Didampingi Bahlil, Prabowo akan Bertemu Trump di AS
Presiden Prabowo Subianto berkunjung ke Washington DC, Amerika Serikat, pada Senin (16/2/2026). Kepala Negara bersama rombongan terbatas lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Dalam kunjungan tersebut, Prabowo didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Baca Juga : Ancaman Serangan AS ke Iran Meningkat di Tengah Negosiasi
“Presiden Prabowo diagendakan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas penguatan hubungan Indonesia dan Amerika Serikat, serta kerja sama strategis di berbagai bidang,” tulis keterangan resmi Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden.
Kunjungan ini menjadi bagian dari diplomasi aktif Indonesia untuk memperkuat posisi nasional di tengah dinamika geopolitik global. Salah satu isu strategis yang turut mewarnai hubungan kedua negara adalah kerja sama di sektor energi, termasuk rencana impor minyak dan gas (migas) dari AS.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pembahasan rencana impor migas dari AS telah rampung. Pelaksanaannya kini tinggal menunggu kesepakatan terkait tarif AS.
“Seluruhnya kami sudah, risikonya kami sudah disampaikan dan mekanisme dengan KPK. Jadi mekanisme [impor migas AS] semua sudah siap,” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (28/1/2026).
Airlangga menjelaskan komoditas yang akan diimpor meliputi minyak mentah (crude), liquified petroleum gas (LPG), serta produk olahan kilang. Namun, ia tidak memerinci volume masing-masing komoditas.
“Kan energi kita sudah sering bahas, crude, LPG, dan refined products,” tegas dia.
Di kesempatan terpisah, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyambut baik kajian KPK terkait rencana penugasan PT Pertamina (Persero) untuk impor migas dari AS. Di mana Kementerian ESDM, akan menindaklanjuti temuan potensi risiko dan kolusi.
“Kalau dari Kementerian ESDM diminta untuk bagaimana menetapkan standar untuk produk dari impor,” kata Yuliot, Rabu (14/1/2026).
Yuliot berharap kajian tersebut dapat memitigasi risiko kebocoran anggaran dan praktik kolusi dalam pelaksanaan impor.
Pemerintah diketahui mendapat kompensasi penurunan tarif menjadi 19% dari 32%, karena defisit neraca AS dengan Indonesia.
“Itu makanya ada konsultasi dengan KPK, sehingga ada mitigasi terhadap kebocoran, pelaksanaan yang tidak tepat,” kata Yuliot.
Baca Juga : Luhut: Reformasi Bursa Berpotensi Tarik Rp1.179 T
Adapun skema impor migas dari AS direncanakan tidak melalui proses lelang atau bidding, melainkan menggunakan mekanisme transaksi business to business (B2B).
Melalui anak usahanya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Pertamina telah menandatangani tiga nota kesepahaman pengadaan feedstock minyak dan kilang dengan ExxonMobil Corp., KDT Global Resource LLC., serta Chevron Corp..
Selain Pertamina, impor migas dari AS juga akan melibatkan perusahaan swasta guna menyeimbangkan neraca dagang. Salah satu yang mencuat adalah PT Lotte Chemical Indonesia terkait rencana pembelian LPG dari AS.

[…] Didampingi Bahlil, Prabowo akan Bertemu Trump di AS […]