Iran Eksekusi Pria yang Dituduh Jadi Agen Israel-AS
Iran mengeksekusi mati seorang pria bernama Ali-Sina Mostafavi pada Rabu (14/10/2026) setelah ia dinyatakan bersalah atas serangkaian serangan bersenjata yang dituduh bertujuan mendukung Israel.
Dilansir dari laporan media pemerintah Iran, Mostafavi dijatuhi hukuman mati setelah dinyatakan bersalah atas tuduhan terorisme.
Pihak kehakiman Iran menyebut Mostafavi sebagai teroris bersenjata dan agen musuh Amerika Serikat (AS)-Israel selama perang.
Namun, otoritas Iran tidak mengungkapkan kapan Mostafavi ditangkap maupun menjalani persidangan.
Baca Juga: Malaysia Akan Angkat Isu Kabut Asap Lintas Batas di Forum ASEAN
Dalam pernyataannya, pihak kehakiman Iran menuduh Mostafavi terlibat dalam sejumlah serangan teroris bersenjata di Kota Kerman, wilayah tenggara Iran.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan sejumlah warga sipil terluka.
Mostafavi juga dijerat dengan tuduhan moharebeh, istilah hukum di Iran yang berarti mengobarkan perang melawan Tuhan.
Pelanggaran tersebut termasuk salah satu tindak pidana paling berat dalam sistem hukum Iran dan dapat dijatuhi hukuman mati.
Selain serangan bersenjata, Mostafavi dituduh menjalin komunikasi dengan media bermusuhan yang berafiliasi dengan rezim Israel.
Otoritas Iran juga menudingnya memiliki hubungan dengan gerakan monarkis Iran di pengasingan yang dipimpin Reza Pahlavi.
Pahlavi merupakan putra Shah terakhir Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam pada 1979.
Saat ini, Pahlavi tinggal di pengasingan di AS dan kerap menyerukan penggulingan pemerintah Iran.
Baca Juga: Trump Siapkan Eksplorasi Besar-besaran Minyak dan Mineral Greenland
Eksekusi di Iran Meningkat sejak Perang dengan Israel dan AS
Eksekusi terhadap Mostafavi berlangsung ketika Iran meningkatkan jumlah hukuman mati setelah pecahnya perang dengan Israel dan AS.
Konflik tersebut bermula pada akhir Februari 2026, ketika Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran.
Serangan itu memicu perang di Timur Tengah yang hingga kini telah menewaskan ribuan orang.
Sejak perang pecah, otoritas Iran meningkatkan penangkapan dan eksekusi terhadap orang-orang yang dituduh terlibat dalam konflik tersebut.
Peningkatan serupa juga terjadi terhadap orang-orang yang dikaitkan dengan gelombang demonstrasi antipemerintah yang berlangsung sejak akhir 2025.
Aksi demonstrasi tersebut sebelumnya diwarnai kekerasan dan menimbulkan korban jiwa.
Sementara itu, sejumlah kelompok hak asasi manusia (HAM), termasuk Amnesty International, menyebut Iran sebagai salah satu negara dengan jumlah eksekusi tertinggi di dunia.
Menurut kelompok-kelompok tersebut, hanya China yang diperkirakan mengeksekusi lebih banyak orang setiap tahunnya dibandingkan Iran.
