Di Bawah Bayang Trump, Delcy Rodríguez Pimpin Venezuela Pasca Penangkapan Maduro
Lebih dari sepekan setelah Amerika Serikat mengguncang peta politik Venezuela dengan penangkapan Presiden Nicolás Maduro, situasi di negara itu ternyata belum banyak berubah. Venezuela belum bergerak menuju transisi demokrasi, namun juga tidak masuk ke dalam kekacauan.
Yang terjadi justru sebaliknya. Struktur kekuasaan lama masih bertahan, dengan Delcy Rodríguez kini memimpin Venezuela sebagai presiden sementara, meski berada di bawah bayang-bayang kuat pengaruh Washington.
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampaknya memilih strategi pengendalian ketimbang perubahan radikal. Pemilu ditunda, sementara fokus utama diarahkan pada upaya merebut kembali kendali atas sektor minyak.
Di tengah kondisi ini, Delcy Rodríguez memimpin Venezuela di persimpangan rumit antara kepentingan internal rezim Chavismo dan tekanan langsung dari Amerika Serikat.
Baca Juga: Ke China, Penjualan Chip AI Nvidia Diizinkan oleh AS
Delcy Rodríguez dan Bertahannya Rezim Pasca Penangkapan Maduro
Sebelum Maduro ditangkap pada awal bulan ini, Delcy Rodríguez telah lama menjadi figur inti kekuasaan sebagai wakil presiden.
Kedekatannya dengan Maduro membuat Rodríguez tetap mendapatkan dukungan dari elite rezim yang mengendalikan ekonomi dan institusi negara.
Keputusan Amerika Serikat mempertahankan struktur rezim dinilai sebagai upaya menghindari kekosongan kekuasaan yang dapat berujung pada pendudukan militer berkepanjangan.
Peneliti hubungan internasional Council on Foreign Relations, Roxanna Vigil, menilai langkah tersebut menunjukkan Washington lebih mengutamakan kendali ketimbang stabilitas sejati.
“Stabilitas bagi Venezuela, menurut pandangan saya, adalah pemerintahan yang dipilih secara demokratis,” kata Vigil.
Ia menambahkan bahwa Venezuela telah mengalami krisis kemanusiaan besar, dengan sekitar delapan juta warga terpaksa meninggalkan negaranya.
Rodríguez dikenal sebagai politisi cerdas dan keras yang memantapkan kekuatannya selama masa pemerintahan Maduro.
Latar belakang hidupnya dibentuk oleh kematian sang ayah, Jorge Antonio Rodríguez, seorang pejuang kiri yang meninggal dalam tahanan pada 1976.
Pendidikan hukum di Inggris dan Prancis serta pengalamannya di Amerika Serikat membuat Rodríguez memiliki jaringan internasional yang luas.
Baca Juga: Sehabis Trump Tekan Iran dan Sekutu,China Peringatkan AS
Tekanan Trump dan Langkah Kompromi Pemerintahan Rodríguez
Pada awal kepemimpinannya, Rodríguez sempat menentang pernyataan Trump yang menyebut ia akan sepenuhnya tunduk pada Amerika Serikat.
Namun, kebijakan yang diambil kemudian menunjukkan arah yang lebih kompromistis terhadap tuntutan Washington.
Pemerintah Venezuela mengumumkan pembebasan tahanan politik dan membuka dialog dengan pejabat Amerika Serikat di Caracas.
Trump kemudian menyatakan pemerintahnya “bekerja dengan baik dengan kepemimpinan Venezuela”.
Ia secara khusus memuji Rodríguez dengan mengatakan bahwa ia “sangat baik” dalam berkomunikasi dan bekerja sama.
Meski demikian, Trump tetap mengklaim memiliki kendali atas Venezuela dan menyebarkan unggahan yang menyebut dirinya sebagai “Presiden Sementara Venezuela”.
Vigil menilai konsesi terhadap Amerika Serikat berpotensi memicu kemarahan di dalam koalisi pendukung Rodríguez.
“Saya pikir ini akan menciptakan situasi di mana kemungkinan besar muncul perebutan kekuasaan di dalam rezim itu sendiri,” ujar dia.
Baca Juga: Situasi Greenland Berada di Momen Menentukan, Ungkap PM Denmark
Konflik Internal Chavismo dan Risiko Instabilitas
Selama puluhan tahun, Venezuela diperintah oleh rezim sosialis otoriter yang bermula dari kepemimpinan Hugo Chávez.
Kini, rezim tersebut disebut terbelah menjadi dua faksi utama dalam Partai Sosialis Bersatu Venezuela.
Pakar Venezuela dari University of Florida, Rebecca Hanson, menyebut faksi sipil dipimpin Delcy Rodríguez dan saudaranya, Jorge Rodríguez.
“Delcy sendiri diberi tugas besar untuk membantu memulihkan ekonomi setelah krisis beberapa tahun lalu, dan ia terlihat cukup berhasil,” kata Hanson.
Sementara itu, faksi militer didorong oleh kepentingan ideologis dan ekonomi, termasuk keterlibatan dalam sektor minyak dan pertambangan.
Ketegangan lama antara kedua faksi ini dinilai dapat berubah menjadi konflik terbuka jika tekanan ekonomi dan politik semakin meningkat.
“Itu adalah skenario terburuk, yakni kekerasan besar yang melibatkan banyak aktor bersenjata,” ujar Hanson.
Simulasi perang yang dilakukan Pentagon menunjukkan bahwa intervensi Amerika Serikat berpotensi berakhir buruk bagi rakyat Venezuela.
“Hasil akhirnya justru lebih buruk dibandingkan jika Amerika Serikat tidak melakukan apa pun,” kata analis keamanan Douglas Farah.
Di tengah tekanan ekonomi, konflik internal, dan bayang-bayang Amerika Serikat, Delcy Rodríguez memimpin Venezuela dalam salah satu fase paling rapuh dalam sejarah modern negara itu.

[…] Di Bawah Bayang Trump, Delcy Rodríguez Pimpin Venezuela Pasca Penangkapan Maduro […]