Iran Disebut Tahu Lokasi Trump di Turkiye, AS Diam-diam Ganti Pesawat
Ancaman Iran terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memicu pergantian pesawat kepresidenan saat kunjungan ke Turkiye pada Juli lalu disebut jauh lebih serius dari yang sebelumnya diketahui publik.
Menurut dua pejabat AS yang mengetahui informasi tersebut, intelijen mendapatkan informasi mengenai ancaman spesifik berupa rudal permukaan-ke-udara yang dapat digunakan untuk menyerang Air Force One.
Ancaman tersebut muncul pada hari terakhir Trump menghadiri KTT NATO di Turkiye pada 8 Juli 2026.
Salah satu pejabat mengatakan, seseorang di sekitar lokasi KTT bahkan sempat terlihat membawa rudal yang dapat ditembakkan dari bahu.
Baca Juga: Ini Pesan China, Beijing-RI Gelar Latihan Militer di Timur Taiwan
Iran Disebut Tahu Lokasi Trump Menginap
Selain ancaman terhadap pesawat, Iran disebut mengetahui secara rinci lokasi Trump menginap selama berada di Ankara.
Menurut pejabat AS, pihak Iran mengetahui hotel tempat Trump menginap, bahkan hingga lantai gedung yang ditempati presiden AS tersebut, dikutip dari New York Times, Selasa (11/8/2026).
Para pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim karena membahas informasi intelijen terkait ancaman terhadap presiden.
Informasi tersebut dinilai cukup kredibel sehingga Trump dan pejabat senior pemerintahannya mengambil langkah pengamanan yang tidak biasa untuk meninggalkan Turkiye.
Trump sempat terlihat menaiki Air Force One yang lebih tua di depan kamera. Pesawat tersebut sebelumnya telah diumumkan akan digunakan untuk mengenang sejarah penerbangan kepresidenan.
Namun, setelah itu Trump diam-diam meninggalkan Turkiye dengan menggunakan jet militer. Perpindahan tersebut dilakukan dengan cara yang dirancang untuk mengalihkan perhatian publik.
Trump disebut keluar menggunakan kontainer katering bandara sebelum kemudian menaiki pesawat militer untuk meninggalkan negara tersebut.
Baca Juga: Pajak Pedagang Online Ditunda Purbaya sampai Ekonomi Tumbuh 6 Persen
Israel Beri Informasi Ancaman kepada Pemerintahan Trump
Pejabat AS juga mengatakan Israel memberikan pengarahan kepada pemerintahan Trump mengenai informasi intelijen terkait ancaman tersebut.
Informasi itu mencakup dugaan rencana penggunaan rudal permukaan-ke-udara untuk menargetkan pesawat yang membawa Trump, termasuk Air Force One, sebagaimana dikutip dari The Wall Street Journal, Selasa.
Sejumlah pejabat senior Trump tetap berada di Air Force One, termasuk Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Namun, tidak ada rudal yang ditembakkan ke pesawat mana pun selama kejadian tersebut.
Pejabat AS menyebut kejadian itu menjadi pertama kalinya selama masa kepresidenan Trump dilakukan upaya pengalihan perhatian serupa untuk melindungi dirinya.
Pada saat itu, petugas Secret Service menilai langkah luar biasa diperlukan untuk memastikan keselamatan Trump.
Trump kemudian memberikan tanggapan publik pertamanya mengenai insiden tersebut setelah kembali dari sebuah acara di Ohio pada Selasa malam.
“Itu sepenuhnya terserah Secret Service,” kata Trump kepada wartawan.
“Saya hanya mengikuti apa yang ingin mereka lakukan. Jadi saya mengikuti Secret Service dan militer. Mereka ingin saya naik penerbangan yang berbeda, pesawat yang berbeda demi keselamatan,” sambungnya.
