Jelang Trump-Xi Bertemu, Perang Dagang AS-China Kembali Memanas
Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas menjelang rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bulan depan.
Washington baru saja menerapkan kebijakan tarif baru terhadap polisilikon, bahan baku penting dalam industri semikonduktor dan panel surya yang sebagian besar pasokannya dikuasai China.
Baca Juga: Indonesia-China Gelar Latihan Laut, Taiwan Protes
Trump menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan tarif impor sebesar 15 persen sekaligus menetapkan harga minimum impor untuk polisilikon dan produk turunannya. Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada Desember 2026.
Langkah itu menjadi bagian dari upaya AS mengurangi ketergantungan terhadap China dalam rantai pasok teknologi strategis.
China diketahui menguasai lebih dari 90 persen produksi polisilikon dunia pada 2024. Dominasi tersebut menjadikan polisilikon salah satu komponen penting dalam persaingan teknologi antara Washington dan Beijing.
Mengutip laporan RT, Gedung Putih menyebut pangsa AS dalam kapasitas produksi polisilikon global merosot dari 50 persen pada 2005 menjadi kurang dari 2 persen pada 2024.
Penurunan juga terjadi pada industri wafer semikonduktor. Pangsa AS dalam kapasitas produksi wafer semikonduktor global turun dari 37 persen pada 1990 menjadi hanya 10 persen pada 2024.
China langsung mengecam kebijakan baru tersebut. Beijing menilai Washington telah memperluas konsep keamanan nasional secara berlebihan dan menggunakan kekuasaan negara untuk kepentingan perdagangan.
“Langkah AS tersebut secara serius mengganggu perdagangan normal dan pertukaran ekonomi antara perusahaan China dan AS,” kata juru bicara Kedutaan Besar China Liu Chang kepada South China Morning Post (SCMP), dikutip Selasa (13/8/2026).
“Kebijakan proteksionisme tidak akan membuat AS menjadi lebih kompetitif,” tambahnya.
Kebijakan Trump tersebut muncul sehari setelah China mengumumkan sejumlah langkah balasan terhadap AS. Beijing memperketat kontrol ekspor drone dan teknologi terkait, menjatuhkan sanksi terhadap tujuh perusahaan AS, serta melakukan tinjauan keamanan nasional terhadap impor yang berkaitan dengan perdagangan luar negeri.
China menyebut kebijakan tersebut sebagai respons terhadap pembatasan terbaru yang diberlakukan AS terhadap perusahaan dan produk asal China.
Sebelumnya, Washington telah memperketat pembatasan terhadap chip kecerdasan buatan (AI) canggih, peralatan manufaktur semikonduktor, drone, kendaraan terhubung, serta sejumlah teknologi strategis lainnya.
Baca Juga: Pertalite akan DIbatasi untuk Desil 9-10, Siapa?
Di sisi lain, Beijing terus memanfaatkan kontrol ekspor mineral penting dan pembatasan terhadap sejumlah perusahaan AS sebagai alat tawar dalam menghadapi tekanan Washington.
Eskalasi terbaru terjadi menjelang rencana pertemuan Trump dan Xi Jinping di AS pada bulan depan.
Dengan kedua negara semakin aktif menggunakan tarif, kontrol ekspor, sanksi, hingga pembatasan investasi, persaingan AS-China kini tidak lagi hanya berpusat pada perdagangan barang, tetapi semakin merambah sektor teknologi dan rantai pasok strategis.
