Houthi Kembali Lawan Saudi, Bab El-Mandeb Terancam
Konflik antara kelompok Houthi di Yaman dan Arab Saudi kembali memasuki fase panas. Eskalasi ini berlangsung ketika perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih mengguncang kawasan Timur Tengah.
Setelah bertahun-tahun berada dalam kondisi relatif tenang, bentrokan kembali terjadi ketika Houthi melancarkan serangkaian serangan sekaligus memperluas pengaruhnya ke wilayah yang semakin dekat dengan pesisir Laut Merah.
Pergerakan tersebut menjadi perhatian karena posisi Houthi kini semakin dekat dengan Bab El-Mandeb, selat strategis yang menjadi salah satu jalur utama pelayaran internasional.
Di sisi lain Semenanjung Arab, Iran masih memegang kendali atas akses menuju Selat Hormuz. Dua titik strategis tersebut membuat jalur pengiriman minyak dari Arab Saudi dan negara-negara Teluk menghadapi ancaman dari dua arah.
Lantas, mengapa konflik Houthi dan Arab Saudi kembali pecah?
Perang Saudara di Yaman Jadi Awal Mula
Dikutip dari The Independent, Senin (14/9/2026), Houthi merupakan gerakan yang memiliki unsur politik, militer, dan keagamaan serta menguasai sebagian besar wilayah barat laut Yaman.
Baca Juga : Houthi Sebut Klaim Saudi Bohong, Tidak Perang Lakukan Serangan
Kelompok yang memiliki hubungan dengan Iran itu berkembang di tengah kekacauan politik pasca-Arab Spring pada 2011. Pada 2014, Houthi berhasil merebut Sanaa’, ibu kota Yaman, dari pemerintahan yang diakui secara internasional.
Perebutan ibu kota tersebut kemudian berkembang menjadi perang saudara berkepanjangan.
Arab Saudi melihat perkembangan Houthi sebagai ancaman terhadap kepentingan strategisnya. Salah satu kekhawatiran utama Riyadh adalah kemungkinan kelompok tersebut memperluas penguasaan hingga Bab El-Mandeb, jalur yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.
Bab El-Mandeb memiliki peran penting bagi perdagangan dan distribusi energi dunia. Jika wilayah tersebut jatuh sepenuhnya ke tangan Houthi, Arab Saudi berpotensi menghadapi hambatan dalam mengamankan rute ekspor minyak.
Riyadh kemudian melakukan intervensi militer ke Yaman pada 2015 dengan dukungan AS, Inggris, Prancis, serta sejumlah negara lainnya.
Pertempuran berlangsung selama bertahun-tahun sebelum gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tercapai pada 2022.
Sejak gencatan senjata tersebut, intensitas konfrontasi langsung antara kedua pihak relatif menurun. Iran pun tidak secara terbuka mengerahkan pasukannya untuk bertempur di Yaman.
Meski demikian, konflik Yaman tetap menjadi bagian dari rivalitas yang lebih luas antara Iran dan Arab Saudi melalui kelompok-kelompok yang berafiliasi atau bersekutu dengan masing-masing pihak.
Mengapa Perang Kembali Pecah?
Babak baru ketegangan mulai terlihat pada Juli. Houthi dan Arab Saudi kembali memberlakukan pembatasan terhadap lalu lintas maritim.
Situasi kemudian meningkat setelah Houthi menyerang kapal tanker minyak Saudi yang mereka tuduh melanggar blokade.
Eskalasi tersebut terjadi ketika Timur Tengah juga sedang menghadapi perang antara AS dan Iran.
Sebelumnya, Houthi telah menjadi salah satu aktor utama dalam ketegangan di Laut Merah. Ketika perang Israel di Gaza berlangsung pada 2023-2025, kelompok tersebut menyerang kapal-kapal yang melintas di kawasan itu dengan alasan mendukung Hamas yang bersekutu dengan Iran.
AS dan Inggris merespons dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah target Houthi pada 2025. Operasi tersebut ditujukan untuk mengembalikan keamanan serta kebebasan navigasi di Laut Merah.
Namun, Presiden AS Donald Trump kemudian mencapai kesepakatan untuk menghentikan serangan AS terhadap Houthi. Sebagai gantinya, Houthi juga menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah.
Kesepakatan itu kini membuat posisi Washington menjadi lebih rumit. Jika AS kembali terlibat untuk membantu Arab Saudi, pasukan Amerika di kawasan tersebut berpotensi menjadi sasaran serangan rudal Houthi dari Yaman.
Houthi Perluas Wilayah ke Pesisir Laut Merah
Houthi kemudian melancarkan serangkaian serangan besar menuju kawasan pesisir Laut Merah. Dalam waktu sekitar satu pekan, kelompok tersebut bergerak ke arah timur hingga mencapai wilayah pesisir.
Pergerakan ini memperbesar kendali Houthi terhadap kawasan yang berdekatan dengan jalur pelayaran Laut Merah.
Pada Selasa (8/9/2026), Houthi mengumumkan bahwa mereka telah menjalankan operasi ke wilayah Arab Saudi. Sasaran serangan disebut mencakup fasilitas energi serta sejumlah kota di bagian selatan kerajaan.
Dua hari kemudian, pada Kamis (10/9/2026), Houthi dilaporkan berhasil merebut Mokha.
Mantan Duta Besar Inggris untuk Yaman, Edmund Fitton-Brown, mengatakan penguasaan wilayah tersebut dapat memberikan posisi yang lebih menguntungkan bagi Houthi di sekitar Bab El-Mandeb.
Dengan posisi tersebut, Houthi dinilai memiliki akses yang lebih baik untuk mengawasi maupun mengancam kapal yang melintasi jalur strategis tersebut.
Sehari setelahnya, sumber-sumber pemerintah melaporkan bahwa Houthi juga menguasai Pulau Perim. Pulau tersebut terletak di tengah kawasan Bab El-Mandeb dan memiliki posisi strategis terhadap lalu lintas kapal.
Mengapa Bab El-Mandeb Penting?
Bab El-Mandeb merupakan selat sempit yang menjadi penghubung antara Laut Merah dan Teluk Aden.
Letaknya menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu titik penting dalam jaringan perdagangan internasional. Kapal yang menggunakan Laut Merah untuk menuju ataupun meninggalkan Terusan Suez harus melewati kawasan Bab El-Mandeb.
Karena itu, penguasaan wilayah di sekitar selat tersebut dapat memberikan Houthi kemampuan lebih besar untuk mengawasi, mengancam, atau menghambat kapal yang melintas.
Nilai strategis Bab El-Mandeb semakin meningkat setelah perang AS-Iran mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Baca Juga : Ini Alasan Turkiye dan Pakistan Belum Bantu Saudi Lawan Houthi
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur utama bagi ekspor minyak dari negara-negara Teluk. Gangguan di kawasan tersebut membuat Arab Saudi berupaya mengalihkan sebagian besar pengiriman minyak mentahnya melalui pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah.
Namun, jalur alternatif itu kembali menghadapi persoalan.
Pada Jumat (11/9/2026), serangan yang dituduhkan Riyadh kepada kelompok yang didukung Iran di Irak menyebabkan East-West Pipeline Arab Saudi berhenti beroperasi.
Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer tersebut memiliki fungsi strategis karena memungkinkan minyak dari wilayah timur Saudi dialirkan menuju pesisir Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Dengan gangguan pada East-West Pipeline serta meningkatnya pengaruh Houthi di sekitar Bab El-Mandeb, jalur ekspor minyak Arab Saudi kini menghadapi tekanan di dua titik strategis sekaligus.
