladivostok menggunakan nama resmi versi China.
Peta tersebut juga menggambarkan sebuah pulau di pertemuan Sungai Ussuri dan Amur sebagai wilayah sepenuhnya milik China. Padahal, kawasan itu sebelumnya menjadi objek sengketa berkepanjangan sebelum akhirnya disepakati melalui perjanjian perbatasan pada 2008.
Di saat bersamaan, meningkatnya pembelian dan sewa jangka panjang lahan pertanian oleh entitas China di sepanjang perbatasan Rusia turut memperkuat kecurigaan terhadap niat Beijing di kawasan tersebut.
Baca Juga: Ukraina Tak Akan Jadi Anggota NATO, Ini Respons Rusia – Economix
Isu ini mencuat di tengah kemitraan strategis China-Rusia yang semakin erat. Beijing secara konsisten menegaskan pentingnya hubungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dukungan simbolik terlihat, antara lain, ketika Putin menempati posisi kehormatan di sisi Presiden Xi Jinping dalam parade militer Hari Kemenangan di Lapangan Tiananmen.
Secara ekonomi, China menjadi pembeli utama minyak dan gas Rusia sejak invasi Moskow ke Ukraina memicu sanksi internasional yang luas. Peningkatan perdagangan bilateral dan penggunaan yuan dalam transaksi lintas batas membantu Rusia meredam dampak pengucilan dari sistem pembayaran internasional SWIFT. Sebaliknya, Rusia menyediakan akses energi murah dan kedalaman strategis bagi China.
Kedekatan kedua negara juga tercermin dalam kerja sama diplomatik dan militer. Frekuensi latihan bersama di kawasan Pasifik meningkat, memicu kekhawatiran Amerika Serikat dan sekutunya terkait tantangan terhadap dominasi Washington. Namun, di dalam Rusia sendiri, muncul kecemasan bahwa Moskow semakin terjebak sebagai “mitra junior” dalam hubungan yang kian timpang.
Laporan The New York Times awal tahun ini, yang mengutip dokumen intelijen Rusia bocor, mengungkapkan kekhawatiran Moskow terhadap ekspansi pengaruh China. Dokumen tersebut menyebut adanya tingkat ketidakpercayaan tertentu, termasuk dugaan perekrutan warga Rusia oleh agen China serta penerapan tes poligraf bagi agen Rusia yang kembali dari China.
Sejumlah analis menilai kekhawatiran tersebut berlebihan. Ketua Keamanan Asia-Pasifik di Hudson Institute, Patrick Cronin, mengatakan Presiden Xi Jinping memandang Rusia sebagai mitra strategis yang sangat dibutuhkan dalam upaya membangun tatanan dunia pasca kepemimpinan Amerika Serikat.
Menurut Cronin, Beijing menjalankan strategi akumulasi kedaulatan yang efektif secara perlahan dan stabil, yang dibarengi dengan demonstrasi solidaritas simbolik seperti parade dan latihan militer gabungan untuk menutupi asimetri kekuatan yang semakin nyata.
Namun demikian, ia menambahkan bahwa China “tampak siap memperluas pengaruhnya di wilayah perbatasan melalui kombinasi intrusi siber dan langkah oportunistik guna menancapkan posisi dalam ekonomi Rusia yang semakin melemah.”
Pandangan yang lebih optimistis disampaikan Direktur Keterlibatan Asia di Defense Priorities, Lyle Goldstein. Ia mengatakan bahwa meski terdapat “frustrasi sehari-hari dan sejumlah keluhan, secara keseluruhan hubungan China-Rusia tetap sehat dan berkembang pesat.”
Goldstein menilai keduanya tetap solid karena sama-sama menghadapi tekanan strategis dari Amerika Serikat dan sekutunya.
“Tidak ada krisis nyata dalam 30 tahun terakhir, dan saya tidak melihat krisis di masa mendatang,” ujarnya.
Baca Juga: Trump Paksa Ukraina Serahkan Donbas ke Rusia sebagai Syarat Mutlak Akhir Perang – Economix
