Inggris Bantu Saudi Lawan Houthi, AS Batalkan Serangan
Inggris memutuskan memberikan dukungan militer kepada Arab Saudi untuk menghadapi serangan kelompok Houthi di Yaman. Langkah tersebut diambil setelah Amerika Serikat (AS) membatalkan rencana serangan langsung terhadap kelompok tersebut.
Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, mengatakan dukungan yang diberikan berupa bantuan defensif melalui pengisian bahan bakar di udara bagi jet tempur Arab Saudi. Pesawat Inggris akan membantu armada Saudi mempertahankan wilayahnya dari ancaman drone dan rudal yang diluncurkan Houthi.
Pesawat tanker Voyager milik Inggris diperkirakan mulai menjalankan misi tersebut dalam beberapa hari ke depan. Operasi ini bersifat terbatas dan diperkirakan hanya berlangsung selama beberapa pekan.
Baca Juga : Media AS Diboikot, Trump Luncurkan TV 24 Jam
Dukungan pengisian bahan bakar tersebut melengkapi sistem pertahanan udara Sky Sabre milik Inggris yang sebelumnya telah ditempatkan di Arab Saudi.
Burnham mengatakan keputusan Inggris didasarkan pada kepentingan untuk menjaga keamanan Inggris dan kawasan sekitarnya.
“Arab Saudi telah mengalami serangan, menghadapi potensi gangguan lebih lanjut, dan kami perlu menjaga jalur-jalur tersebut tetap terbuka,” kata Burnham kepada wartawan dalam perjalanan menuju Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Keputusan Inggris memberikan dukungan kepada Arab Saudi terjadi setelah Presiden AS Donald Trump beberapa kali mengubah sikap terkait rencana serangan terhadap Houthi di Yaman.
Menurut laporan The New York Times yang dikutip AFP, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) menelepon Trump pada Minggu (20/9/2026). Dalam percakapan tersebut, MBS kembali meminta bantuan AS untuk menghadapi pergerakan Houthi yang semakin cepat.
Sehari sebelumnya, Trump disebut telah menyampaikan kepada para penasihatnya bahwa dirinya menentang rencana serangan. Namun, sikap tersebut berubah setelah Trump menerima telepon dari MBS.
Trump kemudian memerintahkan Pentagon untuk mempersiapkan serangan udara terhadap Houthi.
Rencana tersebut kembali berubah pada Minggu siang. Trump memutuskan menarik diri dari operasi ketika para komandan AS disebut telah menyetujui daftar target dan pasukan mulai memasukkan bom ke pesawat tempur yang dipilih untuk menjalankan serangan.
Axios juga melaporkan bahwa Trump sebelumnya telah menolak permintaan Arab Saudi untuk menyerang Houthi pada pekan lalu.
Sementara itu, Fox News melaporkan pada Minggu bahwa Trump mengatakan Houthi telah menyetujui untuk tidak menyerang target-target milik AS.
Baca Juga : Tingkat Kepuasan ke Trump Menurun Jadi Terendah hingga 32%
Houthi melancarkan serangan ke Riyadh pada Sabtu (19/9/2026). Serangan tersebut menjadi yang pertama menyasar ibu kota Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi juga mempercepat operasi militernya untuk mengambil alih wilayah pesisir Laut Merah di Yaman.
Arab Saudi diketahui telah memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional sejak 2015. Keterlibatan tersebut membuat konflik di Yaman semakin meluas dan turut memperburuk salah satu krisis kemanusiaan terparah di dunia.
Perang Yaman bermula pada 2014 setelah kelompok Houthi merebut ibu kota Sana’a. Konflik kemudian mereda setelah gencatan senjata pada 2022, sebelum kembali pecah pada Juli.
