Dunia Makin Panas, AS Mulai “Bersih-Bersih” China di Kawasan Ini
Penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dinilai sebagai langkah awal dari agenda geopolitik yang lebih besar oleh Amerika Serikat. Setelah situasi politik di Caracas mulai mereda, Washington secara terbuka mengarahkan fokusnya pada target yang lebih luas, yakni melemahkan pengaruh China yang selama ini telah mengakar kuat di kawasan Amerika Latin.
Selama bertahun-tahun, Beijing menjadi mitra utama Venezuela melalui investasi miliaran dolar di sektor minyak dan berbagai proyek infrastruktur. Kejatuhan Maduro tidak hanya dipandang sebagai perubahan rezim semata, melainkan juga sebagai pukulan besar terhadap kemitraan strategis kedua negara. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kerugian signifikan bagi perbankan China akibat risiko utang Venezuela yang tidak terbayar.
Pemerintahan Presiden Donald Trump melihat situasi tersebut sebagai momentum strategis untuk melancarkan kebijakan yang lebih agresif di kawasan Amerika Latin.
Baca Juga : Prabowo Sebut MBG Sukses, Keracunan Hanya 0,007%
Dalam Strategi Keamanan Nasional Amerika Serikat yang dirilis Desember lalu, Washington secara tegas menyatakan komitmennya untuk mencegah negara-negara di luar belahan bumi barat menguasai aset-aset vital di kawasan tersebut. Dokumen itu juga menegaskan keinginan AS untuk menyingkirkan perusahaan asing yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur strategis.
Trump menilai intervensi di Venezuela sebagai langkah penting untuk menutup ruang bagi rival global seperti China dan Rusia. Dalam pernyataannya kepada para eksekutif industri minyak di Gedung Putih, ia menegaskan bahwa jika Amerika Serikat tidak bertindak, maka China dan Rusia akan semakin memperkuat posisinya di Venezuela. Namun, menurut Trump, saat ini kedua negara tersebut telah kehilangan pengaruhnya di sana.
Kebijakan agresif Washington ini kemudian dikenal dengan istilah “Doktrin Donroe”, sebuah plesetan dari Doktrin Monroe yang dikeluarkan pada tahun 1823.
Jika Doktrin Monroe dulu bertujuan memperingatkan kekuatan kolonial Eropa agar tidak mencampuri urusan kawasan Amerika, maka “Doktrin Donroe” kini diarahkan untuk membendung pengaruh ekonomi dan politik China yang telah meluas ke lebih dari 30 negara di Amerika Latin dan Karibia.
Di beberapa wilayah strategis, tekanan Amerika Serikat mulai menunjukkan hasil. Di Panama, misalnya, Mahkamah Agung setempat membatalkan kontrak pelabuhan yang dipegang oleh perusahaan terkait Hong Kong dengan alasan tidak konstitusional. Keputusan tersebut muncul setelah tekanan diplomatik dari Washington yang sebelumnya juga berhasil mendorong Panama keluar dari inisiatif Belt and Road (BRI) milik Presiden China Xi Jinping.
Peneliti dari Pusat Keamanan dan Strategi Internasional Universitas Tsinghua, Sun Chenghao, menilai langkah Amerika Serikat ini akan meningkatkan risiko politik bagi investasi China di Amerika Latin. Menurutnya, kebijakan Washington yang semakin mengarah pada sekuritisasi infrastruktur, rantai pasok, dan aset strategis di kawasan barat akan membuat keterlibatan China di Amerika Latin menjadi lebih mahal secara politik.
Meski menghadapi tekanan besar, China tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur dari kawasan tersebut. Dengan volume perdagangan tahunan yang mencapai US$500 miliar dan surplus perdagangan global sebesar US$1,2 triliun pada 2025, Beijing justru memanfaatkan hubungan ekonomi di Amerika Latin sebagai tameng untuk menghadapi tekanan dagang dari Amerika Serikat.
Investasi China di kawasan ini mencakup berbagai sektor strategis, seperti pertambangan tembaga di Peru, eksploitasi litium di Argentina dan Chile, hingga kepemilikan jaringan listrik di Brasil. Bahkan, produsen kendaraan listrik raksasa asal China, BYD, telah mengambil alih fasilitas pabrik yang ditinggalkan Ford di Brasil untuk mengembangkan industri kendaraan listriknya.
Baca Juga : Prabowo Tekankan Negara Non-Blok, Singgung Ancaman PD III
Di tengah persaingan dua kekuatan besar tersebut, negara-negara Amerika Latin kini berada dalam posisi dilematis. Mantan Duta Besar Chile untuk China, Jorge Heine, menilai tekanan dari Amerika Serikat berpotensi menghambat kemajuan teknologi di kawasan itu, apabila tidak diimbangi dengan alternatif investasi yang memadai dari Washington.
Ia menggambarkan bahwa tekanan AS dapat menciptakan persepsi negatif, seolah-olah negara-negara Amerika Latin dilarang untuk berkembang, membangun infrastruktur modern, dan melakukan industrialisasi demi kemajuan ekonomi mereka.

[…] Dunia Makin Panas, AS Mulai “Bersih-Bersih” China di Kawasan Ini […]