Iran Perluas Pengaruh di Timur Tengah, Tak Lagi Andalkan Hormuz
Iran dinilai mulai mendapatkan pengaruh lebih besar dalam perang melawan Amerika Serikat (AS) setelah serangkaian serangan bersama sekutunya memperluas konflik di Timur Tengah.
Jalur ekspor minyak dari kawasan tersebut semakin terbatas dan harga energi melonjak akibat konflik yang terus berlangsung.
Kondisi tersebut dinilai memberi Teheran ruang untuk kembali memperkuat pengaruhnya di kawasan.
“Keberhasilan Houthi di Yaman telah mengembalikan keseimbangan kekuatan ke pihak Iran,” kata analis senior di Eurasia Group, Gregory Brew, dikutip dari New York Times, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Brew, Iran berhasil mengubah status quo tanpa memicu kembali perang skala penuh yang kemungkinan tidak diinginkan rezim saat ini.
Baca Juga: Presiden Iran Sebut Teheran Tak Akan Menyerah ke AS
Houthi Ganggu Jalur Minyak di Laut Merah
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran merebut sebuah pulau di Laut Merah pada Jumat (11/9/2026).
Langkah tersebut memberi Houthi pijakan untuk mengganggu jalur pelayaran penting bagi pengiriman minyak dari Timur Tengah.
Iran diketahui mendukung Houthi dengan senjata, uang tunai, dan logistik.
Namun, para analis menilai Houthi bukan saluran langsung kepentingan Iran di Yaman dan juga tidak sepenuhnya independen dari pengaruh Teheran.
Harga minyak sempat mencapai sekitar 110 dollar AS per barrel pada Jumat, atau sekitar 50 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.
Kenaikan harga energi tersebut berpotensi menimbulkan tekanan politik bagi Presiden AS Donald Trump menjelang pemilu sela pada November.
Arab Saudi juga terdampak karena ekspor minyak negara tersebut anjlok pada bulan lalu ke level terendah dalam sedikitnya 13 tahun.
Sebuah pipa menuju pelabuhan Laut Merah Saudi juga ditutup sementara setelah serangan pesawat tak berawak dari wilayah Irak.
Ketidakmampuan AS memberikan jaminan keamanan penuh membuat Riyadh berada dalam posisi sulit.
Trump mengaku enggan melancarkan operasi militer baru melawan Houthi di Yaman dengan alasan kelompok tersebut tidak menginginkan pertempuran langsung dengan Washington.
Baca Juga: Boikot Produk Amerika di Kanada Bikin Supermarket Berubah
Iran Cari Pengaruh di Tempat Lain
Di sisi lain, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi sebelum perang.
Sejumlah kecil kapal baru dapat melintas dengan bantuan pengawalan angkatan laut AS.
Kondisi tersebut menunjukkan Iran kehilangan sebagian pengaruhnya di Selat Hormuz.
“Rezim tersebut sekarang berusaha merebut kembali pengaruhnya di tempat lain,” jelas pakar Iran dari Foundation for Defense of Democracies, Behnam Ben Taleblu.
“Strategi militer Iran bersifat eskalatif dan dapat diprediksi. Ini semua tentang eskalasi lintas domain bagi Teheran yang semakin berani mengambil risiko,” lanjutnya.
Iran juga meningkatkan serangan terhadap kapal perang AS di Teluk Persia.
Kepala Keamanan Iran, Mohsen Rezaei mengeklaim, negaranya telah menguji rudal baru untuk menghadapi kapal AS.
Militer AS merespons dengan menghancurkan beberapa kapal tanker minyak mentah Iran.
Tekanan Iran juga membuat negara-negara Teluk berada dalam posisi sulit.
Iran dan Oman dijadwalkan bertemu dengan negara-negara Teluk Persia lainnya untuk membahas Selat Hormuz.
Jika terlaksana, pertemuan tersebut dinilai dapat menjadi gambaran perubahan sikap negara-negara Teluk terhadap Washington.
“Pertemuan itu adalah cerminan kekecewaan mendalam di seluruh Teluk terhadap Washington dan kebijakan AS di kawasan tersebut,” ujar Danny Citrinowicz, pensiunan perwira intelijen Israel yang ahli dalam bidang Iran.
Menurutnya, negara-negara Teluk dipaksa memilih antara konfrontasi tanpa akhir atau pengakuan terhadap otoritas Iran atas selat tersebut dengan harapan dapat memulihkan stabilitas.
“Diplomasi Iran dengan negara-negara Teluk adalah contoh klasik dari tikaman dari belakang dan jabat tangan di depan,” tutur Taleblu.
“Teheran menghabiskan waktu berbulan-bulan menyerang negara-negara ini secara langsung dan tidak langsung serta menciptakan kondisi yang menyebabkan kerugian pendapatan yang besar dan ketidakmampuan untuk mengekspor minyak,” sambungnya.
