Intip Profil 8 Calon Tender WtE Danantara, Siapa Terkuat?
Program Waste-to-Energy (WtE) yang digagas Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) kini memasuki tahap tender. Dari sekitar 200 perusahaan yang menyatakan minat, sebanyak 24 perusahaan dinyatakan lolos sebagai peserta. Selanjutnya, seluruh peserta wajib membentuk konsorsium untuk menggarap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia, Fadli Rahman, menjelaskan bahwa setelah konsorsium terbentuk, perusahaan-perusahaan tersebut diharapkan dapat mentransfer teknologi WtE kepada perusahaan lokal maupun pemerintah daerah.
“Danantara memastikan adanya tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk proses pemilihan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang transparan dan berbasis mitigasi risiko,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (16/2/2026).
Baca Juga : Berkunjung ke AS, Prabowo ditemani Bahlil! Ada Apa?
Pada tahap awal, pengembangan program WtE difokuskan di empat wilayah, yakni Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta.
Dari total 24 peserta tender, delapan perusahaan berasal dari Prancis, China, dan Jepang. Berikut profil singkatnya:
1. Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd (Prancis)
Perusahaan ini didirikan di Singapura pada 13 Desember 1997 dan merupakan bagian dari grup multinasional Veolia yang bergerak di bidang pengelolaan air, limbah, dan energi.
Di Indonesia, Veolia beroperasi melalui PT Veolia Services Indonesia dan membangun pabrik daur ulang Polyethylene Terephthalate (PET) berkapasitas 25.000 ton per tahun di Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Jawa Timur. Pabrik tersebut memproduksi PET food grade yang telah bersertifikasi halal dari MUI.
Bersama PT Tirta Investama (Danone-AQUA), perusahaan ini turut mengembangkan solusi pengurangan sampah plastik.
2.Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering atau MHIECE (Jepang)
MHIECE dikenal sebagai pemain lama di sektor lingkungan dan energi bersih. Anak perusahaannya terlibat dalam proyek TuasOne Waste to Energy Plant di Singapura senilai US$750 juta.
Di China, perusahaan ini juga mengembangkan proyek Lao Gang fase kedua di Shanghai dengan kapasitas 6.000 ton sampah per hari dan produksi listrik 144 MW.
Di Indonesia, teknologi mereka telah digunakan di TPST Bantargebang sejak 2019 dengan kapasitas 100 ton sampah per hari.
3. China Conch Venture Holding Limited (China)
Berdiri sejak 2013, perusahaan ini berfokus pada pelestarian energi, perlindungan lingkungan, serta pembangunan infrastruktur.
Bisnis utamanya mencakup WtE, termasuk teknologi insinerasi limbah untuk menghasilkan panas dan listrik. Perusahaan ini juga pernah menjalin kerja sama di Indonesia melalui PT Conch South Kalimantan Cement.
4. Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd. (China)
Didirikan pada 2009 dan terdaftar di Bursa Saham Shanghai (601827.SH), perusahaan ini merupakan spesialis WtE yang berperan sebagai investor, pengembang, sekaligus operator fasilitas PLTSa.
Hingga akhir 2023, teknologi dan peralatannya telah digunakan di lebih dari 250 proyek dengan total kapasitas lebih dari 220.000 ton sampah per hari.
5. Wangneng Environment Co., Ltd (China)
Berbasis di Huzhou, Zhejiang, perusahaan ini beroperasi sejak 2012 di bidang pengolahan limbah dapur, air limbah, lumpur, serta daur ulang.
Dalam sektor WtE, Wangneng mengklaim mampu menghasilkan 3,04 miliar kWh listrik bersih per tahun dari proyek-proyeknya.
6. Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd (China)
Perusahaan ini dikenal sebagai pemain utama WtE di China dengan bisnis yang mencakup desain, investasi, pembangunan, dan operasi fasilitas WtE.
Baca Juga : Purbaya Optimis Ekonomi RI Ekspansi sampai 2030
Pada 2023, total produksi listriknya mencapai sekitar 3,85 miliar kWh. Mereka juga pernah menawarkan investasi sekitar US$225 juta untuk proyek pengelolaan sampah di Bali.
7. SUS Indonesia Holding Limited (China)
Meski bernama Indonesia, perusahaan ini terdaftar di China dan fokus pada investasi jangka panjang di sektor WtE.
Induknya, Shanghai SUS Environment Co., Ltd, telah menjalankan puluhan proyek di berbagai negara. Di Makassar, perusahaan ini mengembangkan fasilitas WtE berkapasitas 1.300 ton sampah per hari dengan produksi listrik 35 MW.
8. PT Jinjiang Environment Indonesia (China)
Perusahaan ini merupakan bagian dari Zheneng Jinjiang Environment Holding Co., Ltd. Di Indonesia, mereka mengembangkan fasilitas WtE di Palembang dengan kapasitas 1.000 ton sampah per hari dan output listrik 20 MW melalui skema Build Own Operate (BOO). Nilai investasi proyek tersebut mencapai sekitar US$120 juta.

[…] Intip Profil 8 Calon Tender WtE Danantara, Siapa Terkuat? […]