Investasi Hilirisasi Tembus Rp584 Triliun, Melonjak 43%
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi di sektor hilirisasi sepanjang 2025 mencapai Rp584,1 triliun. Nilai tersebut meningkat 43,3% dibandingkan capaian tahun sebelumnya dan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan investasi nasional.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengatakan investasi hilirisasi menyumbang 30,2% dari total realisasi investasi Indonesia selama 2025.
Baca Juga : OJK Ungkap Tantangan Berantas Judol di RI
“Realisasi investasi hilirisasi tahun 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3% dan berkontribusi 30,2% terhadap total realisasi investasi nasional. Sebanyak 71,1% di antaranya berada di luar Jawa,” kata Rosan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (15/7/2026).
Rosan mengungkapkan secara keseluruhan realisasi investasi Indonesia sepanjang 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun. Angka tersebut setara 101,3% dari target yang ditetapkan pemerintah dan tumbuh 12,7% dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan investasi tersebut juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Sepanjang 2025, realisasi investasi tercatat menciptakan sekitar 2,71 juta lapangan kerja, meningkat 10,4% secara tahunan.
Dari sisi sumber investasi, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp1.030,3 triliun, atau sekitar 53,4% dari total investasi nasional.
Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp900,9 triliun, setara 46,6% dari total realisasi investasi sepanjang tahun.
Baca Juga : Purbaya Ungkap Saatnya Beli Saham RI usai Rating S&P
Rosan juga menyoroti semakin meratanya penyebaran investasi di Indonesia. Lebih dari separuh realisasi investasi pada 2025 mengalir ke wilayah di luar Pulau Jawa.
“Dan lebih dari separuh mengalir ke luar Jawa, 51,3% atau Rp991,2 triliun, melampaui pulau Jawa. Ini melihat bahwa investasi yang kian merata di Indonesia,” katanya.
Menurut BKPM, tren tersebut menunjukkan bahwa pengembangan investasi dan hilirisasi tidak lagi terpusat di Pulau Jawa, tetapi mulai mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah lain di Indonesia.
